Bandung dan Cerita Singkatnya

04

Hari ini Bandung hujan tepat pukul 5 sore, bersamaan dengan Ara dan Haidar yang baru saja pulang dari kesibukan mereka. Mau tidak mau mereka harus berteduh setidaknya sampai hujan sedikit reda. 


"Bandung suka tiba-tiba hujan gini yah a sekarang, nantimah persiapan bawa jas hujan aja biar-- a Idar?" Ara bingung karena sepertinya barusan Haidar masih di sisi nya. 


"Nih, minum biar gak masuk angin." Haidar datang dari belakang dengan menyodorkan segelas teh hangat untuk Ara dan juga untuk dirinya sendiri. Tanpa diminta, Haidar itu orang nya peka. 

Dulu saat Ara masih tinggal diasrama, Ara pernah iseng bilang ke Haidar kalau di sana jarang sekali ada tukang baso lewat.

Sampai saat malam harinya teman sebelah kamar Ara menyodorkan keresek dengan isi 5 bungkus baso di dalamnya. Saat ditanya dari siapa, katanya dari a Idar. Ko banyak banget? Biar cukup untuk semua teman Ara, katanya. "Dimakan bareng-bareng yah. Mulai besok si amang nya lewat ke kosan kamu."


"Diminum teh nya, jangan malah ngeliatin yang lebih manis dari teh." Haidar maksudnya. 


"Dih teh mah anget, kalau a Idar mah dingin," Ejek Ara.


"Tapi kamu lebih milih yang dingin kan?" Ara hanya terkekeh mendengar pembelaan Haidar. 

Keduanya larut dalam dinginnya hujan dan rasa hangat pada tangan masing masing karena gelas berisi teh yang mereka genggam. Sampai akhirnya hujan sedikit mereda. 


"Udah agak reda, pulang aja yuk? Sebentar lagi maghrib soalnya, pamali anak perawan gak boleh di luar pas maghrib. Kamu pake aja sweater aa, gapapa kan kalau basah sedikit?" Jelas Haidar. 


"Ya gapapa atuh, kan nanti a Idar juga bajunya ikut basah."


"Ya siapa tau, nanti kalau kerudungnya jadi gak rapi malah nyalahin air hujan kan berabe." Ejek Haidar.
"Yaudah hayu cepet, nih pake helm nya... Eh sebentar." Haidar kembali melepas helm ara lalu menarik tali yang ada pada tudung sweater putih yang Ara kenakan. 
"dah, aman." kata haidar sambil menepuk kepala Ara. 

Apa yang ara lakukan? Hanya tersenyum