[Bicara] Kepada yang termuda

26

(Sudut pandang Yuna)



Jadi, aku menjalani setiap hari dengan perasaan cemas. Seiring berjalannya hari, semakin sulit bagiku untuk menghadapi orang-orang yang harus kutinggali.

"setelah...."

Waktu yang kuhabiskan di kamarku meningkat drastis. Bahkan saat bangun tidur, aku hanya berbaring di tempat tidur, menatap kosong ke langit-langit. Makanan tidak laku, jadi aku hanya kelaparan.

"Saudari..."

Bahkan Yeonjun menjadi lebih berhati-hati denganku. Setelah aku mengakui waktuku yang terbatas, suasana menjadi jauh lebih suram dan percakapan menjadi kurang hangat.

Hari-hari berlalu begitu saja, dan dua minggu telah berlalu. Setelah semua orang pergi, aku dengan tenang memejamkan mata di ruangan ini, tempat aku ditinggal sendirian.

"Eh...?"

Sejenak, aku merasa pusing. Aku meletakkan tanganku di dada dan mencoba mengatur napas. Tapi semakin lama semakin sulit bernapas, dan akhirnya aku tersandung dan meraih telepon di samping tempat tidur.



photophoto



Mataku perlahan tertutup. Aku mencoba bertahan sampai seseorang datang, tetapi kelopak mataku menolak dan terus tertutup. Aku bertahan. Aku tidak ingin menutup mata sampai aku mendengar seseorang masuk. Tak lama kemudian, aku mendengar pintu terbuka, dan suara itu membuatku rileks dan aku menutup mata.

"Choi Yuna!!!!!!!!!"





26 Selesai-