Saya ingin mengatakan...
Jangan menggigil, menggigil, menggigil
Seorang gadis berambut merah terus menerus meneriaki nama haruto, tapi lelaki itu tak menghiraukannya dan terus saja berjalan.
"HARUTO!! MAU KEMANA?" Teriaknya sekali lagi.
Orang yang namanya dipanggil akhirnya menoleh, "Cimoy"Maaf, tapi kayaknya hari ini aku gak jadi anterin kamu"
"Loh, kenapa? Kok tiba-tiba berubah pikiran? Kamu udah jauh-jauh nyampe sini loh!"
"Maaf aku gak bisa anterin kamu, aku lupa kalo aku udah punya janji sama atha"
"Emang gak bisa dibatalin aja? Dia kan sahabat kamu, aku rasa dia bakal ngertiin"
"Aku tau atha bakal ngertiin, tapi tetap aja aku gak enak sama dia. Kalo gitu aku pergi dulu ya" pamit haruto sebelum benar-benar meninggalkan kediaman gadis berambut merah tersebut.
Cimoy hanya tersenyum dan mengangguk lemah. Sejujurnya saat ini ia sedang menahan amarahnya, tapi bagaimanapun juga ia harus terlihat baik di mata haruto.

Ketukan pintu terdengar, atha bergegas membukakan pintu rumahnya.
"Ruto, kukira itu tidak terjadi..." kata gadis di depannya sekarang dengan lembut.
"Maaf atas keterlambatannya, jalannya agak macet. Saya akan bawakan pizza saja."
"Waahhh pizza!!" Sorak atha dengan mata berbinar. Hal itu membuat haruto tertawa pelan lalu mencubit pipi gadis itu gemas.
Setelah lima belas menit, mereka pun memutuskan tidak jadi pergi ke taman hiburan dan memilih berdiam diri dirumah saja sambil memakan pizza yang haruto bawa.
"Umm, hubungan lo sama cimoy gimana?" Tanya atha hati-hati.
"Gak ada yang spesial, gitu-gitu aja. Masih spesialan juga hubungan kita" jawab haruto, bercanda.
"Senyum, bicaralah pada dinding." Gadis itu menjawab dengan marah, meskipun jantungnya berdebar kencang.
"Kenapa gemes banget sih thaa.." ujar haruto sambil memainkan rambutnya.
Haruto tidak tahu saja, candaannya bisa berdampak pada gadis yang ada di depannya kini.
"Dih kemana aja lo baru sadar" jawab gadis itu cemberut. Dan lagi-lagi haruto hanya tersenyum.
Oh iya, ngomong-ngomong yang katanya haruto mau nembak cimoy pas hari ulang tahun cewe itu (part 2), haruto beneran udah nembak, tapi sampai sekarang masih belum diberi jawaban sama cimoy. Bahasa kasarnya mah digantung tanpa kepastian.
Setelah itu mereka dilanda keheningan beberapa saat, sebelum sang gadis memutuskan untuk bertanya.
"Watanabe..–"
Haruto melihat gadis yang memanggil namanya tersebut lalu menaikkan sebelah alisnya, bingung, dan seolah bertanya 'Mengapa?'
"–...haruto" lanjut gadis itu.
"Iya, kenapa?" Tanya haruto sabar, sedangkan atha sibuk memainkan kukunya.
"Haruto?"
"Hm?"
"Apakah kamu tidak menggigil?"
Lelaki itu menoleh lalu memilih memalingkan wajah, entah karena tidak mau atau memang tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut.
Haruto, tanpa kamu sadari kamu gemetar di dalam pikiranmu sendiri.
