SUDUT PANDANG ORANG KETIGA
Tarik napas. Hembuskan napas.
Justin saat ini sedang duduk di meja, masih memikirkan apa yang terjadi padanya dan Ken. Ia terengah-engah sejak duduk di tempatnya sekarang. Ken sibuk melayani Justin yang sudah berada di lantai bawah. Seperti Justin, ia juga mengingat kejadian pagi sebelumnya.
Setelah Ken menata meja, dia duduk di depan Justin dan mengajak temannya, yang masih tampak linglung, untuk makan.
"Jah, ayo makan." Ucapnya menyapa. Justin tampak sedikit kesal karena Ken memanggilnya seperti itu.
"Terima kasih."Respons Justin lemah. Ia pun tersenyum tipis. Setelah itu, ia memperbaiki postur tubuhnya dan mulai menyantap makanan yang tersaji di meja.
"Makanlah banyak-banyak, Jah."Kata Ken, sambil duduk di depan Justin dan makan bersamanya. Justin tidak mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya mengangguk sebagai respons.
Mereka makan bersama dalam keheningan. Satu, dua, tiga... selama sepuluh menit tak satu pun dari mereka berbicara tentang apa yang telah terjadi di antara mereka. Setelah beberapa menit lagi, Ken memutuskan untuk membaca keheningan yang menyelimuti mereka.
"A-apa Jah, ada apa ini...?"Ken memulai pembicaraan. Justin sepertinya merasakan ke mana arah pembicaraan itu, jadi dia secara otomatis mengganti topik.
"Oh, oh. Kamu dan Stell ada urusan nanti, kan?"kata Justin.
Responsnya merupakan isyarat dari Ken bahwa dia tidak ingin membicarakan insiden masa lalu, jadi dia memutuskan untuk melanjutkan percakapan yang telah dia mulai.
"Ah ya. Nanti jam dua belas. Semoga kita bisa menyelesaikan koreografinya..."
Itulah satu-satunya cara mereka berdua bisa berbicara. Tak satu pun dari mereka berani menyebutkan lagi peristiwa yang sedang mereka coba kubur dalam kelupaan.
Akankah mereka mampu mengabaikan perasaan mereka? Akankah mereka terkubur dalam kelupaan atau akankah itu berubah menjadi mimpi buruk?
