Kincir Angin

Potongan Kertas (Jeonghan)

photo

"Aduh!" Aku mengerang saat selembar kertas menggores kulitku. Aku menghela napas kesal dan pergi ke wastafel untuk membersihkan darah dari luka. Aku melihat tumpukan kertas di belakangku. Masih banyak undangan pernikahan yang harus dikerjakan, ya?

Aku menghela napas berulang kali. Angin menerobos masuk melalui jendela dan tirainya berkibar. Aku membeku di tempat. Mataku terasa perih. Aku menahan napas saat melihat seorang pria jangkung berambut pirang dengan wajah seperti malaikat, melambai ke arahku, dengan seringai konyol khasnya terpampang di wajahnya. Aku mematikan keran dan tanpa pikir panjang langsung keluar rumah berlari seperti anak kecil yang berlarian saat ayahnya pulang setelah bertahun-tahun tidak pulang.

Aku memeluknya erat sambil menangis tersedu-sedu. Aku mendengar tawanya yang familiar lagi. Ya Tuhan, aku sangat merindukan pria ini.

"Aku merindukanmu! Aku merindukanmu!" teriakku sambil memeluknya lebih erat kali ini. Takut dia akan menghilang kapan saja.

"Hei, aku sesak napas, Daya! Tenang!" serunya lalu tertawa. Dia mendorongku perlahan, masih terkekeh. Aku cemberut dan menundukkan kepala. Astaga, apakah aku bereaksi berlebihan lagi?

Dia meletakkan telapak tangannya di pipiku, mencoba mengangkat kepalaku tetapi aku menolaknya. Pipiku jadi memerah. Astaga, Daya! Kamu memang selalu bereaksi berlebihan!

"Hei, tatap aku. Aku serius," katanya lembut, tapi aku tahu yang sebenarnya. Dia tersenyum seperti orang bodoh. Dasar curang!

"Jeonghan, aku tahu yang sebenarnya. Kau tidak bisa menipuku."

"Daya, nugu aegi?" godanya. Aku memutar bola mataku ke atas. Dia tidak berubah, ya?

"Diamond, lihat aku." Aku mengangkat kepalaku saat mendengar nada serius dalam suaranya. Aku tidak ingin membuatnya marah. Dia akan sangat marah padaku dan tidak akan melupakannya.

Aku menatapnya dengan datar. Dia tertawa. Aku memutar bola mataku.

"Aku juga merindukanmu..." Ucapnya lembut sambil tersenyum. Senyum pun muncul di wajahku. Jeonghan... Dia seperti bunga matahari, begitu hangat dan lembut. Bunga matahari yang memberikan kehangatan pada jiwaku yang sudah layu.

"Daya..." Ucapnya lalu tersenyum, namun suaranya kini lebih serius daripada sebelumnya.

"Jangan hidup dalam bayang-bayang masa lalumu... Aku selalu ingin kau bahagia, kan?" Aku mengangguk. Tidak, tidak. Kumohon jangan.

"Bebaskan dirimu dari rasa sakit ini, Daya. Izinkan dirimu untuk bahagia lagi..." isakku.

"Tidak, kumohon, jangan. Jeonghan, kau tidak bisa melakukan ini padaku, kumohon. Jangan pergi." Aku menangis tersedu-sedu. Aku duduk di tanah. Tak peduli dengan kotoran itu.

"Kumohon tetap di sini. Aku—aku tak bisa hidup tanpamu, kumohon." Aku terus menggelengkan kepala dan menarik-narik rambutku. Tidak, tidak. Ini tidak mungkin terjadi.

"KAU TIDAK BOLEH MENINGGALKANKU!" teriakku sambil mendongak menatapnya. Aku melihat matanya berkaca-kaca.

"Seandainya aku bisa, Daya, aku akan..." Ucapnya di sela-sela napasnya yang dalam, seolah ia juga sedang mengalami kesulitan.

"Tapi aku tidak bisa, kau tahu itu, kan? Kumohon, jangan sampai kau terluka karena kertas. Jangan sampai kau membangkitkan kenangan burukku. Kumohon, tinggalkan pekerjaanmu itu dan kejar mimpimu. Kau tidak bisa melakukan ini pada dirimu sendiri. Kumohon, pilihlah untuk bahagia dan jangan jadikan aku tujuan hidupmu. Kumohon..." Ia pun berlutut dan menangis.

"Tinggalkan pekerjaanmu, Daya. Mulailah hidup baru. Temukan cinta baru. Aku hanyalah kenanganmu sekarang. Carilah bantuan, Daya. Aku—aku mencintaimu, oke? Aku sudah mengatakannya padamu berkali-kali. Aku mencintaimu sampai napas terakhirku." Dia meraih wajahku dan mengusap pipiku. Dia terisak. Air mataku menetes tak terkendali di wajahku.

"Aku selalu merindukanmu, J-jeonghan... Aku ingin melihatmu bahkan saat aku mempermalukan diriku sendiri. Seandainya saja kau tidak menyelamatkanku..." ucapku terbata-bata. Aku menangis lebih keras saat mengingat semua kenangan kita bersama. Kita, membuat undangan pernikahan. Saat aku terkena luka sayatan kertas karena membuat terlalu banyak undangan, dialah yang membersihkan lukaku dan mengacak-acak rambutku. Menggodaku bahwa aku terkena luka sayatan kertas di seluruh dunia karena aku tahu dialah yang akan membersihkannya. Semua petualangan kita di jalan bersama. Hingga hari itu ketika kita mengalami kecelakaan. Aku... aku selamat tapi dia tidak.

"Bebaskan dirimu, Daya. Aku ingin kau hidup dengan tujuan untuk dirimu sendiri, bukan untukku. Ingatlah selalu bahwa aku mencintaimu. Sampai jumpa lagi, sayangku."

Aku menatapnya intently. Menggenggam tangannya erat-erat, tetapi seperti angin, dia menghilang. Meninggalkanku hanya dengan kenangan.
photo