Mereka adalah bintang dan aku-----
Bab 3: Penghiburku

YGTeumaeJam
2020.09.03Dilihat 281
Piring kami pecah ketika ayahku melemparnya.
"Hentikan (nama ayahmu)! Kamu mabuk! Kamu selalu mabuk!" - teriak ibuku sambil menangis.
"Tutup mulutmu, dasar perempuan!" Ayahku yang mabuk menjawab dengan suara tinggi sambil menunjuk wajah ibuku dengan jari telunjuknya lalu menamparnya.
"Hentikan, kumohon, huhu," ibuku memohon lalu menangis tersedu-sedu lagi.
Aku berlari ke kamar kecil kami dan menangis tersedu-sedu.
Mereka selalu bertengkar setiap kali ayahku mabuk.
Mereka tidak punya waktu untuk hidup tenang, terutama ayahku.
Aku memeluk buku catatanku yang ada poster Treasure di dalamnya dan itu menenangkan diriku.
Terima kasih, Treasure, karena telah menjadi bantalku, saputanganku, dan bahu untuk menangis. Meskipun kau tidak di sini, kau menenangkan hariku yang sedih. Terima kasih telah menjadi penghiburku.