Terlahir dari lumpur, namun menipu diri sendiri untuk mekar menjadi bunga suci. Pada akhirnya, aku hanya akan binasa bersama dengan kotoran yang terbentuk dari pembusukan generasi ranting yang layu.
"Whoosh whoosh whoosh" Lorong-lorong berliku di Kowloon begitu sunyi saat itu sehingga hanya terdengar suara napas yang cepat.
Wanita itu berlari sambil terus menoleh ke belakang, seolah-olah setan sedang mengejarnya, siap menyeretnya ke neraka saat dia tidak menduganya.

Wanita di balik pojok itu menyelinap ke tangga dan bersembunyi di sudut yang gelap untuk perlahan menenangkan napasnya.
Setelah sedikit tenang, dia mengeluarkan ponselnya. Cahaya redup menyinari wajahnya yang ketakutan dan terdistorsi, dan jari-jarinya masih gemetar saat dia mengetik.
"Dia menemukanku. Aku tamat karena aku tahu rahasianya. Kita salah sejak awal. Tidak, dialah yang salah, monster itu, dia tidak pantas mendapatkannya."
Deg. Deg. Deg. Langkahnya yang lambat dan sengaja seolah menghantam hatinya yang sudah rapuh, menjerumuskannya semakin dalam ke dalam keputusasaan.
"Sudah berakhir, sudah berakhir..." dia terus mengulanginya pada dirinya sendiri, seolah-olah kerasukan.
Pesan itu dikirim sebelum diedit sepenuhnya, dan secercah harapan itu padam sepenuhnya dalam kegelapan.

Bagi anak-anak Kowloon, langit adalah sudut persegi yang sempit. Tidak ada bintang, hanya tirai gelap dan berat, seperti tirai yang menutupi peti mati di sebuah pemakaman.
(Kota Bertembok Kowloon dihancurkan pada tahun 1993. Deskripsi dalam artikel ini adalah hasil kreasi saya sendiri. Mohon jangan dianggap terlalu serius.)
(Judul dan teks utama tidak berhubungan erat, karena saya sangat buruk dalam membuat nama.)
