#sepeda
Awal musim dingin. Musim ketika angin dingin membuat pipi terasa perih. Musim ketika ujian dimulai. Musim ketika pikiran dikosongkan sebelum memulai. Dan musim ketika aku mengajak anak itu bersepeda.
Awalnya anak itu duduk di belakang sepeda temannya. Ketika aku mendengar dia dan temannya bersepeda bersama, aku pun mengeluarkan sepedaku juga. Aku melihat anak itu dari kejauhan, berteriak kegirangan saat bersepeda di belakang temannya. Aku mengayuh pedal sedikit lebih keras dan melaju ke arahnya. "Oh, apa? Kamu juga bisa bersepeda?" "Ya, aku dengar kamu juga, jadi aku datang." "Mau ikut bersepeda?" "Tapi kamu tidak bisa duduk di belakang sepedanya seperti itu. Naiklah ke sadelku. Jaga keseimbanganmu agar tidak jatuh." "Oke, silakan." Anak itu naik ke sadelku, dan aku berdiri, menjaga keseimbangan, lalu mengayuh pedal. "Oh! Seru! Tapi agak menakutkan. Pelan-pelan saja." "Oke." Setelah mengelilingi taman, anak itu berbicara lagi. "Menurutmu aku boleh mengayuh pedal sedikit?" "Tidak apa-apa?" "Oke, kayuh pedal sedikit saja." "Oke." Aku mengayuh pedal sedikit lebih keras saat dia meminta. Saat angin menerpa pipiku ketika aku menunggang kuda, dia berkata, "Ini sangat tidak nyaman. Bisakah kamu berpegangan?"
Dia bertanya padaku.
Ya. Peganglah. Entah kenapa, sentuhan fisik itu membuatku merinding.
