[Kumpulan Cerpen] Seperti kelopak bunga yang tertiup angin

Godaan Mawar Hitam (de la escala pentatónica cor)

Satu tegukan, dua tegukan. Minuman keras itu menetes ke mulutnya yang kering dan keriput, tetes demi tetes. Anggur termahal yang pernah ia minum di bar anggur mewah. Lipstik gelap menghiasi bibirnya, rambut pirangnya terurai hingga pinggang, dan gaun hitam tersampir di leher putihnya, terlihat setiap kali ia mengalihkan pandangan. Bagi siapa pun yang melihatnya, ia tampak glamor, elegan, dan klasik.



"Apakah kamu datang sendirian?"



Mereka bilang, rasa manis apel menarik serangga. Penampilannya yang sempurna sudah cukup untuk menarik perhatian para pria di meja sebelah. Mereka bertatap muka dengan ekspresi akrab dan melambaikan tangan dengan lembut. Tatapan hangat yang luas di sekitar mereka membantu meredakan dahaga yang ditiup angin dingin. Aku benar-benar terhanyut. Seandainya saja aku bisa lolos dari neraka seperti itu. Seandainya saja aku bisa diselamatkan, tidak ada yang tidak akan kulakukan. Semua orang menilaiku dari penampilanku, jadi satu-satunya cara untuk mendapatkan persetujuan mereka adalah dengan menjadi angsa hitam kuno. Dia tersenyum, menatap tubuhnya yang tertutup bulu hitam, lehernya yang panjang dan elegan, bibirnya yang licik membisikkan kemanisan dan pengkhianatan.




"Kenapa perempuan jalang sepertimu jadi putriku? Aku tak tahan melihatmu, jadi pergilah. Cari uang sendiri!!"



Suara pecahan kaca menggema di telinganya, melekat padanya. Botol soju, yang diletakkan rapi di sudut meja, terjatuh dengan keras, lalu merobek luka terbuka di kulitnya yang pucat. Darah mengalir dari lututnya, mewarnai jari-jari kakinya merah padam. Sebelum darah membeku dan daging baru tumbuh, sebelum luka sembuh, luka baru muncul. Sebelum ia bisa menyempurnakan dirinya, tubuhnya mati, satu per satu. Dengan kematian tubuhnya, jiwa yang mendambakan cinta juga binasa. Mulut yang begitu putus asa mendambakan keabadian hancur, hanya menyisakan lidah yang terus-menerus diinjak-injak. Sisi lain dari penampilannya yang menawan tampak menyedihkan, buruk rupa, dan menyakitkan. Ayahnya telah memenjarakannya selama bertahun-tahun yang telah berlalu, menggerogotinya. Ia menginginkan cinta. Ia ingin dicintai. Sayangnya, Tuhan telah menolaknya kesempatan itu. Dia dengan kejam melemparkannya ke dalam masyarakat yang tandus, memaksanya untuk menyaksikan kebahagiaan orang lain. Baginya, yang tidak punya apa-apa, tidak menerima apa-apa, dan karena itu tidak punya apa-apa untuk diberikan, mereka yang memiliki segalanya tidak lain adalah berhala. Ia mendambakan kesempurnaan itu. Ia ingin menjadikan segalanya miliknya sendiri, bahkan jika itu berarti meminjam harta benda, mata, dan jiwa orang lain. Ia ingin menjadi angsa hitam, yang disebut memikat, daripada angsa, yang disebut cantik. Seandainya saja semua orang bisa memandanginya, dan dengan demikian bahagia, dipenuhi cinta, dan dikagumi oleh semua orang. Kenangan masa lalu, yang telah lama berlalu, akan lenyap, mabuk oleh kenyamanan dan kebahagiaan yang tak terbatas. Telapak tangannya sudah berkeringat, matanya tegang. Entah mengapa, jantungnya berdebar kencang. Akhirnya, ia meninggalkan rumah. Meninggalkan suara ayahnya di belakangnya, ia mengumpulkan semua uang keluarga dan membawanya bersamanya. Terbebas dari jurang neraka, langkahnya cepat, seolah terbakar, dan matanya berkilau dengan cahaya yang cemerlang. Ia telah mendapatkan kembali kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, dan meskipun masa depan yang tak terduga tampak jauh, ia percaya bahwa ia akan menemukan kebahagiaan. Ia berdandan, berhias, dan mengubah dirinya dengan uang. Di depan cermin dunia, ia adalah angsa hitam yang sempurna. Penampilannya sempurna. Sekarang, ia hanya perlu menemukan mangsa untuk mengisi batinnya. Mangsa yang provokatif dan cabul yang akan membuat jantungnya yang haus berdebar kencang. Seseorang mendengus, berpikir, "Bagaimana mungkin seseorang yang begitu bodoh tentang seluk-beluk dunia mengatakan hal seperti itu kepadaku, seseorang yang ditakdirkan untuk kesempurnaan?" Dengan ekspresi yang seolah berkata, "Kau?" Maka ia memotong napas yang telah menusuk tangannya dengan belati. Dengan bibir merah, yang diproyeksikan dengan bayangan berwarna abu-abu, ia menghancurkan jiwa-jiwa yang bodoh.



