Jay yang sedang menulis catatan belum kelar, ia mendongak, melihat siapa yang mengajak nya berbicara.
"Iya. Ada apa?"
"Gue Jea. Suruhan dari pak Doobu buat ngajarin lo selama seminggu. Lo ada dikasih tau tentang ini?" Kata Jea memperkenalkan diri dan maksud dari dirinya mendatangi lelaki bernama Jay yang statusnya ketua angkatan.
Jay mengangguk pelan. Kemarin, guru nya itu memberi tau bahwa ada siswi yang akan menjadi tutor nya selama seminggu. Jika ada peningkatan, maka tutor diselesaikan secepatnya. Jika tidak, maka Jea harus bertahan bersama Jay dalam waktu beberapa hari lagi.
"Baiklah, aku hanya ingin memberitahumu itu. Jadwalkan setiap sepulang sekolah di perpustakaan."
Jea ingin melangkahkan kaki pergi dari sana, tapi sebuah tangan mencekal pergelangan tangan nya, menahan supaya tidak pergi. Jea melirik sekilas ke tangan tersebut. Siapa lagi kalau bukan Jay orang nya?
"Kenapa?" Tanya Jea, membalikkan tubuh kembali menghadap Jay 100%
"Jangan pulang sekolah. Gue ada urusan" Kata Jay, ia melepaskan cekalan nya pada tangan Jea.
"Lalu kapan? Saya tidak punya banyak waktu."
"Ya, kalau kamu masih keras kepala, pulang saja dari sekolah. Apa kamu benar-benar mau menunggu sampai aku selesai urusanku?" tanya Jay untuk memastikan.
"Lama?"
Jay berpikir sejenak, lalu dia menjawab.
"Ngga terlalu"
Jea menghela napas pelan. "Baiklah, aku akan menunggu asalkan tidak terlalu lama. Di mana tempatnya? Perpustakaan tutup jam empat. Jika kau menunggu sampai urusanmu selesai, lalu minta tutor yang ada di sana nanti untuk mengunci pintu," kata Jea.
"Eum... di rumahku? Apa kau keberatan? Tenang, aku akan mengantarmu pulang."
Jea menekukan alis nya. Agak tidak setuju dengan usulan Jay. Tapi kalau bukan begitu, dimana lagi? Belajar di caffe? Mana bisa. Jea tidak fokus jadinya nanti.
Huft. Kalo bukan karna tambahan nilai hukuman dari remedial Jea, Jea tidak mau melakukan ini, menjadi tutor dari si ketua angkatan.
"Rumah lo? Jauh dari sekolah ga?" Tanya Jea
Jay menggeleng. "Ga terlalu. Cuma 15 menit dari sekolah"
"Oke."
"Kesepakatan di rumahku?"
Jea mengangguk penuh percaya diri. Bodoh, yang penting dia telah melaksanakan perintah gurunya.
"Baiklah? Aku duluan," kata Jea.
Tapi lagi-lagi pergi nya gagal karna Jay menahan (lagi)
"Ada apa lagi?" Jea menatap Jay malas.
Jay menyodorkan ponsel mahal nya kepada Jea yang di respon muka bingung.
Merasa Jea diam saja, Jay melanjutkan bicara nya. "Minta kontak lo. Kalo ada apa-apa gue jadi gampang ngehubungin lo nya" Ucap Jay
Jea tak masalah. Ia memberikan line nya kepada Jay. Menerima sodoran handphone, lalu mencari aplikasi hijau disana. Dan Jea beralih ke tombol add friend yang mengharuskan melihat roomchat Jay yang kebanyakan dari cewe tapi tidak satupun yang dibalas. Jea sungguh tidak sengaja membaca nya.
setelah mengetikan idline disana, ia mengembalikan handphone mahal tersebut ke pemilik nya.
"Saya sudah menambahkan baris saya."
"Sangat"
"Ga ada lagi kan?"
Jay menggelengkan kepalanya. "Ayolah."
"Baiklah, aku pergi. Jangan pegang tanganku lagi."
Jay terkekeh singkat. "Ngga"
–
"Pulang sama siapa Je?"
"Eum... ga tau"
"Lalu kenapa kamu tidak tahu? Bagaimana denganku?"
"Tidak, saya ada urusan." Jea menolak dengan sopan.
"Baiklah, kalau ada sesuatu, beritahu aku. Aku tidak keberatan."
Jea mengangguk saja. Biar cepet kelar.
Kelas udah selesai sejak sepuluh menit yang lalu. Tapi Jea masih bingung, ini kemana? Dia kan masih ada urusan sama Jay. Terus ke rumah lelaki itu gimana?
Mana Jea tidak sempat meminta kontak Jay. Kan kalo begini dia nya yang susah. Ah, tapi Jea baru ingat kalo Jay pasti punya instagram?
Jea pun membuka aplikasi yang terkenal itu, ia ke kolom pencarian lalu mengetikan nama Jay disana.
Dan, yap! Jea menemukan nya.
@jay_p
Segera Jea nge-DM akun berusername jay_ptersebut.
jay_p
permisi
gue Jea
lo dimana?
Butuh waktu lama untuk menunggu balasan dari Jay. Mungkin lelaki itu masih sibuk dengan urusan nya.
15 menit kemudian, layar handphone Jea menyala, menampilkan sebuah notifikasi dari balasan DM instagram, siapa lagi kalau bukan dari Jay?
jay_p
permisi
gue Jea
lo dimana?
masih di lokasi
lo di kelas?
tunggu 10 menit, gue ada di depan halte
Oke
hanya balasan singkat yang Jea ketik. Ia bingung mau balas apa lagi.
Tidak terlalu buru-buru, Jea menunggu Jay sambil merapikan isi tas nya. Setelah ia rasa sudah rapi, barulah Jea berjalan menuju halte yang berada di depan sekolah.
–
Bersambung....
