아텔리아

01 | 화장실

ⓐⓣⓔⓛⓔⓘⓐ























































































"Heh cok."

Itu Edelyn. Jika umpatan kasar sudah keluar dari mulutnya, kami- aku dan teman-temanku selalu memanggilnya Udel. Alias pusar dalam bahasa Jawa. Seperti kata nenekku yang asli Jawa, 'Nek ngomong sak penak udel e dewe.' Atau jika diartikan; 'Kalau ngomong suka seenaknya sendiri'. Persis Edelyn jika sudah kesal. 

Tidak hanya kalau sedang kesal sih. Karena sudah kebiasaan, dia sering memanggil kami begitu. Terutama kepadaku karena kami teman sebangku. 

"Apa cok?" Balas ku. Tentu tak mau kalah. 

"Ehe dah bisa ngumpat ya lu ternyata." Kekeh Edelyn. Aku mendengus. Menatapnya malas. "Apa? Mau ngapain?"

"Anterin ke kamar mandi yuk? Curiga gue keknya dapet dah. Rasanya kayak lembab-basah gimana gitu."

"Iya-iya jing. Nggak usah dilanjutin. Bawa roti Jepang dulu sana, kalau nggak bawa ambil di tas gue. Di tempat biasa." Kataku memotong penjelasannya. Bisa merembet kemana-mana kalau saja aku tidak segera menghentikannya nanti. Karena ya... selain punya mulut penuh sampah yang terus-terusan luber setiap dia berbicara, otaknya juga sudah tercemar limbah. Aku tak ingin menyalahkan orang mana saja, hanya menyalahkan beberapa setan yang sedang menggerombol di belakang ruang kelas. Entah apa yang mereka lakukan tapi aku tebak itu menghasilkan dosa. 

Edelyn kembali, merangkulku keluar dari kelas menuju toilet wanita dibawah tangga koridor kelas 2. Di dalam saku rok abu-abu nya terdapat satu jendukan samar yang ku tebak adalah roti Jepang. Hm, rupanya gadis satu ini kurang pro dalam melakukan hal ini. 

Gadis yang tingginya lebih beberapa senti dari ku itu memasuki salah satu bilik. Sebelumnya mengancamku dengan beberapa gertakan dan pelototan agar aku tetap menunggunya dan tidak meninggalkannya. Aku hanya tersenyum remeh, mengibaskan tangan agar makhluk yang sudah menjadi sahabatku sejak setengah tahun lalu itu segera melakukan kebutuhannya. 

Suara air mengalir cepat dari kran berbunyi. Edelyn melakukan aktivitasnya. Beberapa detik kemudian berteriak heboh sambil memanggil-manggil namaku dan menceritakan apa yang terjadi padanya. "WOI ANJING LAH JO. BANYAK BANGET DARI DEPAN SAMPE BELAKANG. MANA GUE NGGAK BAWA SEMP*K LAGI!" Serunya. 

Aku tak peduli. Memilih menghadap cermin dan merapikan anak rambut yang jatuh di atas kening dan pelipis ku. 

Tanpa diduga, tiba-tiba pintu toilet dibuka paksa. Seseorang berlari masuk dan segera menutupnya cepat. Badannya menempel di pintu, memejamkan mata sambil bernapas terengah-engah. Aku membatu. Memperhatikan orang itu sebentar, lalu jatuh kepada name tag yang ada di atas saku bajunya. 

Hayden Sam. H. 

"Ngapain Kak? Nggak salah masuk toilet kan?" Tanyaku hati-hati. Takut-takut memikirkan berita dari portal berita yang sering datang di notifikasi ponselku. Tentang kekerasan, pelecehan, penganiayaan, bahkan sampai pembunuhan yang terjadi di dalam toilet. Lagi pula, untuk apa seorang laki-laki masuk kedalam toilet wanita padahal jelas-jelas tanda dan keterangan sudah tertempel di depan pintu. 

"Nggak." Katanya beranjak dari pintu, memandangi seluruh ruangan, lalu berhenti pada bilik paling ujung. "Gue mau sembunyi di sana. Kalau temen gue atau siapapun nyariin gue, bilang aja lo nggak tau apa-apa." Dia menjelaskan, berjalan menuju bilik tersebut. 

"Nama Kakak-"

"Hayden. Gue Hayden." Selanya cepat, lalu menutup pintu bilik begitu saja. 

"Udah tau, sat. Cuma mau bilang kalo nama lo mirip sama nama kakak kelas gue waktu SMP dulu njir. Mana sama-sama ganteng lagi." Gumamku kembali menghadap cermin. Tersenyum imut sambil bergaya seolah sedang pemotretan. Jujur saja, kalian tentu sudah pernah melakukan ini. 

"Gue denger." Kata sebuah suara berat di ujung ruangan. Seketika aku merinding entah karena apa. 

