"Aku ingin menghancurkan tembok besi itu."
"Kau gila?"
Dengan mengerutkan kening dalam-dalam, aku membuka mulutku. Menatap pria yang duduk di kursi, berpura-pura sedih,
"...Kau memang gila, dalam arti lain, ya."
"Kenapa kau yang ditampar, bukan aku?"
"Tentu saja. Karena aku lebih memilih terluka daripada melihatmu, Yeoju."
"Hah?"
Hwaak-
Nada suaranya yang tenang, seolah menanyakan hal yang sudah jelas, dan tatapannya yang manis membuat hatiku berdebar. Untuk menyembunyikan pipiku yang memerah, aku memutar bola mataku, menghindari