"Ngapain kesini hm..?” Aku sedikit terkejut, cara menatap dan berbicaranya sungguh berbeda saat dia berhadapan denganku tadi.
"Lagi pengen kesini aja. Oh iya, Meva ya?” Tunggu dulu! Sebenarnya siapa sih perempuan ini? Aku bahkan belum memperkenalkan diriku. Dia Mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman, ku ulurkan tanganku juga untuk membalas ajakannya.
“Iya, kamu?” dia terlihat sedikit menahan tawanya mendengar perkataanku.
"Loh perubahanku sebesar itu sampai kamu lupa wajahku? Aku Lena. Alena.” Aku sedikit tersentak, seketika tanganku tremor, sekelebat peristiwa yang tak ingin aku ingat kembali terlintas di benak ku.
Aku masih belum bisa berdamai dengan trauma ku sendiri di masa lalu dan sekarang aku harus menghadapi pelaku nya yang terpampang nyata dihadapan mataku. Ku lihat seringaian tipis muncul dari wajah Lena, seringaian yang sama saat terakhir kali dia menghajarku habis-habisan. Entah bagaimanapun caranya aku harus keluar dari situasi ini.
Ponsel disaku celanaku bergetar, membuyarkan lamunanku dan segala perasaan yang hampir tak terbendung ini. Aku merogohnya, nomor tak dikenal.
“Bentar ya, ada telfon nih.” Aku segera berjalan cepat keluar tempat makan setelah mendapat balasan anggukan dari mereka.
“Halo? Selamat siang. Dengan siapa ya?”
"Suaramu bagus sekali. Kalau aku yang bicara seperti itu, pasti terdengar seperti suara anjing. Oh ya! Mev! Cepat! Aku bersumpah aku sangat gugup dengan klienmu. Mulai sekarang, desainku sama sekali tidak memenuhi harapannya!" Ah... ya. Aku meninggalkan rekanku dengan klien yang cukup merepotkan.
“Sehun?? Kenapa ga pake nomer lu aja sih?” Aku cukup jengkel dibuatnya, padahal hanya mengobrol denganya melalui sambungan telepon. Akan lebih menjengkelkan jika mengobrol dengannya secara langsung, aku harus ekstra menahan bibirku agar tak mengeluarkan kata umpatan padanya.
"Lah, lu ga simpen nomor butik lu sendiri? Gila. Parah sih.” Satu hal lagi dia termasuk orang yang cukup hiperbola, entah kenapa aku bisa berteman dengannya.
“Haish… Iya gua kesana sekarang!” Ku matikan sambungan teleponnya sepihak, aku sudah tak kuat lagi mendengar ocehannya jika telfon nya tetap tersambung. Aku langsung memesan taksi dan menghampiri meja tempatku duduk tadi.
“Sorry banget, tiba-tiba ada kerjaan. Mendesak banget, aku duluan ya!” Aku segera menuju kasir dan membayar makanan yang aku dan Chanyeol pesan tadi. Sekilas kulihat Chanyeol mengulurkan tangannya yang sepertinya akan mencegahku untuk pergi duluan. Meskipun percuma, tapi aku tetap senang dia memiliki niatan untuk menceghaku. Aku berlari menuju tempat parkir, ternyata taksi yang ku pesan sudah datang.
Hah…. Sebenarnya aku cukup bersyukur karena Sehun menelepon ku tadi, jika tidak aku akan terjebak dengan perempuan itu. Entah bagaimana jadinya jika aku tetap bersamanya. Aku cukup kaget dibuatnya saat Chanyeol dengan senang hati menawarkan pundaknya untuk Lena, yang notabenenya dia dulunya adalah orang yang merundungku dan Chanyeol sangat membencinya.
Terlalu banyak hal yang ku lewatkan. Setidaknya aku menjadi lebih paham seberapa jauh jarak ku dengan Chanyeol. Enam tahun berlalu tidaklah lama bukan? Aku merasa menjadi satu-satunya orang yang masih terjebak pada masa lalu, aku merasa mereka hebat dalam melupakan kenangan yang tidak ingin mereka ingat.
Taksi yang kupesan berhenti tepat didepan butik berinterior dinding warna putih serta sedikit aksen emas yang menamabah kesan elegan. Butik ini milik ku, aku sudah membuka beberapa cabang diluar negri dan ini cabang utama ku di Indonesia. Aku turun dari taksi berwarna oranye itu setelah membayar. Segera setelah itu aku langsung menemui Sehun dan klien yang agak merpotkan itu. Sepertinya hari-harinya di Indonesia cukup membuatnya harus pergi ke psikiater.
“Selamat siang, mungkin saya bisa membantu….