"Ada apa? Apakah kamu merasa terinspirasi sekarang?"



Ia menyerahkan luka-luka yang menutupi seluruh tubuhnya kepada jiwa-jiwa yang berduka. Ia meletakkan mawar hitam di mulutnya, membiarkan duri-duri tajamnya merobek mulut mereka. Darah mereka merobek bibir mereka, menetes ke bawah, menodai lantai putih. Semakin mereka menderita dan merintih, semakin tubuhnya menjadi ringan dan gembira, hampir melayang. Mawar hitam itu memberikan pengaruhnya. Saat duri-duri tajam itu mencium bibir mereka—jiwa-jiwa mereka, terpesona oleh aroma mawar hitam, dengan mudah menyerah pada godaan manisnya dan melekat padanya. Seperti dosa yang mereka tahu tidak bisa mereka lepaskan, seperti orang bodoh yang tidak tahu bahwa mereka salah sejak awal.



"Apakah kamu datang sendirian?"



"Ya, seperti yang Anda lihat."



Sambil menyisir rambut pirangnya ke belakang telinga, ia perlahan duduk di sampingnya dan menuangkan anggur untuknya. Sebuah tegukan, tangisan terakhir yang menandakan akhir yang menyedihkan. Suara gelas anggur yang diisi terdengar lebih megah dan menyedihkan dari sebelumnya. Bibir merahnya mengerucut, ia meraih mawar yang disembunyikannya di dalam tasnya. Ia dengan lembut mencubit ujungnya agar tidak menusuknya, lalu mengangkat sudut bibirnya. Ia berencana untuk menggodanya perlahan, lalu menggigitnya. Sebuah tangan yang beraroma parfum merah muda melingkari pinggang pria itu. Matanya menyala dengan kerinduan yang lebih besar melihat reaksi gemetar dan terkejut itu. "Sekarang kau hanya akan menatapku. Karena mawar hitamku akan membuatmu seperti itu." Hanya memikirkan hal itu saja sudah mengirimkan gelombang kegembiraan ke seluruh tubuhnya. Keinginan yang selama ini terpendam dalam dirinya telah lama muncul. Perahu bergoyang-goyang di atas ombak yang ia ciptakan. Tak lama kemudian, badai mengamuk, dan badai petir turun dari langit, menghantam kapal. Saat kapal hampir terbalik, laut biru yang tadinya tenang berubah menjadi merah, dan dia, yang sedang mengaduk-aduk gelas anggur di tangannya, mengeluarkan setangkai mawar.



"Aku suka yang itu. Boleh aku foto?"



"Apakah kamu penasaran? Tentangku? Haruskah aku menutup mataku?"



Pria itu, mendengar kata-katanya, menutup matanya seolah-olah terpesona. Mawar itu benar-benar terlepas dari tasnya, dan dipenuhi napas dunia, menjadi sumber mimpi buruk. Tangannya bergerak ke mulut pria itu. Pada saat itu, matanya terbuka dan mawar itu jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk. Tangannya gemetar, kehilangan mawar itu. Angsa hitam itu, kehilangan keharumannya, menjadi tidak sempurna. Ia tidak dapat menerima tatapan semua orang. Penampilannya, yang mengungkapkan luka batin yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, tidak lagi cantik, elegan, atau antik. Ia hanya tampak jelek, mengerikan, dan menyakitkan. Cermin yang memantulkannya bukan lagi ilusi. Pada saat ini, ia tanpa henti mengungkapkan dirinya di masa lalu. Ketakutan, ia melarikan diri dari bar anggur seolah-olah sedang kabur. Mawar itu, hancur dan remuk di antara sepatu hak tingginya yang runcing, kini menatapku, mengejekku. Bahkan jalan yang ia lalui setiap hari terasa seperti ladang berduri, membuatnya sulit menjaga keseimbangan. Ujung jari yang pernah memikat jiwa-jiwa tak terhitung jumlahnya kini menghilang dari ujungnya. Darah mengalir dari kepalanya. Kebenaran yang telah ia sembunyikan berkali-kali hingga kini terkoyak, membasahi lantai. Ia telah berusaha keras untuk menyembunyikannya, untuk menghindari penemuan. Itu sia-sia. Ia telah mengorbankan segalanya untuk kesempurnaan, dan tidak ada yang tidak akan ia lakukan untuk Rose. Air mata mengalir tanpa henti dari matanya, masih terkulai di lantai. Semua kebencian telah lenyap, dan luka-luka akhirnya sembuh. Tidak ada alasan untuk menjadi angsa hitam lagi. Tidak, ia tidak bisa. Wanita sombong yang dulu, terperangkap dalam ilusinya, bukan lagi manusia. Ia mati, ditarik oleh jiwa-jiwa tak terhitung yang pernah ia miliki.