Sehari Bersamamu

1

"Gimana? Udah belum?" 

Jay menghembuskan nafas kasar. Dirinya lelah. Entah mau sampai kapan masalah tetap berlanjut.

"Saya sudah berbicara dengannya dengan baik-baik, tetapi tampaknya tidak ada gunanya. Apakah pihak lain benar-benar harus menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah ini?"

Heksa tersenyum kaku. "Itulah yang kurasakan sebelumnya."

"Tapi aku lebih buruk," kata Jay.

"Ya, memang benar. Menurutmu, kaulah pemimpin kelompok ini. Seandainya aku adalah pemimpin osis..."

"Kamu hanya berada di sekolah, aku mengintai di luar," tambah Jay.

"Ya Jay, aku tahu," kata Heksa.

Saat ini mereka sedang berada di sebuah warung yang biasa dijadikan tempat nongkrong kalau sedang berada di sekolah. Letak warung tidak jauh dari sekolah membuat pelajar semacam Jay ini sering mengunjungi nya. Selain makanan nya murah dan enak, warung ini juga sangat nyaman makanya Jay memilih warung ini sebagai basecamp kecil mereka.


"Jadi? Kamu serius? Aku baru tahu kalau Jea dan Beomgyu putus?"

"Udah lama kali gobslog, lo kemana aja? Bahkan sampe Jea di deketin beberapa temen seangkatan plus kakak kelas." 

"Tentu saja. Jea cantik."

"Cantikan temen nya"

"Lo bilang itu karna lo naksir temen nya. Siapapun yang gue tanya cantikan siapa, pasti jawab nya cantikan Jea. Cantik ga ada obat" 

"Suka? Ini jebakan"

Sambil menggelengkan kepala dan tersenyum sedih, "Aku hanya melihat siapa yang memperjuangkannya dan aku mengalah."



Heksa dan Jay mendengar kata-kata dari anggota mereka. Semuanya.

Tentu saja Jay tau siapa Jea itu. Gadis yang selama ini berbeda dengan gadis lain nya. Jika gadis lain berlomba-lomba untuk mendapatkan seorang Jay tapi Jea beda, bahkan jika bertemu pun seperti orang asing, walaupun memang nyatanya mereka adalah orang asing(?)

"Kenal Jea, Hes?" Tanya Jay 

"Kenal lah. Mantan gebetan gue" 

Jay menatap Heksa terkejut. Pasal nya Heksa ga ada cerita apa apa tapi bilang kalau si primadona adalah mantan gebetan nya. Shock terkejut.

"Dasar babi! Kenapa kau tidak memberitahuku?"

"Apa yang kau lakukan? Aku ingin mengatakan bahwa ini sudah resmi. Ini bahkan belum resmi, aku sudah marah," kata Heksa.

"Kok bisa lo jadi mantan gebetan dia?" Tanya Jay penasaran. Temen nya satu ini kalau ada apa apa emang suka ga cerita, tunggu ditagih dulu ceritanya baru Heksa mau cerita. 

"Awalnya kami berteman di SMP. Lalu aku tidak tahu bahwa kami akan bertemu lagi di SMA, dan ketika aku pulang sore hari karena rapat OSIS, ternyata dia juga terlambat, jadi aku mengajaknya pulang bersamaku karena tidak ada yang menjemputnya. Dari situ, aku jadi dekat dengannya," jelas Heksa sambil mengenang masa lalu, di awal kedekatannya dengan Jea.

Indah rasanya. Tapi Heksa yakin, Jea bukan yang terbaik untuk nya. Masih ada sosok lain yang disediakan untuk nya. Heksa yakin itu.

"Kok bisa selesai?" Tanya Jay lagi, ia masih penasaran dengan Heksa dan Jea, sungguh.

"Tidak apa-apa. Aku membiarkannya pergi. Dia juga merasa tidak nyaman denganku, daripada saling menyiksa lebih baik berhenti saja. Benar kan?"

Jay mengangguk. "Urusan cinta ribet. Itu alesan nya gue ga pernah pacaran sekalipun"

"Hidup lo terlalu hitam putih. Mumpung lo masih SMA mending bikin hidup lo berwarna." Kata Heksa 

"Gimana?"

"Berwarna bukan berarti lo harus bikin kenangan ini itu, bandel, segala macem begitu lah. Dalam artian beda, kaya friendship lo atau relationship lo"

Jay mengangguk. "Ya, aku mengerti. Kau mengajakku berkencan, kan?" tebak Jay, membuat Heksa terkekeh.

Tebakan Jay benar. Sesuai maksud dari perkataan Heksa. 

"Mau kukenalkan? Aku punya banyak pacar?" Hexa Bargain

Jay menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau dan aku tidak akan pernah mau."

"Kau yang masih jomblo, aku yang khawatir. Aku hanya ingin mencari pasangan," kata Heksa dengan marah.

Jay menghela nafas. Kemudian bangkit dari duduk nya membuat Heksa bertanya tanya. "Mau kemana lo?"

"Balik sekolahan."

"Tumben(?)"

"Pengen tobat"

Heksa mendecih sinis. "Besok nya juga maksiat lagi lo" 

Jay terkekeh kecil. 






Bersambung...