Dan aku ingin kau tahu
Tapi kamu selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan.
"Gak tau" jawab atha yang masih sibuk mengerjakan tugas gambarnya.
"Jangan begitu tha, ini soal hati, gabisa dianggap enteng. Gimana mau bahagia kalo lo aja gak tau perasaan lo sendiri kayak gimana." Ucap jihoon yang langsung mengundang seluruh tatapan aneh.
"Ini beneran bang jihoon kan?" Tanya jeongwoo memicingkan mata.
"Ji, aku bersumpah, kukira kau hanya bisa menghakimi," kata Junkyu dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak tahu kau bisa seserius ini."
Jihoon berdecak sebal. "Sialan, dikira kerjaan gue julid doang kali ya." Lalu semuanya tertawa.
"Eh, tapi aku juga setuju dengan Jihoon. Lagipula, ada banyak pria yang lebih tampan dari Haruto, misalnya aku." kata Junkyu, yang langsung mendapat tepukan tangan meriah dari Jihoon dan Jeongwoo.
Jeongwoo memperhatikan tangan Atha yang terampil bergerak di atas kertas gambar. "Gambarmu juga bagus. Bagaimana mungkin dia tidak menyukai gadis pintar sepertimu? Teruslah saja, teruslah menyukaiku hehe."
Atha menghentikan kegiatannya sejenak sebelum menatap triple J yang memang sedang menatapnya balik. "Aku benar-benar tidak tahu apakah aku ingin melanjutkan atau tidak. Dulu aku bisa menjawab 'tidak' untuk pertanyaan yang sama. Tapi sekarang aku mulai menyadari, sampai kapan pun itu bukan takdirku, sekeras apa pun aku berusaha, aku tidak akan bisa mendapatkannya,"
Sebelum melanjutkan omongannya, gadis itu menghela napas lelah. "Bukan cuma karena omongan kalian yang bikin gue mikir berulang kali, tapi karena sikap haruto itu sendiri."
"Terus sekarang lo mau kayak gimana?" Tanya junkyu pelan, takut pertanyaan menyakiti sang lawan bicara.
Gadis itu menoleh sesaat lalu tersenyum kecil. "Kita lihat aja nanti, sampai mana titik lelah gue. Dan saat itu terjadi, gue beneran bakal nyerah dan pergi."

Haruto terkekeh pelan saat suara diseberang sana terus mengomelinya tanpa henti. Niatnya hari ini haruto dan atha akan berjalan-jalan ke taman hiburan, namun saat atha menelepon, laki-laki itu ternyata belum bersiap dan atha harus menunggu lama seperti ini.
"Oh, Ruto, jangan tertawa! Cepat bersiap-siap, aku—hm, maksudku aku sudah siap sejak tadi, aku lelah menunggu!"
"Siap laksanakan tuan putri! Pangeran siap menjemput tuan putri. Yaudah kalo gitu pangeran tutup ya teleponnya." Setelah itu ia pun memutuskan panggilan.
Saat sudah siap berangkat, ponselnya bergetar dan menampilkan pesan masuk dari sang pujaan hati.
Cimoy : haru, ada waktu ga? Bisa temenin aku jalan?
10.40 pagi
Haruto : oh iya bisa, aku jemput kamu sekarang
10.40 pagi
Setelah itu haruto bergegas pergi dengan senyum secerah mentari. Melupakan apa yang seharusnya ia lakukan.

