Hingga mata kami bertemu, dan aku merasakan sesuatu yang aneh, membuatku memalingkan muka. Lalu tiba-tiba hanya ada sedikit jarak antara kami dan dia telah mengurungku di sudut.
SHARLENE:"Waah! Apa yang kau rencanakan! Kumohon jangan lepaskan aku! Jangan lepaskan aku! Huhuhu!"Aku berkata demikian lalu menutup mata karena takut.
Lalu tiba-tiba, aku merasakan wajahnya ter buried di bahuku.
SHARLENE:"Waaaahh! Jauhkan dirimu dariku! Jauhkan dirimu! Waaah!"Aku berteriak.
Tapi dia tidak bergerak lagi dan aku hanya merasakan berat badannya. Aku mendorongnya tapi dia tetap tidak bergerak.
Dia juga terlihat seperti habis minum karena aku bisa mencium bau alkohol darinya. Jadi, apa ini? Apakah dia benar-benar pingsan? Apa yang harus dilakukan?
SHARLENE:"Eomeo! Ya! aleumdaun saengmul! jebal il-eona an geuleomyeon gang-ganhagessseubnida!"
(terjemahan: Astaga! Hei! Makhluk cantik! Tolong, bangun atau aku akan memperkosamu!)
Aku berkata demikian, dan rasa gugup yang kurasakan sebelumnya telah digantikan oleh rasa jengkel.
Aku merasakan dia bergerak sedikit, yang membuatku gugup lagi karena dia mungkin mendengar apa yang kukatakan.
Apakah dia mengerti apa yang kukatakan? Yah, dia agak mirip orang Korea. Tapi kalau memang dia orang Korea! Oh tidak! Huhu! Aku hanya bercanda.
SHARLENE:"Hehe, cuma bercanda, bro! Tapi, bisakah kau bangun? Ini bukan rumahmu!"Kataku sambil mengguncangnya dari posisi jongkoknya di bahuku.
Setelah satu menit, dia benar-benar kehilangan kesadaran. Itu taktik yang bagus! Ini masalah!
Jadi aku memaksanya berbaring di sofa dan untungnya aku berhasil melakukannya meskipun dia sangat berat.
Lalu, aku menatapnya dengan saksama!
Ya ampun! Apakah dia manusia? Dia terlihat sangat tidak realistis. Dia memiliki fitur wajah yang sempurna yang akan membuatmu berhenti dan menatapnya.
Bahkan bibirnya, seperti sar--
SHARLENE:"Ani, ani, ani! (Tidak, tidak, tidak!) Apa yang dikatakan otakku padaku!"Kataku sambil menampar diriku sendiri.
Sungguh, kurasa aku terhipnotis oleh makhluk di depanku. Sampai-sampai mataku terpaku padanya.
Dan perlahan, dadaku tiba-tiba berdebar kencang. Aku tahu itu bukan karena rasa gugup yang kurasakan sebelumnya.
Aneh memang, tapi detak jantungku ini terasa familiar. Aku pernah merasakan hal ini sebelumnya.
Aku hanya menghela napas sambil memukul dadaku pelan untuk menenangkan diri.
Dan karena itu, aku merasa sedih lagi. Kenangan yang coba kulupakan kembali membanjiri pikiranku.
*diiiiiiinnnnnnggggg dooooonnnnngggg*
Aku tiba-tiba terkejut ketika bel pintu berdering lagi dan aku tahu itu adalah kiriman sungguhan.
#JamSwitrivalStories
