Gema Masa Depan

Dunia Baru

Pikiran Pharita dipenuhi campuran kebingungan dan kegembiraan saat ia mengikuti Luna melintasi lapangan terbuka yang luas. Lanskap hijau yang subur itu dipenuhi struktur futuristik yang tampak tumbuh secara organik dari bumi, menyatu sempurna dengan alam. Pohon-pohon berjalin dengan bangunan, cabang-cabangnya membentuk lengkungan dan jembatan alami. Aliran air berkilauan dengan cahaya aneh, mengalir melalui taman-taman yang dipenuhi tanaman yang belum pernah dilihat Pharita sebelumnya.

"Sebenarnya kita berada di mana?" tanya Pharita, suaranya dipenuhi kekaguman saat ia mengamati lingkungan yang sureal itu.

"Ini adalah Alam Paralel," Luna menjelaskan dengan senyum tenang. "Sebuah tempat di mana batasan antara musik dan teknologi menjadi kabur, menciptakan eksistensi yang harmonis. Ini tidak seperti apa pun di duniamu, bukan?"

Pharita mengangguk, masih berusaha mencerna semuanya. "Bagaimana aku bisa sampai di sini? Dan mengapa aku?"

Luna berhenti sejenak, lalu berbalik menghadap Pharita. "Artefak yang kau sentuh adalah sebuah kunci. Artefak ini telah menunggu seseorang yang memiliki koneksi unik dengan musik dan inovasi. Saat kau menyentuhnya, kau membuka kekuatannya dan dibawa ke sini. Adapun mengapa kau... yah, itu akan menjadi lebih jelas seiring kau mempelajari lebih lanjut tentang dunia ini."

Saat mereka terus berjalan, Pharita memperhatikan bahwa bahkan udara pun terasa berbeda—lebih segar, dipenuhi energi halus yang membuat kulitnya merinding. Mereka melewati sebuah desa kecil tempat orang-orang mengerjakan alat-alat rumit sambil bersenandung melodi yang melayang di udara. Pharita melihat seorang wanita sedang menyetel alat musik mirip harpa yang memancarkan nada holografik, sementara anak-anak bermain dengan mainan yang menggabungkan musik dan cahaya menjadi tampilan yang menyenangkan.

"Semuanya di sini begitu... hidup," ujar Pharita, kagum akan perpaduan sempurna antara alam dan teknologi.

Luna membawanya ke puncak bukit yang menghadap ke kota luas yang berkilauan di bawah dua matahari kembar. "Ini Kota Harmonia, jantung Alam Paralel," katanya. "Di sinilah kau akan menemukan Atlas, penemu yang dapat membantumu memahami tujuanmu di sini."

Pharita menarik napas dalam-dalam, merasakan campuran antisipasi dan kegugupan. "Atlas itu orang seperti apa?"

Ekspresi Luna berubah menjadi penuh pertimbangan. "Atlas brilian tetapi tertutup. Dia lebih menyukai ditemani oleh penemuannya daripada orang-orang, tetapi dialah kunci untuk membuka potensi penuh kemampuanmu di sini. Meyakinkannya untuk membantu tidak akan mudah, tetapi aku percaya padamu, Pharita."

Mereka menuruni bukit dan memasuki kota yang ramai. Kota Harmonia adalah keajaiban arsitektur futuristik dan desain organik. Bangunan-bangunan melengkung dan berpilin seperti organisme hidup, dengan permukaan yang berkilauan di bawah sinar matahari. Jalan-jalan dipenuhi kios-kios yang menjual gadget canggih dan alat musik, sementara para seniman tampil di setiap sudut, musik mereka berpadu menjadi harmoni yang indah.

Luna memandu Pharita menyusuri lorong-lorong sempit hingga mereka sampai di sebuah bengkel terpencil yang tersembunyi di balik tirai tebal tanaman rambat. Bangunan itu kecil dan sederhana, dengan pintu kayu yang hanya ditandai dengan ukiran sederhana:"Penemu Atlas".

"Kita sudah sampai," kata Luna sambil memberikan senyum yang menyemangati kepada Pharita. "Ingat, kesabaran dan pengertian akan menjadi sekutu terbesarmu."

Pharita mengangguk dan menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, pintu berderit terbuka dan menampakkan seorang pria jangkung kurus dengan rambut acak-acakan dan mata tajam. Ia menatap Pharita dengan campuran rasa ingin tahu dan curiga.

"Siapakah kau?" tanyanya, suaranya serak karena jarang digunakan.

"Aku Pharita," katanya, tetap berdiri tegak. "Aku datang dari dunia lain, dan aku butuh bantuanmu."

Mata Atlas menyipit, dan dia melirik Luna, yang mengangguk meyakinkan. Dengan desahan enggan, dia melangkah ke samping untuk membiarkan mereka masuk. Bengkel itu berantakan dengan perangkat aneh, proyek setengah jadi, dan cetak biru yang berserakan di setiap permukaan. Di tengah ruangan berdiri sebuah mesin besar dan kompleks yang berdengung dengan energi.

"Aku biasanya tidak menerima tamu," gerutu Atlas, "tapi jika Luna mempercayaimu, kurasa aku bisa mendengarkanmu."

Pharita merasakan secercah harapan. "Terima kasih, Atlas. Aku tahu ini permintaan yang besar, tapi aku percaya aku bisa membantu dunia ini—dan mungkin bahkan duniaku sendiri—jika aku mengerti cara menggunakan kekuatan artefak ini."

Atlas mengamatinya sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Baiklah. Tunjukkan artefak itu padaku, dan mari kita lihat apa yang bisa kita temukan."

Saat Pharita menyerahkan bola kristal itu, dia tak bisa menahan perasaan bahwa ini hanyalah awal dari sebuah perjalanan yang akan mengubah hidupnya—dan dunia-dunia yang kini terhubung dengannya—selamanya.