Mimpi Terliarku
Episode Sembilan


Tindakannya yang tiba-tiba membuatku bingung, sementara tubuhnya menekan tubuhku. Aku tak bisa bernapas dan menyerah seperti mangsa kepada predatornya.

"Ya! Kim Jongin. Apa kau mabuk? Sadarlah." Aku memanggilnya, namun dia tak bergerak, tubuhnya yang kekar dan sempurna melayang di atasku.

Apa yang membuatnya muncul di rumah kita dalam kondisi seperti itu? Keras kepala kau! Aku mencemoohnya dalam hati. Tapi di suatu sudut diriku terasa sakit.

Aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk membawanya masuk ke dalam rumah dan mendudukkannya di sofa. Tubuhnya terasa dingin dan basah karena hujan.

Sambil membawa handuk dan beberapa pakaian, aku bergegas ke tempat dia berada. Aku melepas jaket denimnya yang basah dan mulai mengeringkan rambutnya. Saat aku menemukan kepalanya,

Ada luka yang berdarah, saya sangat kaget dan takut. Saya menggosok handuk pada luka untuk menghentikan pendarahan tetapi tidak berhenti.

Darah masih terus menetes, mengubah handuk putih menjadi merah. Aku menangis tersedu-sedu, memanggil Appa dan Eomma, berharap mereka bisa mendengarku.


Kai
Napasnya tersengal-sengal dan terengah-engah, lalu ia muntah darah lagi dari mulutnya. Ia meraih tanganku dan memohon, "Kumohon...Tolong aku! Aku akan mati."

"Tunggu beberapa detik!" kataku padanya. "Ayah, Ibu! Ayah... Keluarlah sebentar!" isak tangisku hanya menggema di ruangan itu, namun tak seorang pun menghampiriku.

Aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku, "Tunggu sebentar, aku akan menyelamatkanmu. Aku akan." Dia memegang tanganku dengan tangannya, memberiku senyum yang pudar.

Lalu tangannya perlahan terlepas dari tanganku dan jatuh, matanya terpejam & napasnya yang pendek terhenti. "Kim Jongin, Jongin Oppa! Buka matamu.."

Dia tidak menjawabku maupun bergerak lagi, bibirnya yang kering menjadi pucat. "Kumohon jangan mati!" aku meraung keras. "Jangan mati seperti ini... jebal Oppa.."

●AKHIR BAB●

Episode selanjutnya akan menjadi episode terakhir (Epilog).