ORENJI // HARTA

Orenji #3

Sekarang ini Junkyu terlihat sedang menunggu seseorang. Ya, malam ini Ibunya mengadakan acara makan malam bersama. Tapi Junkyu terlihat murung, dia masih memikirkan kejadian siang tadi di sekolahnya. 

"Kim Junkyu, kau terlihat melamun dari tadi. Apa ada masalah? Cerita pada ibu". Tutur Ibunya dengan lembut pada anak semata wayangnya. Junkyu yang mendengarnya hanya menggeleng dengan senyumnya. 

"Apa dia tak membaca pesan dari ku? Kenapa dia tak ada kabar sama sekali". Gumam Junkyu yang sesekali menatap kearah ponselnya yang menampilkan notif kosong. 

"Kau menunggu Choi Misoo? Tenang, Ibu sudah mengundangnya tanpa kau minta". Setelah mengusap pucuk kepala anaknya ibunya segera berjalan menuju dapur lagi. 

Masih menyiapkan berbagai nampan yang berisi banyak makanan. Ibunya sendiri yang memasak semuanya dibantu oleh beberapa pelayan. Karena Ibunya adalah pemilik restoran yang tergolong 5 besar di negaranya juga sudah mempunyai banyak cabang. 

"Junkyu, sayang Ibu lagi memasak. Jangan memeluk Ibu seolah kau ingin pergi jauh". Kata Ibunya setelah merasakan pelukan di pinggangnya dengan posesif.

"Ini aku bunda Kim". Tapi suara itu bukanlah suara Junkyu. Melainkan suara perempuan yang dia tunggu. Ibu Junkyu memutar tubuhnya menghadap orang yang memeluknya.

"Choi Misoo-ssi. Kau datang sayang, bunda sangat menunggu kehadiran mu". Ibu Junkyu memeluknya seolah ada ikatan erat diantara mereka berdua. Misoo yang bahagia juga dengan cepat mengeratkan pelukannya pada Ibu Junkyu. 

"Junkyu-ya!! Kemari!!". Teriak Ibunya yang melihat Misoo terkikik karena melihat ekspresinya. Junkyu datang dan tersentak setelah melihat Misoo di hadapannya. Sontak, mata mereka bertemu. Masing-masing menatap lekat matanya satu sama lain. Tidak ada yang mengakhirinya. 

"Ehm". Mereka langsung membuang pandangannya kearah lain setelah mendengar Ibu Junkyu berdahem dan tertawa. "Sudahlah, Junkyu-ya. Kau bawa Misoo ke ruang makan. Masakan ibu belum selesai". 

"Ah, tidak perlu bunda Kim. Aku bisa membantu bunda Kim untuk memasak". Misoo langsung menolaknya dan kembali kepelukan Ibu Junkyu tetapi Junkyu langsung menarik tangannya tanpa aba-aba. Ibu Junkyu yang melihatnya hanya tersenyum sambil menggeleng. 


***

Junkyu dan Misoo sudah duduk dengan jarak berseberangan. Hanya ada keheningan diantara mereka berdua. Tidak ada yang membuka suara bahkan bergerak sedikit saja sangat sulit untuk dilakukan. 

Ddrtttt

Ponsel bergetar. 

Junkyu yang merasakannya langsung meraba saku jaketnya dan menatap ponselnya. Seseorang yang dia tunggu sudah membalas pesan darinya.

"Aku sudah di depan rumahmu". 

"Datang".

"Aku tidak bisa masuk sendiri, kau tahu sendiri kalau ini pertama kalinya bagiku datang ke rumahmu". 

"Tunggu disana, aku akan menjemputmu". 

Junkyu langsung beranjak dari sana dan meninggalkan Misoo seorang diri untuk menjemput seseorang yang berada di telepon tadi. "Apa itu Park Mia?". Batin Misoo dan terlihat itu sangat sakit baginya. 

"Sayang, kemana Junkyu?". Ibu Junkyu datang dengan membawa nampan dan disambut lembut oleh Misoo. 

