Menggigil

8

Aku akan selalu menunggumu
Jadi kamu tahu betapa aku membutuhkanmu
Tapi kau bahkan tak pernah melihatku, kan?


Haruto berseru senang saat gadis dihadapannya kini menganggukkan kepala, tanda memberi jawaban atas pertanyaannya.

"Makasih, makasih, makasih" ucap lelaki itu berulang kali. Sedangkan sang gadis hanya menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.

"WOW, AKHIRNYA AKU DITERIMA OLEH CIMOY!! SEKARANG KAMI BERDUA JADI PARTNER!!" teriak Haruto di tengah lapangan kepada semua orang yang ada di lapangan.

"Ih haruto udah ah, aku malu tau!!" Ujar cimoy malu-malu.

Junkyu memutar bola matanya malas, sedangkan jihoon yang berdiri disebelahnya mendecih sebal, "dih sok iye banget, gue julidin nangis tuh orang!"

"Itu si tono buta matanya apa gimana sih? Dia gak sadar apa si atha suka sama dia, sebel sendiri gue" kata jeongwoo, memulai sesi pergibahan.

"Iya buta, buta mata hatinya" sahut junkyu yang membuat hyunsuk dan junghwan tertawa.

Sedangkan orang yang sedang dibicarakan hanya diam. Menatap sepasang kekasih yang kini sedang berpelukan bahagia.

"Kalo mau nangis jangan disini" bisik doyoung pada atha.

"Hah?"

Doyoung tersenyum. "Ayo gue anter pulang, nanti nangis aja sepuasnya dijalan"

Belum sempat gadis itu membalas perkataannya, doyoung sudah terlebih dahulu menariknya keluar dari lapangan tersebut.

Tanpa mereka sadari, haruto terus memperhatikan keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Wan, itu atha kenapa pulang duluan?" Haruto menghampiri junghwan dan yang lainnya, tidak lupa dengan kekasih barunya yang tengah ia gandeng.

Junghwan bersenandung malas. "Hei, maafkan aku, kau bodoh. Kukira kau sudah tahu."

"Jangan malas, aku akan mencabutnya duluan," kata Junkyu.

"Pada kenapasih?" Tanya haruto bingung.

"Coba lo pikir" balas hyunsuk lalu memilih menyusul junkyu.

photo

Doyoung menghentikan laju motornya saat lampu lalu lintas berwarna hijau kini berubah menjadi merah. Atha menyandarkan kepalanya dipunggung lelaki itu. Sangat nyaman, pikirnya.

Tak lama kemudian sebuah motor serta sang pengendara yang sangat ia kenali berhenti tepat disamping mereka. Atha memilih memalingkan wajahnya ke arah lain, sedangkan sang pengendara diseberang menatapnya pedih. 

Lelaki itu tidak mengerti, mengapa ia merasa begitu marah saat melihat atha berboncengan dan memeluk lelaki lain selain dirinya. Haruto menggelengkan kepala, menepis pikiran anehnya. Ia terus mengingat bahwa mereka hanya sebatas sahabat. Lagipula bukankah seharusnya ia bahagia, sebab kini ia tengah bersama dengan sang kekasih yang terus ia dambakan?

Haruto menautkan alisnya, marah, saat ia melihat doyoung dengan sengaja menggenggam tangan yang sedang melingkari perut lelaki kelinci itu. Doyoung meliriknya sekilas, lalu tersenyum penuh arti. Dan haruto membenci senyuman itu. Senyuman meremehkan, serta menandakan sebuah kemenangan.

Setelah itu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, doyoung langsung saja melajukan motornya, seperti tak ingin berlama-lama melihat pasangan baru –haruto dan cimoy– itu.

"Haru itu lampunya udah hijau" ujar cimoy menyadarkan haruto.

"Hah? Oh iya, maap aku gak fokus" balas haruto. Lalu setelah itu ia segera melajukan motornya.

photo