"Lepaskan dia!" teriak Junkyu.spontan karena melihat Haruto semakin erat dalam memeluk Misoo.
Haruto dan Misoo terkejut dan melepaskan pelukan mereka. Misoo bahkan sudah tak dapat berkata apa-apa lagi. Dia membeku setelah melihat sekujur tubuh Junkyu yang berada di belakang pohon besar tak jauh dari matanya. Junkyu mengerjap bingung, bingung kenapa mulutnya spontan berteriak seperti itu tanpa diminta.
Karena sudah terlanjur ketahuan, Junkyu perlahan melangkah mendekati mereka berdua. Menatap bola coklat milik Misoo begitu lama. Mata yang berbinar ditambah air matanya yang membuat matanya semakin menyala.
Lamunan keduanya dibuyarkan oleh Haruto dengan sekali daheman bass miliknya.
"Pulanglah". Junkyu menarik tangan Misoo dengan cepat tanpa aba-aba. Misoo tersentak, bahkan tangannya terlepas dari genggaman Haruto karena Junkyu menariknya dengan keras.
Misoo berusaha memberontak agar Junkyu melepaskannya. Tapi, yang dilakukan oleh Junkyu malah sebaliknya. Bahkan Junkyu menariknya hingga sampai di depan mobilnya.
"LEPASKAN!!". Teriak Misoo yang menghempaskan tangan Junkyu dan akhirnya terlempar keras. Pergelangannya memerah, rasanya sakit. Junkyu menyakitinya.
"Kau....". Misoo mengisak sambil mengusap tangannya lembut. Air matanya tak berhenti menetes akibat sakit yang dia rasakan.
"Kau sudah mencengkram tangan ku terlalu erat. Kau sudah menyakitiku!". Lanjutnya. Sesekali Junkyu ingin meraih tangan itu, tapi Misoo selalu menyingkir.
"Apa itu urusan mendadak yang kau bilang padaku? Urusan bertemu dengan Haruto? Apa itu urusan mendadak?".
"Apa urusanmu?! Itu semua hak ku untuk menentukan apa urusanku?! Itu sama sekali tidak menganggu mu!".
"Itu sudah mengganggu ku! Sangat mengganggu pikiran ku!".
"Mengapa kau datang kembali? Pulanglah dan temanilah kekasihmu itu. Bukan kah kau sangat men...".
"HENTIKAN MISOO-YA! DIA BUKAN CINTAKU!!".
Misoo sangat terkejut dan matanya membulat sangat bulat. Mendengar perkataan Junkyu membuat Misoo tertawa miring. Miris sekali hidupnya, dia pikir aku orang bodoh yang gampang dibohongi. Pikirnya.
"Ck, bukan kekasihmu? Lalu untuk apa kau melakukan semua itu? Agar aku menjauh darimu? Maaf, Kim Junkyu. Kalau kau ingin aku menjauh katakan saja tidak perlu melakukan semua itu untukku agar aku....".
Junkyu langsung meraih tubuh Misoo dan memeluk kepalanya dengan posesif. Sangat erat bahkan tak menyisakan ruang lagi diantara mereka.
Junkyu berhasil membuat Misoo bungkam. Tidak bicara bahkan sekarang dia menangis. Memukul punggung Junkyu dengan lemah. Ditengah malah begini? Dibawah cerahnya bulan dan dimalam yang gelap.
"Menginginkan". Satu kalimat maaf yang dia ucapkan bahkan tak dapat membuat Misoo berhenti menangis. "Maafkan aku, ku mohon". Lanjutnya.
"Maafkan aku karena sudah membohongimu, maafkan aku sudah melakukan itu padamu, maafkan aku untuk semuanya. Maafkan aku".
Perlakuan Junkyu saat ini bukanlah untung menenangkan Misoo, melainkan membuat Misoo menangis lebih keras. Misoo tak dapat bicara dan hanya membalas pelukan Junkyu sekuatnya. Meremas jaket panas milik Junkyu.
"Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi padamu, aku tidak akan membohongimu. Jadi ku mohon, kembalilah padaku. Menangislah bersama ku, jangan bersama orang lain. Apalagi orang itu Haruto".
Kini Misoo mulai tenang, sedikit lebih baik dari tadi. Junkyu perlahan melepaskan pelukannya, menangkup wajah Misoo dengan kedua tangannya. Menatapnya dengan kasih yang begitu besar.
"Kau dengar aku, bukan? Pergilah padaku jika kau ingin menangis. Peluklah aku, menangislah padaku". Misoo hanya bisa mengangguk pasrah dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya ini.
Sahabat? Bahkan hidup mereka saling bergantung satu sama lain. Junkyu sudah membuktikan bahwa dia tidak bisa lama-lama menjauh dari Misoo. Artinya, Junkyu takut akan hilangnya Misoo dari hidupnya.
***
Itu semua adalah hal yang ada dalam pikiran Misoo saat ini. Ya, benar. Saat Haruto memeluknya, Jukyu malah muncul dan menariknya serta membawanya pulang.
Bahagia.
Itulah yang dirasakan oleh Misoo saat ini. Duduk di depan meja riasnya sambil tersenyum betapa pentingnya dia bagi Junkyu. Begitupun sebaliknya.
"Misoo-ya!!! Cepatlah turun, dia sudah menjemputmu". Ibunya datang dan mengetuk pintunya.
Misoo tersenyum cerah seperti matahari yang menerangi seluruh kamarnya. Dia bergegas meraih tasnya dan menyisir rambutnya dengan jepit diatas telinganya.
Kakinya melangkah cepat menuruni anak tangga. Ingin menemui seseorang yang sedari tadi dia tunggu. Tapi anehnya, saat sudah tiba disana senyumnya bahkan sirna.
Berdiri membeku didepan seseorang yang menunggunya. Orang itu tersenyum lebar dan menghampirinya perlahan.
"Ayo, aku sudah menunggumu".
"Haruto?".
"Aku pikir Junkyu yang akan menjemputku, aku pikir Junkyu yang sudah menungguku. Ternyata bukan. Ck, apa yang aku pikirkan? Choi Misoo, Junkyu memang memeluk mu malam tadi tapi bukan berarti dia kembali padamu seperti dulu".
Orenji
Berhenti!! Aku kembali huhu:(
Aku mau masukan dari kalian dong, sebaiknya aku up tiap hari atau 2 hari sekali? Dijawab ne, makasih juga udah stay disini. See you next time muah
