Mia tidak menjawab, perlahan kerikil bening mengalir dari matanya yang coklat. Tanpa suara, Mia hanya menunduk. Junkyu yang melihatnya sangat khawatir, jelas. Karena wanita itu sudah banyak membantunya, dia pantas mendapat perhatian dari Junkyu juga.
"Mia-ssi, kau tidak apa?". Mia masih tidak menjawab, dan pada akhirnya Junkyu menangkup kedua pipinya untuk mendongakan kepalanya. Terlihat wajah Mia memerah akibat dia menangis sekaligus bercampur malu ditatap lelaki rupawan seperti Junkyu.
"Ke-kenapa kau menangis? Apa aku berbuat salah padamu?". Mia menggeleng dan terus mengisak tangisnya. "Lalu katakan padaku, kenapa kau menangis?". Lanjutnya.
"A-aku...a-aku". Karena mendengar tangisan dari Mia yang tak berhenti terngiang ditelinganya. Junkyu pun perlahan meraih kepalanya dan meletakkan kepala itu di dadanya. Junkyu memeluknya dengan lembut. Berniat untuk menenangkannya, akan tetapi tangisan Mia semakin tambah pecah. Tanpa sadar tangan Mia terangkat dan membalas pelukan Junkyu dengan erat.
"Tenanglah". Junkyu mengusap surai hitam sedikit kebiruan itu dengan lembut. "Katakan padaku kenapa kau menangis?".
"A-aku ingin berhenti membantu mu". Junkyu tersentak dan dia melepaskan pelukannya dengan cepat. Menatap Mia tak percaya, dan hanya dibalas Mia dengan tatapan bahwa yang dikatakannya adalah kebenaran.
"Aku pikir ini adalah bantuan terakhir ku untukmu".
"Waeyo?".
"Aku tidak bisa melihat kesedihan dimata Choi Misoo. Apa kau tak ingin kembali padanya? Apa kau tidak mencintainya? Apa kau dapat menahan perubahan sikapnya? Apa kau bisa menghadapi semuanya, Kim Junkyu?".
Junkyu terdiam, perlahan mencerna kalimat yang dilontarkan Mia padanya. Mia salah satu siswa yang kutu buku dan selalu bertukar pikiran dengan Misoo dan Junkyu tentang materi pembahasan. Dia sangat tahu bagaimana baiknya hati seorang Choi Misoo.
"Sudah malam sekali, aku permisi pulang. Masuklah". Ucap Junkyu final dan berjalan cepat menuju mobilnya. Mia masih menatapnya heran. Masih berpikir kenapa lelaki seperti Kim Junkyu tidak hadir untuknya. Betapa beruntunganya Choi Misoo bisa sedekat itu dengannya.
"Aku tidak ingin jika nanti Misoo menangis karena ku. Aku tidak ingin jika aku menjalaninya terus-menerus aku akan terjerumus di dalam kehidupanmu. Aku takut aku benar-benar mencintaimu, Kim Junkyu".
Batin Mia yang menangis kembali sambil menatap mobil Junkyu yang perlahan menghilang dari pandangannya.
***
Junkyu sudah tiba di dalam kamarnya, berbaring dengan lengan di atas dahinya. Berusaha memejamkan matanya tapi matanya bersikeras untuk tidak tidur.
02 : 22
Hari bahkan sudah hampir pagi tapi Junkyu masih tidak bisa tidur. Dia sendiri bingung kenapa kejadian itu sangat menghantui pikirannya bahkan tidur pun susah untuk dilakukan.
Junkyu bangun dan menyandarkan tubuhnya disandaran kasur miliknya, dengan selimut koala yang tak lepas dari tubuhnya.
Berpikir kenapa Misoo bisa berbuat seperti itu? Kenapa Misoo berbohong? Kenapa Misoo tak bilang langsung padanya?
**Kilasan balik tentang**
"Berhenti disini saja". Ucap Misoo yang melepaskan sabuk pengaman miliknya. Junkyu tidak melirik kearahnya sedikit pun dan membukakan kunci pintu untuk Misoo.
"Tidak mau ku antar sampai rumah?".
"Tidak perlu, aku ada urusan mendadak".
