Kembali pada Misoo yang kini hanya menatap makanan itu tanpa menyentuhnya. Ibunya yang melihat bahkan bingung, sedari tadi dia tidak menyentuh makanannya sama sekali sedangkan sang ibu sudah menghabiskan semuanya.
"Sayang, kenapa makanannya tidak dimakan?". Misoo yang awalnya menunduk akhirnya mendongak, menatap Ibunya dengan sendu. Tidak ada semangat di dalam dirinya.
"Makanlah walaupun hanya sedikit. Misoo-ya, ibu khawatir dengan keadaan mu. Kau sudah 2 hari tidak makan". Misoo menggeleng dan membuat pertahanan ibunya runtuh. "Ceritakan pada ibu, apa kau punya masalah?".
Misoo menggeleng lagi sambil tersenyum. "Ibu, Misoo ke kamar ya. Misoo ngantuk". Ibunya mengangguk heran. Masih pagi Misoo mengantuk padahal dia juga baru bangun tadi. Mungkin karena ini hari Minggu.
***
Misoo berjalan memasuki kamarnya dengan lesu, pikirannya kosong, tubuhnya lelah, apalagi hatinya yang sakit. Junkyu yang terus dia hubungi bahkan tidak aktif.
"Kenapa Junyku-ya? Ada apa denganmu?". Misoo berbaring dikasurnya, menatap langit kamarnya yang berwarna merah muda. Misoo berpikir, Junkyu marah padanya atau memang ponselnya yang tak aktif.
***
Perlahan matanya terbuka, menatap seluruh ruangan yang berawarna putih. Tidak ada jejak Choi Misoo disana, melainkan seseorang yang membantunya waktu itu.
Taman Mia.
Sekarang dia tertidur lelap dikursi dipinggir ranjang rumah sakit yang membuat Junkyu tertidur selama 2 hari ini. Junkyu mengingat-ingat kejadian apa yang semalam menimpa dirinya. Dan setelah itu kepalanya mulai pusing hingga tanpa sengaja mulutnya merengek sambil memegangi kepalanya yang sakit.
"Ah, Junkyu-ssi. Kau sudah bangun?". Park Mia panik dan segera berdiri, memencat bel yang tersedia disana dia rasa tidak akan cukup. Dia pun langsung berlari keluar memanggil dokter karena melihat Junkyu yang merengek kesakitan.
"Kenapa Park Mia? Kenapa bukan kau, Misoo-ya? Kemarilah, aku membutuhkan mu saat ini? Kau mendengar suaraku?".
Junkyu berbatin setelah melihat kepanikan dari seoang Park Mia. 3 menit mereka menunggu akhirnya dokter datang dengan seorang asistennya.
"Park Mia-ssi. Anda bisa tunggu di luar, sementara saya akan memeriksa tuan Kim". Mia mengangguk dan berjalan keluar. Bisa dikatakan sekarang Mia menangis.
Sedari kemarin dia yang menemani Junkyu, karena dia tak memberitahukan ini kepada Misoo. Sekarang dirinya mulai egois jika itu menyangkut tentang Junkyu. Sepertinya hatinya tidak dapat menahannya. Sekarang dia mengakui kalau dia mencintai Junkyu. Dia ingin memiliki Junkyu. Dia ingin Junkyu menjadi kekasih sesungguhnya, bukan pura-pura.
"Dokter Yoon, bagaimana keadaan Kim Junkyu? Dia tiba-tiba merintih sambil memegang kepalanya."
"Apa dia tidak mempunyai keluarga? Saya lihat sedari kemarin hanya Anda yang menemaninya siang dan malam".
"Saya tidak tahu keluarganya berada dimana. Saya juga kurang dekat dengan Junkyu".
"Anda bisa mengubungi keluarga tuan Kim. Karena saya tidak bisa memberitahu semuanya kepada Anda, saya takut karena ini sebuah privasi diri tuan Kim?".
"Emm, baiklah".
"Ya sudah, saya permisi. Jika bisa secepatnya Anda menghubungi keluarga tuan Kim. Karena ini urusan darurat".
"Baiklah. Terimakasih dokter Yoon". Dokter Yoon mengangguk dan meninggalkan Mia. Mia duduk sebentar di kursi panjang depan kamar Junkyu. Rencananya hancur, memang benar jika orang yang egois rencananya tidak akan berhasil.
"Aku tidak boleh seperti ini, aku mencintai Junkyu. Jadi kesehatannya yang paling penting. Aku harus menghubungi seseorang yang berkaitan dengannya. Choi Misoo? Benar, Misoo orang yang saat ini Junkyu butuhkan".
Mia segera masuk ke dalam, menghampiri Junkyu yang sekarang sedang terbaring lemah diatas ranjang yang menyedihkan itu.
"Bagaimana keadaan mu? Sudah lebih membaik?".
Junkyu mengangguk. "Kenapa kau kemari?".
"2 hari yang lalu kau tak masuk sekolah. Jadi aku mencoba menghubungimu akan tetapi yang mengangkat telepon ku seorang dokter. Dia memberitahu ku jika kau berada disini, jadi aku segera pergi kesini".
"Lalu, bagaimana dengan Choi Misoo?". Mia menunduk, dia sedikit merasa bersalah karena tidak memberitahu yang sebenarnya. Karena dia tidak ingin Misoo kembali dekat dengan Junkyu. Tapi dia sadar kalau keegoisannya tidak bisa membuat Junkyu membaik.
"Ahh, tidak perlu dijawab. Aku sudah tahu, dia pasti tidak ingin menjenguk ku".
"Bu-bukan seperti itu. Junkyu-ssi, maafkan aku karena semalam aku tidak memberitahukan ini padanya".
"Maksudmu?".
"Tapi aku akan segera menghubunginya. Karena ini demi keselamatanmu. Kau tahu? Ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Dr. Yoon. Hanya saja dia ingin bicara pada seseorang yang berkaitan dengan mu. Dia tidak bisa membicarakannya padaku. Sedangkan aku hanya punya kontaknya Misoo, jadi aku akan menghubunginya".
"Misoo tidak mungkin tahu segalanya".Batin Junkyu.
"Junkyu-ssi, apa kau keberatan?".
"Ahh, apa kau bisa membantuku?".
"Mmm".
"Tolong rahasiakan ini pada Misoo. Jika dokter ingin bicara pada keluarga ku, suruh saja Ibu ku. Tapi jika untuk menjenguk ku, kau bisa beritahu pada Misoo".
"Maksudmu, Misoo hanya boleh menjenguk mu kesini tapi tidak dengan pembicaraan Dr. Yoon?".
"Eemm". Junkyu mengangguk.
"Tapi, kenapa tidak dia saja?".
"Ada sesuatu yang sangat besar yang hanya aku dan Dr. Yoon yang tahu".
"Bahkan Ibu mu tidak?".
Junkyu mengangguk lagi. Dan membuat Mia mengangguk heran. Sesuatu yang besar? Jadi itu yang dikatakan oleh Dr. Yoon. Privasi diri Junkyu.
Orenji
Teuuhayyy aku kambek, ada yang kangen? Sepertinya tidak hehe. Ya sudah jangan lupa stream and vote trejo kita semuanya♥️😭💗teubyee🧡