** *
• 18:35
Yang kuinginkan saat ini adalah sofa diruang tengah, semangkuk popcorn,selimut tebal, serta film Netflix yang sedang di putar pada televisi layar lebar yang ada di ruang tengah apartemenku. Tapi tubuhku tak mau bergerak dari kasur dan tanganku hanya bisa menjangkau telepon genggam di nakas. Aku terlalu malas untuk menyiapkan semua yang kuinginkan tadi. Alhasil aku hanya men-scroll social media, padahal banyak pekerjaan menumpuk sedang menungguku.
Satu pesan muncul dalam pop-up layar telepon genggam ku. Chanyeol. Dia mengirimiku pesan? Tiba-tiba saja aku teringat peristiwa siang tadi bersama Chanyeol dan Lena, aku tak habis pikir bagaimana bisa mereka begitu dekat satu sama lain.
┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Chanyeol
Bisa ketemu lagi?
OK! Di mana? Kapan?
Chanyeol
Besok, kirimi aku alamat butik mu ┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Entah mengapa aku merasa bersemangat setelah mendapatkan pesan sesingkat itu darinya, aku bangkit dari kasur lalu bergegas pergi ke dapur untuk membuat makan malam setelah memberikan alamat butikku pada Chanyeol. Kubuka bungkusan mie instan dan merebusnya bersama dengan telur. Kudengar seorang dari luar apartemenku menekan tombol pin pintu apartemenku.
"Nyet! Gua bawa ayam nih. Awas ya lu bilang lagi diet. Gua pesennya sampe melewati lembah menyebrangi lautan nih.” Suara ini… suara… orang yang ingin aku hilangkan dari dunia ini. Entah roh apa yang membawanya, tiba-tiba Sehun datang. Kedatangannya bagiku sudah seperti Jailangkung, datang tak diundang pulang tak diantar.
Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi siang. Karena sikapnya yang kelewat sopan itu aku kelihangan salah satu klien berharga ku. Ku hampiri Sehun yang sudah mendudukkan dirinya pada sofa dengan santainya di ruang tengah lalu memukulinya. Entah mengapa setiap bersamanya tanganku menjadi ringan untuk diayunkan ke segala arah.
“Aw! Aw! Iya, iya, maaf… Lu kenapa sih?” Ku hentikan pukulanku. Aku berdiri di hadapannya lalu menaruh kedua tanganku di samping pinggang.
“Kenapa?! Lu bilang kenapa?!” Kulayangkan tanganku sekali lagi untuk memukulnya. Dengan cepat Sehun menarik tanganku dan menarikku ke dalam dekapannya.
"Nona! Lepaskan! Lep—"
“Iya gua lepasin, tapi nanti dulu.” Aku memberontak, berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
“Bi! Gue itung satu sampai tiga. Kalo lu gak lepasin, gua ga akan perpanjang kotrak sama lu lagi!” Sehun semakin mengeratkan dekapannya padaku, memisahkan jarak diantara kami.
“Satu!”
“Maaf.” Aku terdiam cukup lama. Baru kali ini aku mendengar permintaan maaf darinya se-serius ini. Biasanya, jika dia membuat kesalahan yang sampai membuatku naik pitam seperti ini, dia akan meminta maaf sambil lalu atau tak meminta maaf sama sekali. Sehun melepaskan dekapannya. Suasana berakhir cukup canggung antara aku dan Sehun
"Ekhm... ngomong-ngomong, kamu memanggilku bi loh."
“Iya, babi maksud gua. Mau nonton apa?” Sehun mem-pout kan bibirnya setelah mendengar ucapanku. Aku duduk di samping Sehun, tanganku sibuk menekan tombol remote mencari-cari film yang sedari tadi bergulir di layar televisi.
“Apa aja, asalkan jangan horror.” Ucap Sehun agak ketus.
“Oke! Sihir!”
“Tuh kan! Ih pulang aja dah gua kalo begini, ga asik lu.” Sehun melipat kedua tangannya di depan dada, memberikan raut wajah tidak setuju atas pilihanku.
"Dih! Pulang ya pulang aja. Ayamnya buat gue tapi.” Sehun kembali duduk mennghadap layar televisi sembari memangku sekotak ayam goreng dengan tenang.
"Nggak jadi pulang?”
"Enggak, gua mau bantu makan ayam. Entar kalo lu gemuk gue lagi yang di salahin.” Sehun mengalihkan pandangannya pada film yang baru saja ku putar di televisi. Aku paling suka saat menggodanya, dia cukup menggemaskan saat marah. Apa aku tadi bilang menggemaskan?

Bersambung~~
❗ERI!!! Jangan lupa vote untuk Suho di Kontes Artis Solo Terbaik❗(。•̀ᴗ-)✧
