I didn't knew there was a director for this concert
[omongan] Sang Sutradara, Panggung, dan Visi: Di Balik Produksi Pertunjukan Comeback BTS
Bagaimana Hamish Hamilton dan tim kreatif kelas dunia membangun salah satu produksi konser paling kompleks dalam sejarah K-pop.
Setiap konser besar memiliki seorang sutradara. Konser comeback BTS di Gwanghwamun memiliki salah satu sutradara terbaik di dunia.
Hamish Hamilton adalah sutradara Inggris yang bertanggung jawab atas beberapa acara televisi langsung yang paling banyak ditonton di dunia — beberapa pertunjukan paruh waktu Super Bowl, Academy Awards, Grammy Awards. Ketika HYBE mengajaknya untuk menggarap BTS THE COMEBACK LIVE | ARIRANG, ia menggambarkannya sebagai salah satu produksi yang paling kompleks secara logistik dalam kariernya. Sebuah alun-alun publik bersejarah di pusat Seoul, 80.000 hingga 104.000 orang di lokasi, siaran langsung global Netflix yang berjalan secara bersamaan, dan kebutuhan untuk menghormati bobot emosional yang intim dari sebuah kepulangan dan tontonan visual yang dituntut oleh penonton di seluruh dunia — semuanya sekaligus.
Panggung itu sendiri dirancang oleh Guy Carrington dan Florian Wieder, keduanya merupakan tokoh besar dalam desain konser berskala besar. Konsep mereka adalah bingkai foto: sebuah struktur yang secara bersamaan memuat energi modern BTS dan mencerminkan kemegahan historis latar belakang Gwanghwamun. Gerbang Istana Gyeongbokgung kuno menjadi elemen hidup dari produksi, bukan sekadar pemandangan, diterangi dengan warna ungu tua, merah, dan biru — identitas visual BTS menyatu dengan identitas arsitektur Korea.
Instalasi cahaya meluas melampaui panggung di seluruh kota: sepuluh layar fasad media di dekat Gwanghwamun, instalasi bercahaya di sepanjang Sungai Cheonggyecheon, dan bangunan-bangunan ikonik di seluruh Seoul — Menara Lotte World, Menara N Seoul, Jembatan Banpo — semuanya diselaraskan dengan palet warna ARIRANG.
Hasilnya adalah sebuah konser yang terasa intim sekaligus monumental, personal sekaligus nasional. Hamilton mengatakan bahwa tantangan dalam memproduksi pertunjukan seperti ini adalah membuat 100.000 orang merasa seperti berada di dalam sebuah ruangan. Pada tanggal 21 Maret 2026, di Gwanghwamun, ia berhasil mencapai hal itu—dan menyiarkannya kepada jutaan orang lainnya.