Aku menginginkanmu sejak aku lahir

Keharuman Takdir

Malam musim panas yang lembap setelah musim hujan berlalu.

 

Udara di kota itu selalu pengap, dan bau darah manusia teredam dan samar.

 

 

Raphael sudah terbiasa dengan bau itu.

 

Itu harus terasa familiar. Itulah hidupnya, kematiannya, alasan keberadaannya.

 

Namun malam itu.

Dia mengambil sesuatu yang asing baginya.

 

 

 

Aroma yang bercampur dengan angin yang beraroma rempah.

 


Aroma yang dalam, kaya, dan lengket.

Itu adalah darah.

Namun, itu bukan hanya darah manusia.

 

Darah Takdir.

 

 

Tubuhku tiba-tiba bereaksi begitu hebat sehingga aku tidak bisa menyembunyikannya.

 


Dia berhenti.

Di tengah jalan, dalam kegelapan gang yang sepi, matanya bersinar dingin.

 

Akal sehat berbisik.

"Sekarang Melarikan diri."

Insting berteriak.

"Sekarang,itu Darah Ambillah."

 

____________________________________________________________________

 

Dia adalah manusia biasa.
Hanya seorang mahasiswa biasa yang Anda lihat di mana-mana.

 

 

 

Namun, hanya dia yang berpikir demikian.

 

 

 

 

 

Penampilannya mampu membuat siapa pun menoleh setidaknya sekali.

 

 

 

 

 

 

malam yang gelap,
Pemandangan dirinya duduk di bangku di depan perpustakaan sambil membaca buku bukanlah sesuatu yang istimewa.

 


Namun, darah yang mengalir di dalamnya mengacaukan semua naluri Raphael.

Dia menarik napas dalam-dalam saat mendekat tepat di belakangnya.
Aroma yang tak tertahankan.

 

 

 

 

 

Seolah-olah sudah tertanam dalam darahnya sejak lahir, hal itu hanya ditujukan untuknya.

Jantungku berdebar kencang.

 

 

 

 

Tidak, jantung yang mati itu menggeliat kesakitan.

Saat melihat lehernya, aku langsung merasa haus.

Pelan-pelan, selangkah demi selangkah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bayangan menyebar dari kakinya saat dia mendekatinya.

Pada saat itu, dia mengangkat kepalanya.

Mata kami bertemu.

Untuk sesaat, seolah waktu telah berhenti.

 

Mata yang jernih dan transparan.

 

 

 

 

 

 

Dia mendongak menatapnya dengan tatapan yang seolah berkata, "Aku tidak tahu apa-apa," dan tatapan yang juga seolah berkata, "Siapa kau?"

Kenyataan bahwa keberadaannya, aromanya, kini menghancurkan seseorang.

 

Raphael terkekeh.

 

 

 

 

Sudah lama sekali.

Aku merasakan insting yang begitu kuat sehingga tak mampu mengalahkan akal sehat.

 

Dia berbalik.

Aku melewatinya.

Namun pada saat itu, aroma di udara menarik perhatiannya.

 

 

 

 

 

Kerinduan yang tak pernah berakhir.
Takdir yang telah dimulai.

 

 

 

 

________________________________________________________________

 

Saya sapa Anda dengan karya pertama saya..!

Tolong jaga aku baik-baik!