
W. Kang-yeop
Aku ingat aroma manismu di musim panas itu. Aku mengerutkan kening saat mengingat kenangan itu, begitu pekat namun begitu samar sehingga telah memudar. Seperti apa dirimu hari itu? Mungkin begitu lembut sehingga mudah memudar? Atau mungkin hanya penampilan luarmu saja. Sebenarnya, mungkin kau lebih kuat dari siapa pun. Bahkan di bawah terik matahari, aku tak merasakan apa pun saat berada di sisimu. Roda waktu, yang telah dengan menyakitkan menginjak-injak hidupku, seolah berhenti, dan untuk sesaat, semua sarafku terasa kusut dan lumpuh. Momen singkat kebahagiaan itu membuatku semakin merindukanmu, dan yang paling mengejutkanku adalah rambut pirangmu yang berkibar.
Kau tak punya kekuatan untuk mengalir turun dan menyebar ke udara, tapi kau lebih kuat dari siapa pun. Kau tak berarti apa-apa bagiku. Aku pun tak berarti apa-apa bagimu. Namun, aku berani menyimpannya dalam hatiku dan memikirkannya. Seandainya saja aku bisa melihat rambut pirang yang berkibar itu sekali lagi, seandainya saja aku berani melihat kemurnian itu sekali lagi yang membuat sinar matahari musim panas yang cerah pun tampak pucat. Kau, yang sendirian tampak jelas dalam penglihatanku yang kacau di antara kabut itu.
Hari-hari yang takkan pernah kembali mulai muncul kembali seolah-olah dihidupkan kembali. Kabut yang takkan pernah kembali mekar lagi, terulang kembali berulang-ulang, dan salju putih murni seperti kulitmu turun dengan berat. Lalu aku melihatnya lagi. Rambut pirang itu yang pernah berkibar paling indah di bawah sinar matahari.
Dirimu yang baru itu, yang dulu begitu pucat,
Itu indah
Anda.