"Bunda Kim". Yang dipanggil sontak menoleh kearah Misoo. "Apa Junkyu mengundang seseorang untuk acara makan malam ini?". 

"Bunda tidak tahu, sayang. Bunda hanya mengundangmu. Memangnya ada apa?".

"Sepertinya Junkyu mengundang seseorang untuk menghadiri acara ini," jawab Misoo sambil tersenyum meskipun ia menahan rasa sakit yang dirasakannya.

"Apa kau dan Junkyu....". 

"Ibu". Pembicaraan Misoo dan Ibunya terputus saat Junkyu datang bersama seseorang yang sangat Misoo kenal. Tapi berbalik dengan Ibunya yang tak mengenalnya. 

"Junkyu, kau mengundang seseorang untuk acara kita? Tapi kau tak memberitahu Ibumu yang membuat acaranya. Dasar anak nakal". 

"Ibu maafkan aku, aku tidak memberitahumu karena aku ingin membuat kejutan". 

"Siapakah dia?" tanya ibunya, yang membuat seluruh tubuh Misoo membeku. Ia ingin lari dan pulang dari sana. Ia tak tahan dengan perlakuan Junkyu terhadapnya.

"Perkenalkan, Bu, ini Park Mia. Kekasihku."

Ibunya yang terheran dengan anaknya juga sangat terkejut setelah mendengar kata Kekasihku. Ibunya bahkan perlahan melirik kearah Misoo yang membeku saat ini. Bahkan untuk senyum saja Misoo tidak bisa.

"Kim Junkyu, apa kau tak melihat kehadiran ku saat ini?". 

"Ah, hahaha. Ibu bahkan tak tahu kau punya kekasih. Apa Misoo mengenalnya?". Ibu Junkyu sudah membuat Misoo buyar dari lamunannya. Misoo tersenyum mengangguk. Berusaha menampilkan yang baik-baik saja. 

"Mia-ssi. Terimakasih sudah mau datang kesini. Silahkan duduk". Ucap Misoo yang menggeser duduknya memberikan peluang untuk Mia duduk disampingnya. Tapi, tangan Junkyu lebih cepat untuk menarik Mia agar duduk disampingnya. 

"Seorang kekasih itu tak boleh jauh-jauh duduk dari kekasihnya". Katanya tanpa menatap kearah Misoo dan membuat Mia akhirnya pasrah dan duduk disamping Junkyu. 

"Aku benar-benar sudah tak sanggup untuk berada disini bersamamu. Kim Junkyu". 

Lalu tiba-tiba Misoo mengangkat ponselnya dan meletakkannya dilinggir telinganya. Berkata yang seharusnya di dalam telepon. 

"Ah, maafkan aku bunda Kim. Sepertinya aku tidak bisa mengikuti acara makan malam ini. Baru saja aku mendapat kabar kalau Ibu sudah di rumah. Aku harus pulang sekarang". 

"Sayang sekali bunda tidak bisa mengantarkan mu. Maafkan bunda". 

"Tidak apa bunda Kim. Aku bisa pulang sendiri, sepertinya juga di jam sekarang bus masih ada".

"Tidak perlu, sayang. Junkyu-ya, kau antarkan Misoo ke rumahnya. Sekalian bawakan ini untuk bunda Choi". 

"Ah, tidak perlu bunda Kim. Tadi ibu memberitahuku dia sudah makan di luar". 

"Ah begitu. Ya sudah, Junkyu-ya. Cepat anatarkan dia, ibu tidak ingin dia pulang naik bus dimalam-malam seperti ini". 

"Aku bisa....". 

"Ayo". Sahut Junkyu yang langsung menarik tangannya untuk mengikutinya. Hal yang dilakukan Misoo hanya pasrah menerimanya dan memandang punggung Junkyu dengan air mata membendung.



Orenji



Huwwaaa aku kembali semuanya....terimakasih atas dukungannya. Congratulation buat teume and trejo yang udah mau bekerja keras untuk yang malam tadi. Bahagia ku tersalurkan huhuu