Hati Merah
Bab 4: Tarian di Antara Bayangan

SunshineSolace
2025.03.29Dilihat 2
Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah rasa ingin tahu belaka. Hanya itu. Tidak lebih. Tapi dia tahu yang sebenarnya.
---
Keesokan paginya, Alaric mendapati dirinya berada di kafe itu lagi, tempat yang sama di mana ia pertama kali bertemu Alistair. Itu bukan disengaja—setidaknya, itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri. Ia hanya membutuhkan tempat untuk menjernihkan pikirannya, dan kafe ini kebetulan menyajikan kopi hitam terbaik di kota.
Begitu melangkah masuk, aroma biji kopi panggang yang familiar menyambutnya. Ia memesan dan hendak duduk ketika sebuah suara memanggilnya.
“Wah, wah, lihat siapa ini, pria misterius favoritku.”
Alaric menoleh dan melihat Alistair menyeringai padanya dari meja di dekatnya. Pria itu berpakaian santai dengan kemeja berkancing dan celana jins, secangkir kopi panas di depannya. Dia memberi isyarat ke arah kursi kosong di seberangnya. "Mau bergabung denganku?"
Alaric ragu sejenak sebelum menghela napas dan duduk. "Sepertinya kau menikmati menguji kesabaranku."
Alistair terkekeh. “Bukan pengujian. Mengamati.”
Alaric mengangkat alisnya. "Mengamati?"
“Ya. Kau membuatku penasaran, Kaelen.”
Mendengar nama depannya disebut oleh Alistair, ia merasakan sensasi aneh—sensasi yang ia pilih untuk abaikan.
“Kamu sepertinya bukan tipe orang yang suka bersosialisasi, tapi di sini kamu bertemu denganku dua kali. Entah takdir punya selera humor, atau kamu diam-diam tertarik untuk mencari teman baru.”
Alaric menyesap kopinya perlahan sebelum menjawab. “Aku tidak percaya pada takdir.”
“Ah, seorang realis.” Alistair mencondongkan tubuh ke depan. “Kalau begitu, katakan padaku, apakah kau percaya pada kebetulan?”
Alaric membalas tatapannya, tajam dan tak tergoyahkan. "Tidak."
Untuk sesaat, keduanya terdiam. Suara-suara di kafe—percakapan yang berbisik, dengungan mesin espresso—memudar menjadi latar belakang.
Lalu, Alistair tersenyum. “Kau pria yang menarik, Kaelen.”
“Kau mengatakannya seolah itu hal yang baik.”
“Oh, benar sekali. Membuat hidup tetap menarik.”
Alaric menggelengkan kepalanya, tetapi tanpa disadari, ia merasa geli dengan kata-kata Alistair.
---
Malam itu, Alaric berada di studio fotografinya, meninjau beberapa foto terbaru. Ia sedang mengerjakan koleksi yang menampilkan lanskap perkotaan—bayangan yang terpantul pada gedung-gedung tinggi, cara lampu kota menerangi jalanan yang kosong. Namun, saat ia menelusuri rol kameranya, ia menyadari sesuatu.
Tanpa disadari, ia telah mengambil foto Alistair.
Ada beberapa foto candid dari kafe—cara cahaya menerpa wajahnya, momen ketika dia tertawa karena sesuatu. Alaric mengerutkan kening, ibu jarinya melayang di atas tombol hapus.
Namun, dia tidak mendesaknya.
Sebelum ia sempat memikirkannya lebih lanjut, ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. Ia menghela napas, sudah menduga siapa yang datang.
Saat ia membuka pintu, Historia berdiri di sana dengan tatapan penuh harap. “Kau telah menghindariku.”
“Aku sibuk,” jawab Alaric sambil minggir untuk mempersilakan wanita itu masuk.
Historia duduk di sofa, menyilangkan kakinya. "Mungkin sedang sibuk memikirkan manusia itu?"
Alaric menegang tetapi segera menyembunyikannya. "Apa yang membuatmu mengatakan itu?"
Historia menyeringai. “Karena aku mengenalmu, adikku. Kau tidak pernah membiarkan siapa pun mendekat. Tapi tiba-tiba, kau bertemu dengan pria ini dua kali, dan aku seharusnya percaya itu bukan apa-apa?”
Alaric menghela napas. "Tidak masalah."
Historia mengamatinya sejenak. Kemudian, yang mengejutkannya, sikapnya melunak. “Kau tahu, tidak apa-apa untuk membiarkan orang lain masuk ke dalam hidupmu, Kaelen. Bahkan manusia.”
Tatapan Alaric menjadi gelap. "Kau tahu, ini tidak semudah itu."
Dia menghela napas. “Aku tahu. Tapi mungkin… untuk kali ini saja, jangan terlalu dipikirkan?”
Alaric tidak menjawab, tetapi Historia tidak mendesaknya lebih lanjut. Ia memberinya tatapan penuh arti sebelum mengganti topik pembicaraan ke sesuatu yang kurang rumit.
---
Keesokan harinya, Alaric mendapati dirinya berada di toko buku yang sudah dikenalnya—toko buku yang sama tempat ia dan Alistair bertemu sebelumnya. Namun kali ini, ia berada di sana sendirian.
Setidaknya begitulah yang dia pikirkan.
“Aku mulai berpikir kau benar-benar mengikutiku,” suara Alistair terdengar dari belakangnya.
Alaric menoleh, ekspresinya datar. "Aku bisa mengatakan hal yang sama padamu."
Alistair menyeringai, melangkah lebih dekat. "Tepat sekali."
Sejenak, keheningan menyelimuti mereka. Kemudian, Alistair berbicara lagi, nadanya lebih serius. “Apa yang begitu kau takuti?”
Alaric berkedip, terkejut. "Permisi?"
“Kau menjaga jarak, tapi aku tahu kau penasaran denganku. Jadi mengapa ragu-ragu?”
Rahang Alaric menegang. Dia bisa merasakan beban rahasia berabad-abad menekan dirinya. Sebenarnya, dia tidak mampu untuk dekat. Tidak dengan manusia. Tidak ketika dunianya dibangun di atas tipu daya.
Namun, saat menatap mata Alistair, ia menyadari sesuatu yang mengerikan.
Dia tidak yakin apakah dia masih ingin menjaga jarak.