"Bukan kau saja yang berpikir begitu, kau tahu? Bahkan aku pikir mereka sudah seperti sepasang kekasih".
"Sangat aneh. Kenapa Kim Junkyu lebih memilih Park Mia yang menjadi kekasihnya?".
Misoo menunduk, dan hanya nelewati siswa lain yang menggosipkan dirinya dan Junkyu. Kekasih? Benarkah Junkyu sudah mempunyai kekasih. Bukankah dia berjanji akan selalu berteman dengan Misoo. Oh iya, hanya berteman.
Misoo tidak percaya akan gosip yang beredar, akan tetapi saat dia memasuki kelas. Dia melihat sendiri bagaimana Junkyu dan Mia bercanda riang.
"Junkyu-ya?"
"Ah, Misoo-ya. Kau sudah datang?".
"Aku mendengar gosip dari anak-anak di luar. Apa benar kau dan Mia berkencan?".
Junkyu terdiam bahkan Mia yang mendengarnya pun juga ikut terkejut. Bukan terekjut, lebih tepatnya kasian dengan keadaan Misoo hari ini.
Junkyu berdiri perlahan, matanya menatap kearah Mia yang menatap Misoo lekat untuk menahan tangisnya.
"Gosip yang kau dengar di luar itu...".
"Katakan jika itu tidak benar, Kim Junyku". Batin Misoo yang menatap Junkyu.
"Aku dan Mia berkencan. Benar, Mia adalah kekasihku".
Misoo bahkan tak dapat berkata apa-apa lagi. Pertahannya hancur, dia sangat berharap kalau Junkyu akan menjadi kekasihnya. Tapi nihil, Junkyu hanya menganggapnya teman tidak lebih dari itu. Ingat, hanya teman.
"Taman Mia".
"Oh, benarkah?"
"Ayo, aku ingin makan. Aku harap kau yang menemaniku".
"Ah, i-iya. Ayo". Jawab Mia yang tergugup tanpa menatap Misoo. Junkyu sendiri bahkan tak kuat setelah melihat reaksi Misoo yang tahu dia dan Mia berkencan.
Misoo hanya menatap punggung mereka yang keluar dari kelas. Tangan itu, biasanya tangan itu yang menggenggam tangan ku. Mungkin begitu pikirnya Misoo.
Perlahan kakinya lemas untuk berdiri, dia pun segera berjalan menuju tempat duduknya. Pikirannya kosong. Berpikir kenapa Junkyu melakukan itu padanya. Hingga tak sadar kerikil bening mengalir dipipinya.
"Katakan pada ku kalau Park Mia bukan kekasihmu". Batinnya yang menangis.
***
Junkyu dan Mia sekarang berada di perpustakaan. Bukannya mereka ingin pergi ke kantin? Tidak. Itu hanya omong kosong yang dikatakan Junkyu pada Misoo agar cepat meninggalkannya. Dia tidak tahan melihat Misoo seperti itu maka dari itu dia segera meninggalkannya.
"Kim Junkyu, bukankah yang kau lakukan padanya itu salah?".
"Mia-ssi. Maafkan aku karena menyeretmu dalam masalah ku. Kita bahkan tak terlalu kenal, sungguh aku masih merasa canggung padamu".
"Tidak apa. Aku mengerti kondisimu saat ini. Tapi bukankah ini salah? Aku tidak tega melihat Misoo seperti itu, bahkan aku tahu kau juga tidak bisa berbuat seperti ini".
"Tapi hanya ini yang bisa ku lakukan agar dia bisa mendapat teman setelah mendengar kita berkencan. Aku tidak ingin dia selalu bergantung padaku".
"Dengan cara kita berkencan pura-pura seperti ini tidak akan menyelesaikannya. Sungguh, aku tidak tega melihat reaksinya setelah mendengar kita berkencan".
"Mia-ssi. Aku sangat berterimakasih padamu karena sudah melakukan yang aku minta. Tapi tolong, jangan ceritakan semua ini pada Misoo. Anggap saja kalau kita berkencan yang sebenarnya".
