Bertopeng 🎭

🎭 001

SUDUT PANDANG KEN



[πŸ’Œ]

"Krn, di mana itu?"

"Oke, buka pintunya."

"Haiiii."

"Kwmmmmm."

"πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”"


Apakah dia mabuk? Kemungkinan besar, ya. Pertanyaan saya bodoh. Seharusnya saya memikirkan alasan mengapa dia mabuk. Lagipula, di mana dia minum? Dia tidak suka mabuk. Dia mungkin tidak minum di bar. Jah berhati-hati. Hei. Saya akan meneleponnya saja.


[πŸ“ž]

"Jah, di mana kau?"

"Itu ada di kondominium. Hehe."Untungnya, akan berbahaya jika dia mabuk di tempat lain.

"Mengapa kamu minum?"

"Kenapa tidak? Datanglah menemuiku."

"Itu tidak dilarang, p-"

"Ya, urus Kenken itu. Kumohon."

"Ya, ini jam satu pagi."

"Oh oke, apa kau membenciku? Apa kau tidak mencintaiku lagi? Oh, itu keren."

"Ya, ya. Aku akan pergi."


Hei, kapan aku akan belajar untuk mengatakan tidak padanya? Dia bahkan tidak menyuruhku menemuinya, aku sudah dalam perjalanan ke kondominya dengan mobil.


Ya, ini rapuh. Aku mencintainya. Aku mencintainya, tapi dia tidak tahu. Aku juga tidak ingin membahayakan persahabatan kami hanya karena aku punya perasaan padanya. Aku tidak bisa. Aku tidak mampu kehilangan Jah.


Aku sudah lama menyukai Justin, tujuh tahun. Kau benar, selama kita berteman, aku menyukainya selama kita berteman. Cinta pada pandangan pertama? Mungkin. Bisa juga cinta pada senyuman pertama. Dulu aku tidak percaya itu, tapi tebak apa? Sampai hari ini, aku masih menyimpan kenangan hari itu, jauh di dalam hatiku.


Sungguh menyenangkan mengenang kembali hari ketika aku dan Jah bertemu. Dia hanya tersenyum kecil hari itu, tetapi dia langsung merebut hatiku. Hatiku masih berdetak untuknya dan untuknya.


Aku mencoba mengabaikan perasaanku, tapi tak ada yang berhasil, aku benar-benar memiliki perasaan yang sangat kuat terhadap Justin. Aku mencoba menjalin hubungan dengan banyak orang, tapi sekarang aku masih mencarinya. Bukannya perasaanku hilang, malah semakin memburuk.


Akankah aku bisa keluar? Aku tidak tahu. Kuharap begitu. Mungkin? Rasanya aku bahkan tidak punya niat untuk keluar. Kurasa aku terlalu bahagia untuk tenggelam dalam dirinya.


Tenggelam tapi tidak diselamatkan. Jatuh tapi tidak ditangkap. Aku bisa saja memilih untuk berhenti tapi aku tidak melakukannya, sebaliknya aku memilih untuk tetap tinggal di tempat yang kupikir membuatku lebih bahagia.