Pintu toilet dibuka paksa. Kepala seorang laki-laki muncul, langsung menatap mataku ketika matanya mengitari seluruh ruangan. "Lo liat Hayden nggak?" Tanyanya langsung to the point. Aku menggeleng. Dengan wajah polos khas siswi kelas 1 yang hobi pencitraan di depan kakak kelas ganteng. Aku melakukannya dengan dua alasan. Satu, demi menyenangkan hati si penunggu bilik ujung. Dan menjaga citra polos seorang Ryena di depan kakak kelas ganteng. Karena laki-laki itu, jujur saja benar-benar ganteng dan agak sedikit cantik? Walau sangat disayangkan karena sepertinya tingginya tidak begitu jauh denganku dibanding dengan si penunggu bilik yang tampak menjulang. 

Si kakel ganteng dengan rambut acak-acakan itu mengangguk, mengatakan 'Thanks' sekilas sebelum menutup kembali pintu. Jujur saja, aksen Australia nya sungguh kental walau dia hanya mengatakan satu kata saja. Aku sedikit tahu, karena aku pernah bermimpi menjadi mahasiswi di sana. Tolong di-amin-kan agar kita bisa bersekolah di manapun kita inginkan. Oke, ini tidak terlalu penting. 

Gara-gara kakel ganteng, aku nyaris melupakan Edelyn yang baru saja keluar dari bilik. Wajahnya terlihat lebih segar. Pastinya di balik saku rok yang menggembung dia membawa sabun wajah travel size. Dia menyengir setelah aku mendecak dan mengatakan bahwa dia lama. "Ya maapin dong. Tadi gue tuh sekalian cuci muka di dalem."

"Ngapain nggak di sini sih? Kan ada kacanya."

"Sekalian nguping hehe. Kalau menurut kadar pendeteksi cogan di otak gue, suara berat-berat basah tadi pasti pemiliknya ganteng, kan? Ngaku nggak lo?"

Aku mendecih. "Dih, tumbenan lo pake otak?"

"Bangsat." Makinya. "Jangan remehkan otak udangku, wahai manusia cebol. Bisa jadi radar pendeteksi cogan gue satu triliun kali lebih canggih dari radar lo."

"Gue nggak cebol ya sat. Mentang-mentang lo lebih tinggi tiga senti dari gue terus lo bisa ngerasa yang paling tinggi gitu."Katakuu kesal. Tak terima tentu saja. Hell, aku tidak se-cebol itu. 

"Siapa yang cebol?" Suara si penunggu bilik ujung setelah membuka pintu. Kami berdua menoleh kearahnya yang menatap kami dengan pandangan malas. Entah mengantuk, entah malas melek, entah karena memang sipit. 

Sesuai dugaanku, Edelyn menatap laki-laki itu dengan bibir membulat dan seruan tertahan yang terkesan lebay. Jangan heran, dia kebiasaan begini memang. Padahal jelas-jelas tadi dia mendengarkan percakapan kami. Bisa-bisanya sekarang berakting sok terkejut melihat seorang laki-laki di dalam toilet perempuan seperti ini. 

Edelyn si manusia lebay. 

"Lo juga, nggak usah mentang-mentang tinggi jadi bisa ngomong gitu seolah ngejek gue." Kataku kepada si penunggu bilik ujung. Entah sudah berapa kali aku menyebutnya begitu. Sepertinya julukan itu akan cocok untuknya yang tampak seolah ada bayang-bayang abu-abu misterius di belakang tubuhnya. 

Si penunggu bilik mengangkat satu alis. Idih sok ganteng sekali. 

Tapi... memang ganteng betulan sih. Tidak bisa disangkal. Jika berada di dalam grup musik, mungkin dia bisa menjadi visual no. 1.

Lupakan saja. 

"Lah kan emang lo pendek. Coba sini deketan, nah kan nyampe bahu gue aja kagak." Kata si penunggu bilik meremehkan. "Nggak nyampe apanya, nih! Mata tuh dipake!!" Balas ku ngegas. Sudah kesal dengan tingkahnya yang super iew itu. 

Lalu tanpa dosa dia mengedikkan bahu, melangkah menuju pintu dan membukanya. Sebelum menutup pintu, dia berbalik "Bhay, selir-selir ku." Lalu meninggalkan sebuah wink yang berhasil membuat perutku mulas seketika. Berbeda dengan Edelyn yang nyaris melompat-lompat gila jika saja aku tidak memeganginya. 

Edelyn si manusia lebay. 

"Dah, mau berapa lama lo ngeremin telur di sini? Mau balik kelas nggak lo?" Tanyaku kepada Edelyn yang malah seperti orang linglung. 