"Ya sudah kalau itu yang kau mau. Aku hanya ingin membantumu, tapi aku juga tidak ingin menyakiti hatinya Misoo".
"Tidak apa, aku berharap dia akan mencari teman karena melihatku yang selalu bersamamu. Semoga saja ini akan berhasil".
"Emm, semoga". Mia angguk-angguk mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Junkyu.
Mia adalah teman kelas mereka, wajahnya juga tak kalah cantik dari Misoo. Hanya saja Misoo mempunyai rambut yang panjang dan berbeda dengan Mia yang rambutnya sependek bahu dengan lengkungan kedalam yang membuat wajahnya kecil mungil.
"Nanti kau pulang sekolah bersama ku, bagaimana?".
"Lalu Misoo?".
"Ayolah Mia-ssi, kalau kita pura-pura berkencan kau juga harus pura-pura bahagia. Jangan menampakan bahwa kau kasian padanya".
Mia menunduk dan mengangguk setelah mendengar penjelasan dari Junkyu. Setelahnya mereka keluar dan kembali menuju kelas.
***
Sekarang Misoo sedang bercanda bersama Haruto. Junkyu dan Mia yang melihatnya bahkan lega sekaligus terkejut. Sebenarnya banyak yang mau berteman dengan Misoo, hanya saja Misoo yang selalu bergantung pada Junkyu.
Bahkan Misoo saja bertukar tempat duduk dengan Mia. Awalnya Misoo dan Junkyu duduk berdua. Dan Mia duduk bersama Haruto di sudut tengah. Alhasil, Misoo bertukar tempat karena dia merasa Mia kekasihnya Junkyu.
Junkyu menyenggol bahunya Mia dengan lembut dan berbisik. "Kau lihat, baru tagi pagi dia menangis. Tapi dengan cepat juga dia mendapat teman. Walaupun hanya Haruto".
"Tapi aku tidak nyaman duduk bersebelahan dengan mu, aku masih merasa tidak nyaman padanya".
"Tidak apa, dia sendiri yang ingin menukarnya. Bukan?". Pertanyaan Junkyu hanya dibalas anggukan oleh Mia.
Dan diseberang sana seolah ada yang abu tanpa api. Misoo terbakar. Walaupun dia sedang bercanda bersama Haruto, tapi tetap saja matanya menatap Junkyu yang sedang tertawa bersama Mia.
"Kau benar-benar melupakan ku, Kim Junkyu?".
"Misoo-ya". Panggil Haruto secara tiba-tiba dan berhasil membuat Misoo terkejut. Sontak dia menatap Haruto yang sudah rapi dengan tas di pundaknya.
"Kau tidak ingin pulang? Bel pulang sudah berbunyi".
"Ah, ne. Maafkan aku, aku melamun tadi".
"Mau pulang bersamaku?"
Misoo mengangguk dan mencoba tersenyum padanya. "Oke, kalau kamu tidak keberatan."
"Aku tidak pernah keberatan sama sekali, ya sudah ayo".
Misoo membalasnya sambil menentang tasnya dipundak. Berjalan menuju keluar bersama Haruto, dan hanya melewati Junkyu yang berjalan bersama Mia.
Bahkan menatapnya saja Misoo tidak ingin, bukan dendam. Hanya saja dia ingin melupakan dan tidak ingin tergantung pada Junkyu yang sudah mempunyai kekasih. Dan niat tidak ingin menggangung Junkyu lagi.
Entah penyesalan atau kebahagiaan yang didapat seorang Kim Junkyu saat ini. Yang pasti hatinya sangat sakit setelah melihat Misoo pulang bersama Haruto.
Orenji
Teuhaiii, aku kembali. Terimakasih sudah menunggu dan memberikan komentar yang membuatku semangat untuk melanjutkannya.
Sampai jumpa, teubye :3 jangan lupa stream and vote trejo ya hehe
