Bisakah cinta dimasak?
n번째계절
17.1K 12
Felix
Takdir


Di sebuah stasiun bawah tanah, seorang gadis dengan seragam sekolah lengkapnya tengah gelisah sembari terus mengecek ponselnya.


Y/N
Ck, kumohon datanglah. Aku sudah hampir terlambat.

Ia terus berjalan mondar-mandir sembari mendesah pelan.


Y/N
Huft, kapan keretanya akan sampai? Jika tidak, aku bisa benar-benar terlambat.


Felix
Hei, kau yang disana. Bisa tidak berhenti mondar-mandir, dan duduk tenang saja. Kau tuh mengganggu pemandanganku tau.

Y/N yang merasa di tegur, segera membalikkan badannya. Mendapati seorang pria dengan seragam yang sama, menatap datar ke arahnya.

Y/N hanya bisa bergumam dalam hati.


Y/N
Apasih orang itu? Menyebalkan sekali.

Y/N tidak peduli dengan kata-kata pria di belakangnya. Dia kembali mondar-mandir sambil berdoa agar keretanya segera tiba.

Tidak lama kemudian, mobil yang ditunggunya tiba. Ia segera masuk ke dalam mobil.

Tentu saja Felix juga ikut naik untuk memenuhi kereta. Kereta itu penuh sesak dengan para pekerja, jadi dia dan Y/N berdiri berdampingan.

Y/N menatap Felix sebal sembari bergumam.


Y/N
Ck, kenapa juga aku harus berada di sampingnya? Menyebalkan.


Felix
Kau pikir aku mau berdiri dekat dengamu? Dasar gadis aneh.


Y/N
Apa kau bilang?! Kau menyebutku aneh? Kau sendiri apa? Tuan menyebalkan!


Felix
Apa? Aku menyebalkan? Kau itu yang aneh!


Y/N
Aku tidak aneh, kau yang menyebalkan!

Dan terjadilah perdebatan kecil di antara keramaian kereta tersebut. Semua orang di sekitarnya hanya diam tanpa berniat untuk melerai.

15 menit berlalu, sampailah mereka di stasiun bawah tanah dekat dengan sekolah. Namun ternyata, perdebatan kecil tersebut belum berhenti.


Y/N
Apa kau?


Felix
Kau yang apa? Menghalangi jalanku. Menyingkirlah!

Felix meninggalkan (Y/N) dengan perasaan kesalnya.


Y/N
Aku berharap pada dewi fortuna, agar tidak bertemu dengan pria menyebalkan itu lagi. Bahkan jika kami berada di sekolah yang sama sekalipun.

(Y/N) kembali melanjutkan perjalanannya menuju sekolah. Beruntung gerbang sekolah belum di tutup oleh pak satpam.

(Y/N) sampai di kelasnya. Dengan nafas yang memburu, ia berhenti sejenak di depan kelas. Somi mendekati (Y/N) yang masih terengah-engah.


Somi
kau darimana saja? untung hari ini guru-guru ada rapat.


Y/N
dengan serius!

somi mengangguk sebagai jawaban.


Y/N
ck, kalau begitu aku tidak usah buru-buru tadi.

somi hanya memutar bola matanya malas.


Felix
minggir!

(Y/N) menoleh ke belakang. Dia terkejut, karena pria yang berdebat dengannya di kereta tadi juga mengikutinya.


Y/N
yak! kau mengikutiku?! kau itu stalker ya?!

Tuduh (Y/N) dengan pertanyaan beruntunnya. Felix mengerutkan keningnya bingung. Stalker? dia dan (Y/N) saja baru bertemu tadi.


Felix
kau itu sakit ya? atau otakmu memang sudah rusak? kita saja baru bertemu tadi. sudahlah minggir! aku mau lewat!

Felix mendorong (Y/N) cukup keras. (Y/N) kembali menggerutu kesal.


Y/N
ck, kan bisa bicara baik-baik. tidak usah mendorongku seperti itu juga!

Somi yang tak tahu menahu hanya menatap keduanya secara bergantian.


Somi
yak! kau mengenalnya?


Y/N
tidak


Somi
sepertinya dia murid baru


Y/N
mungkin. sudahlah aku mau duduk, lelah berdiri terus menerus.


Somi
memang siapa yang menyuruhmu melakukannya.

Somi pun berlalu meninggalkan (Y/N) lebih dulu. (Y/N) mendengus kesal.

Ia lalu berlalu menuju kursinya, yang sialnya malah di duduki oleh murid baru itu.


Y/N
yak! menyingkirlah! kau duduk di kursiku.


Felix
kau saja yang pindah, aku suka duduk disini.

(Y/N) tersenyum kecut mendengar jawaban pemuda di depannya.


Somi
sudahlah (Y/N), kau duduk saja di belakangku.


Y/N
baiklah, baik. kau boleh mengambil tempatku. tapi ku pastikan, kau tak akan bisa hidup tenang selama disini.

Dengan terpaksa, (Y/N) duduk di belakang Somi. Tak beberapa lama Krystal saem datang, pelajaran pun segera di mulai.