"Hah? Oh iya hayu lah." Balasnya setelah sempat mengerjap. Mungkin menyadarkan diri dan mengambil jiwanya kembali. Lalu dia membuka pintu toilet dan meninggalkanku terlebih dahulu membuatku harus mengejarnya yang tiba-tiba menjadi berlari penuh semangat seperti itu. Entahlah mungkin mood swing. Jadi kalau tiba-tiba Edelyn marah-marah tidak jelas... jangan heran. 

Sampai di kelas tepat sekali belum masuk berbunyi. Untung saja aku sempat membawa bekal, jadi tidak terlalu khawatir jika nanti tiba-tiba perutku berbunyi. Edelyn mah bagian santuy nya, dia bisa meminta makanan ke mana saja. Aku juga sih, kami kan partner kemana saja. Kalau kata Edelyn, kita berdua seperti Krystal Jung dan Jessica Jung. Si kakak-beradik yang saking dekatnya sampai seperti kembar. Kalau kami sebaliknya, sahabat yang saking dekatnya sampai seperti kakak-beradik. 

Agar lebih cepat aku iyakan saja. 

Aku masih memperhatikan Edelyn yang masih mencari nafkah mengelilingi seluruh meja di kelas alias mencari makanan yang nanti akan dibagikan kepadaku ketika dia sudah mengumpulkan lumayan banyak makanan. Lalu tiba-tiba Jeandra atau yang sering kupanggil Jeje berlari masuk ke kelas dan berteriak dengan suara lumba-lumba nya, mengatakan kalau guru-guru sedang ada rapat dadakan sehingga akan free class selama dua jam pelajaran kedepan. 

"Tapi nggak jadi free class." Tukas Jeje menghancurkan khayalan kami semua yang sudah bersiap untuk leyeh-leyeh. 

"Lah, anjing." Sudah bisa ditebak, itu Edelyn. 

"Wettt, sante loh bos." Jeje memandang Edelyn sok ketakutan, "Maksudnya kita tetep jamkos, tapi dikasih tugas hehe. Jangan keroyok gue!" Kemudian laki-laki yang paling dekat denganku di dalam kelas ini berlarian kesana kemari menghindari para perempuan yang siap mengamuk. Edelyn? Tidak kok. Mungkin dia sedang tidak mood, kalau sedang bersemangat sudah dipastikan dia berada di garis terdepan. 

Ea. 

Astaga, kapan kelasku bisa tenang? 

Rina si gadis yang selalu terlihat imut karena wajah bulatnya berjalan menuju papan tulis setelah sempat berbicara dengan seseorang di ambang pintu sambil membawa secarik kertas di tangan kirinya. Dia menuliskan detail tugas yang diberikan oleh guru, yang segera aku sahuti dengan helaan napas malas sembari mengambil buku dari dalam tas dan mulai mengerjakan soal. 

Soal sudah setengah ku kerjakan, rasanya pening. Malas membaca rentetan kalimat yang terbelit, mana banyak kata asing yang belum ku ketahui pula. Untung saja hape punya KBBI, jadi... tinggal sat-set-sat-set beres. 

Edelyn yang sejak tadi menyalin tugasku dengan kepala yang dia letakkan di atas meja dengan malas-malasan tiba-tiba menegakkan badannya begitu saja. Tentu membuatku yang sejak tadi setengah memperhatikan soal dan setengahnya lagi memperhatikan dirinya jadi bingung. Aku mengernyit, "Ngapain lo?"

Edelyn menoleh sebentar, lalu menggeleng dan meletakkan kepalanya kembali. Jangan bingung, dia biasanya se-random itu memang. Mungkin besok jika mood-nya sudah membaik dan kutanya tentang barusan dia akan menjawab tiba-tiba melihat cogan lewat, atau apapun itu. 

Aku mengedikkan bahu, lanjut mengerjakan soal yang tinggal tiga nomor lagi. Jika kalian juga membenci soal dengan kalimat panjang yang jawabannya hanya satu kalimat pendek angkat tangan. Berarti kalian adalah temanku. Ya. 

"Udah selesai?!" Itu Rifa, si juara kelas yang selalu bersuara sekeras toa ketika terkejut atau kesal. Begitu juga saat ini. Dia mengambil buku tulisnya, melihat beberapa nomor kosong yang belum dia isi-bertanya mengapa jawabanku bisa begini dan begitu. Yang ku balas begini begitu juga. Sulit memang meyakinkan si peringkat satu. 

"Halah udah napa sih Ren, bentar lagi juga bel." Edelyn bersuara setelah sempat mendecak, mungkin karena suara heboh Rifa mengganggu tidurnya. Aku melirik jam dinding, ya... sebentar lagi—

'TEEEEEEETTTTTTTTTT!!!'

—bel berbunyi. 





































✺✺✺ 

ehe jadi gimana pendapat kelen tentang part 1? 

terima kasih sudah membaca(*'˘'*)ー❣❣

ーatéleia, 2O2O