Junkyu membuka matanya perlahan, betapa terkejutnya dia melihat sosok wanita yang dia rindukan berada di sampingnya saat ini. "Kau datang, Misoo-ya? Aku tidak bermimpi, bukan?".
Junkyu dengan lembut mengelus kepala Misoo saat ia berbaring di tempat tidur. Misoo merasakan tangan itu membelai kepalanya. Ia perlahan bangkit, menggerakkan tubuhnya, meregangkan otot punggungnya.
"Kau sudah bangun?". Junkyu tersenyum lebar setelah melihat wajah bangun Misoo, lucu pikirnya.
"Kau mau apa? Biar aku ambilkan".
"Aku hanya ingin kau menemaniku". Setelah mendengar itu Misoo membeku, kenapa suasananya sekarang canggung seperti ini? Tidak sepertinya Junkyu berkata begitu padanya.
"Aku merindukan mu, Misoo-ya". Junkyu menggenggam tangan Misoo dengan erat, seolah-olah mereka ingin berpisah jauh.
Misoo menunduk, tak berani menatap minik coklat lelaki dihadapannya yang sudah berkaca-kaca. "Kenapa tidak menatapku?". Sontak Misoo mendongak kaget.
"Ah, um."
"Kenapa kau baru datang?".
"Maafkan aku, aku sungguh tidak mengetahui apa-apa soal kau ada disini?".
"Kau tidak merindukan ku?".
"Me-merindu-kanmu. A-aku merindukan mu, Kim Junkyu". Ucap Misoo sudah membuat Junkyu rasanya ingin bangun dan memeluknya. Tapi, kepalanya saat ini memberontak untuk tidak bangun dari sana.
Perlahan Misoo meneteskan air matanya, setetes dua tetes Junkyu melihatnya. "Ke-kenapa kau menangis?".
"Ini semua salahku, andai saja waktu itu aku tidak pergi bersama Haruto. Pasti kau tak akan mengalami kecelakaan seperti ini. Aku tahu kau mengendarainya dengan pikiran kosong".
"Kenapa kau tahu kalau aku menjemputmu?".
"Kau pikir aku tak punya ibu? Ibu ku yang memberitahuku kalau kau menjemputku. Tapi, saat aku menunggu mu di sekolah kau sama sekali tidak datang. 3 hari kau tak masuk sekolah, 3 hari kau tak mengabari ku, kau tahu betapa khawatirnya aku?!".
Junkyu tersenyum melihat Misoo yang memarahinya saat ini. Memang selalu begitu, tak pernah berubah pikirnya.
"Aku baru bangun kemarin. 2 hari waktu kejadian itu aku tak sadarkan diri. Itu juga baru 2 hari. Bagaimana jika itu terjadi selamanya padaku?". Sontak Misoo langsung memukul bahunya marah.
"Jangan bercanda! Aku tidak suka!". Junkyu hanya terkekeh kecil sambil mengusap bahunya yang baru dipukul tadi.
"Misoo-ya. Kau mau mengabulkan permintaanku?". Misoo menatapnya tanpa respon sedikit pun. Iya, dia masih kesal dengan perkataan Junkyu tadi. "Maukah kau mengajak ku berjalan-jalan. Sungguh, aku sangat bosan berada disini". Dia merengek seperti anak kecil.
Misoo terkekeh sambil tersenyum. Dia pikir hanya itu permintaan dari Junkyu, dia bahkan bisa melakukan permintaan lain jika Junkyu memintanya.
"Ya sudah, mari ku bantu". Junkyu bangun dengan Misoo yang membantunya dari belakang. Merangkulkan tangan Junkyu kebahunya untuk membawanya duduk dikursi roda yang tersedia disana.
Junkyu perlahan menarik tangan Misoo, menatapnya dengan lekat. Misoo bahkan mengernyit heran. "Kau kenapa? Setelah mengalami kecelakaan itu sepertinya kepala mu terbentur keras. Kau semakin tambah aneh dari hari biasanya".
"Misoo-ya. Terimakasih karena sudah bersamaku". Misoo tersenyum dan tertawa keras. Junkyu yang melihatnya terkejut dan langsung menutup mulutnya untuk diam.
"Kau ini kebiasaan sekali tertawa keras tak kenal tempat".
"Ti-tidak. Kau ini lucu, bahkan sangat lucu. Kita itu sudah bersama sejak kecil, lalu kenapa kau hanya berterimakasih sekarang?". Misoo tertawa lagi.
"Sudahlah jangan mentertawakan ku. Ayo jalan, aku sudah tak sabar menghirup udara luar".
Misoo yang masih tertawa tidak menjawabnya, perlahan dia mendorong kursi roda Junkyu. Di perjalanan Misoo sudah mendengarkan banyak cerita dari Junkyu, bahkan sampai masa kecil mereka saja Junkyu mengingatnya.
"Apa kau tidak lelah? Sedari tadi kau selalu bicara".
"Karena waktu ku hanya sebentar, jadi aku harus membicarakan semuanya dengan mu".
"Aku serius, Kim Junkyu! Aku tidak ingin bercanda! Menyebalkan!". Misoo melepaskan kursi rodanya saat mereka sudah tiba di taman rumah sakit.
"Misoo-ya, kemarilah".
"Aku tidak ingin ya jika kau mengatakan itu lagi, aku tidak ingin mendengarnya!". Misoo menutup telinganya, menolak permintaan Junkyu untuk menyuruhnya menghampirinya.
"Tidak, aku tidak akan mengatakan itu lagi. Kemarilah".
Misoo melangkah perlahan dan duduk di kursi panjang yang ada disana. Junkyu perlahan bangun dari kursi rodanya dan duduk disamping Misoo. "Jangan banyak bergerak dulu, kau ini!". Lagi-lagi Misoo kesal pada Junkyu
Junkyu tak menghiraukannya, dia langsung memeluk Misoo. Entah kenapa dia tiba-tiba menangis, dan itu membuat Misoo mengernyit bingung.
"Kenapa?". Misoo ingin melepaskan pelukan itu untuk melihat wajahnya Junkyu. Namun Junkyu malah sebaliknya, dia semakin mempererat pelukannya. "Biarkan seperti ini sebentar saja".
Misoo hanya bisa memakluminya dan membalas pelukan itu, mengusap punggung lelaki yang tinggi darinya. Sungguh aneh Junkyunya saat ini pikirnya.
Orenji
Heeeyyyy!!!🧡
Maaf sepertinya aku gak bisa up setiap lagi, aku sibuk soalnya mengurus laporan sama sertifikat ku belum selesai😭
Jangan lupa vote and stream anak trejo kita ne yeorobun😭
