Berlututlah agar aku bisa memuaskanmu.

Berlututlah agar aku bisa memuaskanmu.

Dia menatapku dengan tatapan jahat.
Aku tertawa terbahak-bahak sampai aku tidak menyadarinya.
Air mata menggenang di matanya dan ekspresinya berubah.
Dia menampar pipiku dengan keras sesaat.
Dia kembali lagi menuju suatu tempat dan segera menghilang tanpa jejak.
Saya membawa pil putih.
Lalu rambutkuAku menangkapnya
Dia menarikku ke belakang dan menyuruhku mengangkat kepala.
Aku memasukkan obat itu dengan paksa, lalu
Aku tak punya pilihan selain menelan obat itu dan dia tampak tertarik.
Seiring waktu berlalu, tubuhku mulai memanas.
Saya mulai merasa pusing dan kemudian pingsan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Ugh...tsk..panas sekali..apa-apaan ini..kau memberiku makan apa tadi...”

















“Hah… Haruskah kukatakan itu obat yang mengandung zat narkotika? Kenapa rasanya enak, brengsek? Rasakan sepuas hatimu? Sampai-sampai kau tak akan merasakan sakit saat disiksa.”

Gravatar















“Ugh... bagiku... kenapa... kau... berhenti...”




















"Mengapa?“Itu karena kamu cantik, jadi jangan memberontak.”

Gravatar