Gema Masa Depan
Gema Masa Lalu

Alanzi
2024.05.29Dilihat 2
Atlas sudah mulai bekerja ketika Pharita tiba di bengkel. Ia mendongak dari tumpukan cetak biru dan peralatan yang rumit, lalu tersenyum tipis. "Selamat pagi, Pharita. Siap untuk hari penemuan lainnya?"
Pharita mengangguk antusias. "Tentu saja. Apa agenda kita hari ini?"
Atlas menunjuk ke sebuah perangkat baru yang sedang ia rakit. Perangkat itu tampak seperti cermin besar berornamen yang dikelilingi oleh roda gigi dan kabel yang rumit. "Ini adalah pemindai resonansi. Alat ini dirancang untuk menganalisis dan menafsirkan pola energi di dalam artefak. Dengan alat ini, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang asal usul dan tujuannya."
Mata Pharita membelalak karena kegembiraan. "Kedengarannya luar biasa. Bagaimana cara kerjanya?"
"Dengan memainkan frekuensi tertentu melalui synthesizer harmonik, kita dapat menciptakan gelombang resonansi yang akan dipantulkan dan dianalisis oleh perangkat ini," jelas Atlas. "Ini sedikit mirip dengan menggunakan alat musik untuk mengungkap nada-nada tersembunyi dalam sebuah lagu."
Mereka mulai bekerja, dengan Pharita memainkan synthesizer dan Atlas menyempurnakan pemindai resonansi. Prosesnya rumit, membutuhkan koordinasi yang tepat antara musik yang dimainkan Pharita dan penyesuaian yang dilakukan Atlas pada pemindai. Saat nada pertama bergema di ruangan, cermin mulai berkilauan, memantulkan pola cahaya dan warna.
"Berhasil," kata Atlas, suaranya penuh kegembiraan. "Terus mainkan, Pharita. Kita perlu mempertahankan resonansinya."
Pharita berkonsentrasi penuh, jari-jarinya bergerak luwes di atas synthesizer. Pola-pola di cermin menjadi semakin kompleks, membentuk bentuk dan simbol rumit yang seolah menceritakan sebuah kisah. Tiba-tiba, serangkaian gambar melintas di permukaan cermin—sebuah kota kuno yang luas dipenuhi bangunan-bangunan menjulang tinggi dan taman-taman yang rimbun, orang-orang bergerak anggun di jalanan yang dipenuhi musik dan cahaya.
"Tempat apakah ini?" bisik Pharita, terpukau oleh pemandangan itu.
"Ini adalah kota kuno Melodia," jawab Atlas, matanya tertuju pada cermin. "Tempat ini telah lama hilang dari sejarah, dikenal karena pemahamannya yang maju tentang energi harmonik. Artefak ini pasti terhubung dengan kota ini entah bagaimana."
Saat gambar-gambar itu terus diputar, Pharita melihat pemandangan keajaiban teknologi yang luar biasa, instrumen yang dapat membentuk realitas itu sendiri, dan dewan yang terdiri dari tokoh-tokoh bijak dan tenang yang mengawasi keharmonisan dunia mereka. Namun kemudian, gambar-gambar itu menjadi lebih gelap—badai energi kacau menyelimuti kota, mengganggu keseimbangannya dan menjerumuskannya ke dalam kekacauan.
"Artefak itu," Pharita menyadari, "diciptakan untuk memulihkan keseimbangan."
Atlas mengangguk. "Sepertinya begitu. Penduduk Melodia pasti membuatnya sebagai harapan terakhir, cara untuk melawan kekacauan dan melestarikan cara hidup mereka. Tapi ada sesuatu yang salah."
Cermin itu menunjukkan artefak tersebut disembunyikan, dilindungi oleh lapisan harmoni dan medan energi yang kompleks, hingga ditemukan oleh Pharita di dunianya sendiri.
Pharita merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. "Jadi, mereka memilihku untuk menyelesaikan misi mereka. Tapi bagaimana aku bisa memulihkan keseimbangan di sini dan di duniaku?"
Atlas meletakkan tangannya di bahu Pharita. "Dengan memahami sepenuhnya kekuatan artefak ini dan belajar menggunakannya dengan tepat dan harmonis, kau sudah membuat kemajuan besar, Pharita. Bersama-sama, kita akan mengungkap rahasianya."
Saat penglihatan itu memudar, pemindai resonansi mati, meninggalkan bengkel dalam cahaya lembut yang redup. Pharita merasakan kembali tujuan dan tekadnya. Dia bukan hanya orang luar di dunia ini—dia adalah bagian penting dari sejarah dan masa depannya.
Luna memasuki bengkel, ekspresinya menunjukkan campuran kekhawatiran dan rasa ingin tahu. "Aku merasakan gelombang energi. Apa yang terjadi?"
"Kami menemukan gambaran masa lalu," jelas Atlas. "Artefak ini terhubung dengan kota kuno Melodia. Peran Pharita di sini jauh lebih penting daripada yang kita sadari."
Mata Luna membelalak. "Melodia... kota harmoni yang legendaris. Ini mengubah segalanya."
Pharita menarik napas dalam-dalam. "Kita perlu mempelajari lebih lanjut tentang Melodia dan sejarah artefak tersebut. Jika kita dapat memahami apa yang salah, kita dapat menemukan cara untuk memulihkan keseimbangan."
Atlas mengangguk setuju. "Terdapat teks-teks kuno dan arsip tersembunyi di dalam Kota Harmonia. Mungkin di dalamnya terdapat informasi yang kita butuhkan. Sudah saatnya kita menggali lebih dalam ke masa lalu untuk mengamankan masa depan kita."
Saat mereka bersiap untuk perjalanan selanjutnya, Pharita merasakan persatuan dan tekad yang kuat. Dengan pengetahuan Atlas, bimbingan Luna, dan kemampuannya yang terus berkembang, ia siap menghadapi tantangan di depan. Gema masa lalu Melodia akan membimbing mereka, menerangi jalan menuju masa depan yang harmonis.