La première neige
1

TDragon
2020.04.19Vues 427
Come on, let's go and play!
I never see you anymore
Come out the door
It's like you've gone-"
Senandung lirih terdengar dari mulut sesosok gadis remaja yang baru saja menyumpal bibirnya dengan telapak tangan. Matanya yang bulat, kini menyipit awas, mengintai dari balik pintu bilik kecilnya yang dibuka sedikit lebih lebar untuk memudahkannya melihat saluran televisi di ruang keluarga.
Tidak ada yang menarik. Tapi baginya laporan ramalan cuaca jauh lebih berharga dari apapun saat ini. Ia menekuk pergelangan kakinya yang pegal, melakukan scretching setelah berdiri disana cukup lama. Tangannya meraih bennie rajutan berwarna soft pink, sebelum keluar dari biliknya dan melakukan rutinitasnya.
"Keluar lagi?"
Ia berhenti setelah mendengar pertanyaan dari Bibinya. Susah payah menelan saliva karena berurusan dengan adik ibunya ini tidak pernah mudah "Seperti biasa, Bi." jawabnya tanpa ragu.
"Kau mau keluyuran lagi? Dicuaca sedingin ini?" sang Bibi sudah berdiri dengan tangan bersedekap memeluk tubuhnya, posisi andalannya setiap beradu argumentasi dengan keponakan.
"Maaf, bi. Tapi aku tidak punya banyak waktu. Permisi." ia menunduk tanpa menunggu balasan lagi, dan segera melarikan diri.
Rambutnya mengembang beterbangan diterpa angin yang dinginnya menusuk tulang, nafasnya mulai memberat karena terus berlari menuju tempat tujuan. Ia tidak mau kehilangan atau sedikit saja ketinggalan momen sekali dalam setahun yang begitu berharga baginya.
Ia tersengal, sesekali terbatuk mencoba mengeluarkan sesak yang memenuhi paru-parunya. Cuaca semakin dingin, tapi setidaknya, ia sudah sampai ketempat yang ia tuju setelah melarikan diri dari omelan Bibinya.
.
.
.
"Tuan muda. Kita sudah sampai."
Lelaki yang dipanggil Tuan Muda tersebut mengangguk sebagai balasan. Iris matanya tampak begitu tenang, menjelajah gugusan pemandangan tepi Danau buatan, tanpa adanya sorot kagum yang biasa tercetak jelas di mata siapapun yang memandang hamparan pemandangan di depannya.
"Tuan-"
Ia menghentikan apapun yang hendak dikatakan oleh sopir keluarganya tersebut. "Tinggalkan aku."
"Tapi Tuan-" sang sopir kembali menghentikan runtutan kata protes setelah sosok Tuan Muda menatapnya dengan serius. "Baiklah Tuan Muda. Saya akan berjaga disini." tuturnya patuh yang hanya dibalas dengan dehaman pelan.
Lelaki muda itu keluar dari mobil hitam yang ditumpanginya sebelum kembali termenung menatap sekelilingnya. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan hingga kepulan uap membumbung tinggi keluar dari mulutnya. "Mom... Aku datang."
.
.
.
"Semoga ramalan cuaca hari ini tepat." bibirnya mengerucut kesal, bohong jika gadis ber-bennie soft pink itu tidak khawatir bahwa ramalan atau prediksi salah satu stasiun televisi tadi tidak benar. Ia sudah mengalaminya 2 tahun lalu. Pulang dengan perasaan kesal luar biasa dan menahan tangis sampai memerah semua wajahnya, belum makian dari Bibinya yang membuatnya semakin terpuruk kala itu.
Sialnya hari ini ia lupa membawa jaket terhangat yang ia punya sehingga beberapa kali ia harus menghangatkan diri dengan menggosok-gosok kedua tangannya. Perasaan kesal dengan ingatan dua tahun lalu kembali datang. Siapa yang mau kembali mengalami kejadian buruk? Namun menurut pengalaman, sekali ia tertimpa kesialan, ia akan terus tertimpa kesialan selama satu hari penuh dan berakhir dengan menangis kesal membenamkan diri di bilik kumalnya.
Matanya sudah berkaca-kaca, hampir saja air matanya jatuh jika ia tidak menahannya dengan mengerjapkan matanya cepat sembari mendongakkan kepalanya.
"Sial." umpatnya frustasi saat usahanya tidak berhasil. Ia berjongkok mendekap tubuhnya yang kedinginan sembari menyeka air matanya.
Pemandangan tersebut tidak lepas dari pengamatan sosok lelaki yang sejak tadi mengernyitkan matanya dengan tingkah gadis yang berada beberapa meter didepannya.
Ia tidak ingin terlibat. Itu yang diutarakan benaknya. Itu juga yang diteriakkan sisi warasnya, saat kakinya justru berkhianat. "Ada apa denganku?" batinnya. Dahinya berkerut saat menyadari ia sudah duduk ditepi Dermaga, disamping sosok asing yang sedang menangis. "Dengan pakaian setipis itu kau bisa mati kedinginan."
Mereka sama-sama terpaku saat bertukar pandang, hingga salah satunya yang entah siapa, memalingkan wajah terlebih dulu.
"Kau siapa? Maaf, Bibiku akan memukulku sampai mati, jika tau aku ikut aliran sesat."
Si lelaki hanya bisa tertegun tidak percaya. "Apa aku terlihat seperti penganut aliran sesat?"
Gadis itu menatap penampilan lelaki disebelahnya, mulai dari potongan rambut sampai ke kaki, dan berakhir di wajah lawannya. "Aku pernah ditawari oleh preman lain."
Lelaki itu berdecak. Seringaian tidak percaya tersungging dibibirnya. "Aku... Terlihat seperti preman?"
"Abaikan apa yang kukatakan tadi. Bibi benar, tidak seharusnya aku berbicara dengan orang asing." ia beranjak, tangannya mengibaskan debu di bagian belakang pakaiannya. "Jangan ikuti aku lagi, aku tidak berminat dengan aliran yang kau bawa. Terimakasih. Aku pergi dulu." ucapnya. Ia berbalik hendak pergi saat buliran seputih kapas yang mendarat di rambutnya menahan langkahnya. Buliran-buliran yang disebut orang-orang sebagai salju yang ia nantikan mulai berjatuhan mendarat di bumi.
Matanya melebar, terpesona dengan pemandangan yang ia saksikan. Senyum lebar tersungging diwajahnya sangat kontras dengan sosok lelaki yang duduk diujung dermaga yang justru menatap jauh salju pertama yang sedang turun dengan raut sendu tak dapat didefinisikan.