Lagu Takdir Fantastis

01

photo

Definisi keniscayaan.

Ada sebuah fakta yang belum diakui siapa pun. Tahukah Anda apa itu? Apakah Anda menyadarinya? Dapatkah Anda mengatakan dengan pasti bahwa apa yang Anda yakini adalah kebenaran? Mungkinkah semuanya hanya ilusi? Dapatkah Anda membedakannya?

Segala sesuatu di dunia ini terbuat dari cerita. Kisah tentang hampir terlambat dan tanpa sengaja memakai sepatu yang tidak serasi, kisah menemukan orang yang dicintai, kisah mengejar mimpi...

Apa kisahmu? Apakah itu kenangan, penyesalan, atau sudah terlupakan tanpa bisa diperbaiki lagi? Manusia tidak dapat menyimpan semua kenangan. Beberapa memudar, sementara yang lain tidak pernah terhapus.

Namun, cerita berbeda. Jika cerita dicatat dalam kata-kata, dalam kalimat, kita dapat membacanya dan mengingatnya berulang kali. Itulah esensi dan alasan keberadaan cerita.

Jadi, bagaimana dengan kisah orang lain? Apakah itu ilusi atau kisah nyata? Bisakah Anda membedakannya? Apakah Anda ingin membacanya? Apakah Anda ingin menjalani hidup Anda dengan mengingat kisah orang lain?

Ini adalah kisah seorang pria. Seorang manusia yang menjalin hubungan melalui keniscayaan untuk membatalkan karmanya. Seorang raja yang melindungi rakyatnya hingga akhir hayat.

Dia adalah seorang pria berhati murni yang hanya peduli pada satu orang: putra sulung keluarganya, seorang pria yang mencintai bunga sakura dan mendedikasikan hidupnya untuk pedang. Dia adalah seorang revolusioner yang melawan kekaisaran yang korup dan perwujudan keadilan yang menaklukkan kejahatan.

Inilah kisah yang telah diulang-ulang oleh banyak pendongeng, sebuah mitos yang mendefinisikan kembali makna keniscayaan.



[Kisah "Lagu tentang Koneksi Fantastis" dimulai sekarang.]



"Itu luar biasa. Aku tidak pernah menyangka kau akan mengarahkan pedang ke arahku."

"Aku juga tidak membayangkannya. Aku tidak pernah menginginkannya."

Tangan kananku, yang memegang pedang, gemetar. Air mata, seperti embun pagi, jatuh dari mataku, dan darah mengalir dari bibirku yang pecah-pecah. Darah juga mengalir dari kaki kiriku, dan dari bahu yang sudah terkoyak.

Kelopak bunga sakura melayang tertiup angin musim semi yang hangat, jasad rekan-rekan seperjuangan saya yang gugur berserakan di tanah. Tak ada penonton. Mereka semua telah mati bersama mereka. Satu-satunya yang hidup di tempat ini adalah saya, pohon sakura, dan Anda, yang berdiri di hadapan saya.

Aku menggenggam pedang itu erat-erat. Aku bersumpah tak akan melepaskannya, menatapmu di hadapanku. Kau, yang membunuh setiap makhluk hidup di tempat ini tanpa terluka sedikit pun.

Apakah ini benar-benar akhir? Ke mana perginya rekan-rekan yang dulu sering tertawa bersamaku? Ke mana perginya orang-orangku, mereka yang dulu selalu menyemangatiku?

Aku bisa mendengar tawa pemimpin keluarga Bulan, yang sering berselisih denganku. Aku bisa merasakan kehangatan pemimpin muda keluarga Plum, yang dulu sering bercanda denganku. Harapan para sahabatku perlahan meresap ke dalam diriku.

Orang-orang bersorak untukku, dan para pria bersumpah setia kepada negara ini. Semua itu lenyap dalam sekejap. Sekuntum tunas mengubah semuanya menjadi ketiadaan. Sekuntum bunga plum mencuri semua hartaku.

Meredakan amarahku, aku mendekatimu, orang yang mengkhianati keluargaku dan menjadi bunga. Kau menebang pohon ceri dan menanam pohon plummu sendiri di tempatnya. Itu adalah pengkhianatan yang nyata. Kau datang untuk membunuh saudaramu sendiri, seorang pengkhianat. Kau adalah satu-satunya adik laki-lakiku.

"Sekarang, aku sudah bosan dengan pohon ceri. Mulai sekarang, pohon plumlah yang akan berbunga di sini."

Ada kata-kata penutup? Apakah Anda punya?

"Haha, kata-kata 'terakhir'?"

Aku menarik napas dalam-dalam dan menyesuaikan posisiku. Apakah aku benar-benar hanya berlatih anggar sampai sejauh ini? Bagiku, ini sangat mudah. ​​Aku memusatkan seluruh tekadku, tekad teman-temanku, dan tekad rekan-rekanku ke dalam pedang.

photo

"Namaku Park Jimin. Aku adalah pemimpin keluarga Hwajaga dan kaisar Kerajaan Fantasi, Park Jimin."

Akhirnya, benang takdir yang panjang dan keras kepala dengan keluarga Hwajaga terputus.