"Urusan apa Anda datang malam-malam seperti ini?"
"Bukan urusanmu! Pulanglah, bunda Kim menunggumu. Oh iya, bahkan Taman Miajuga sudah menunggumu". Ucap Misoo sambil tersenyum lebar padanya. Dan sedikit menekan kalimat Park Mia disana.
"Apa maksudmu?".
Misoo terkekeh pelan. "Bercanda, pulanglah". Misoo meninggalkannya dan terus berjalan. Matanya menatap ke atas langit gelap menahan air matanya. "Berhenti menangis Choi Misoo". Batinnya.
Mobil Junkyu perlahan jalan untuk menjajarkannya dengan jalannya Misoo. Misoo yang melihatnya hanya bisa mendengus kesal.
"Aku akan mengikutimu hingga kau sampai di rumah".
"Tidak perlu, sudah ku bilang aku ada urusan".
"Malam-malam begini? Kau bahkan....".
"Kim Junkyu! Sudah ku bilang aku ada urusan! Pulanglah sana, kekasihmu menunggu!". Mungkin kesabaran Misoo sudah habis, dia bahkan berucap keras pada Junkyu.
"Ya sudah hati-hati. Jika ada apa-apa hubungi aku".
"Aku bisa sendiri. Aku tidak akan bergantung padamu lagi. Tenang saja".
"Bukan begitu maksud ku, Choi Misoo".
Setelah itu mobil Junkyu melaju, hingga Misoo pun tak dapat melihatnya lagi. Hilang seketika, dan meninggalkan Misoo yang berjalan seorang diri ditengah malam yang sepi seperti ini.
***
"Maafkan Misoo bunda Kim. Misoo sudah membohongimu, Misoo jahat padamu. Misoo anak yang nakal".
Misoo menangis terisak-isak di tengah taman bermain yang tak jauh dari rumahnya. Nampak dari jauh seorang lelaki yang ikut menangis melihat Misoo duduk sendiri diayunan dengan kakinya yang menendang-nendang angin. Sambil menangis, Misoo bicara seolah-olah dia mempunyai teman yang tak bisa Junkyu lihat.
"Maafkan aku, Junkyu-ya. Aku berbohong akan telepon dari Ibu. Aku hanya ingin pulang karena aku tidak sanggup berada bersama mu dan kekasihmu itu".
Junkyu yang mendengar semuanya bahkan tak percaya, Misoo yang dikenalnya sangat jujur sudah berbohong padanya. Tapi dia tak menyalahkan Misoo, salahkan dirinya sendiri yang berbohong lebih dulu padanya.
"Kau sudah berubah. Kau berjanji padaku untuk terus menjadi teman ku, bahkan selalu bersamaku dan melindungiku. Tapi kenapa setelah kau punya kekasih kau tak menghiraukanku. Bahkan kau tak mengganggap ku ada.
Kau jahat Kim Junkyu, kau jahat. Kau sudah mengingkari semuanya. Aku membencimu, aku sangat membencimu".
Tangisan Misoo pecah, bahkan Junkyu juga ikut menangis tanpa suara di belakang pohon besar. Hanya bisa melihat Misoo dari jauh.
"Choi Misoo-ya?". Panggil seseorang yang tiba di depannya. Misoo perlahan mendongakan kepalanya melihat siapa yang datang padanya di tengah malam seperti ini.
"Kau menangis?". Lanjutnya.
Misoo tak bisa berkata apa-apa lagi dan segera bangkit dari tempat duduknya lalu memeluk pria itu erat-erat. Tanpa sepatah kata pun, pria itu dengan cepat membalas sapaannya.
"Ruto-ya, tetaplah bersamaku....jangan tinggalkan aku....aku takut..".
Tangisan Misoo pecah seketika. Semakin keras hingga membuat Junkyu sangat sakit. Sakit melihat Haruto memeluknya sekaligus sakit menyesal karena sudah membohongi Misoo
**Kilasan balik dimatikan**
Orenji
Di nextnya ntar ya semua hehe sampai sini dulu terimakasih sudah meluangkan waktu untuk mampir ke ceritaku yang abal2an hahah
Terima kasih, jangan lupa vote dan streaming Trejo, dan bye!
