Malam bersalju
1 Januari 20××
Jam 6:00 pagi
Matahari telah terbit.
Dan
Aku memutuskan untuk mati.
Ss ...

Berbeda dengan sinar matahari yang hangat, sesuatu yang dingin menyentuh kakiku.
Rasanya menyenangkan
Senyum muncul di wajahku tanpa kusadari.
Saya mengambil langkah demi langkah dan terus maju.
Pada saat itu,
Aku mendengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang.
Tak lama kemudian seseorang meraih tanganku.
Saya secara alami dituntun oleh uluran tangan orang itu.
Tubuhku terpelintir, dan dia berbicara kepadaku dengan ekspresi bingung, menatapku tepat di depan mataku.
Aku melihatnya.

"Apakah kamu menangis sekarang?"
Mendengar kata-kata pria itu, aku tahu aku sedang menangis.
"Silakan keluar duluan."
Begitu selesai berbicara, dia mengajakku ke laut.
Aku mengikutinya keluar tanpa berkata apa-apa, sambil memperhatikan punggungnya.
Dan
Setelah keluar, dia memakaikan bantalan yang dikenakannya di pundakku.
Aku menatap matanya dengan saksama.
"Biarkan saja... kenapa kau menyimpannya..."
Dengan bodoh dan tanpa berpikir
Saya ingin bertanya.
Apa jawaban yang akan Anda terima?
Sungguh bodoh dan tolol
Aku sangat menantikannya.
"Itu karena saya merasa tidak nyaman."
Aku mengangkat kepalaku, yang tadi tertunduk menunggu jawaban, dan menatapnya.
Kali ini matanya juga menatap mataku.
"Jika seseorang meninggal tepat di depan Anda, Anda tidak bisa tidur sepanjang malam karena merasa gelisah."
"Tetapi..."
Aku mencengkeram bantalan di bahuku.
Dan
Berdebar,
Aku menumpahkan air mata ke lantai.
Dia berdiri di depanku seperti itu dan mengamatiku dengan tenang,
Membuka mulutnya.
"Mari tinggal bersamaku."
Itulah yang dikatakan seseorang yang baru saja saya temui.
Barulah saat itu aku berjongkok dan menangis tersedu-sedu.
Aku merasa akhirnya aku sudah mengambil keputusan.
Aku sangat senang dan gembira.
Dan
Siapa tahu?
Akankah orang itu mengubah hidupku?
