Jungkook berdiri di tengah ruangan merah. Sebuah guillotine berdiri di hadapannya, dan Taehyung berdiri tanpa alas kaki di atasnya. Itu adalah pemandangan yang telah ia lihat berkali-kali dalam mimpinya, tetapi kali ini berbeda. Wajah Taehyung tidak buram. Semuanya tampak jelas—dari ujung alis dan bibirnya hingga cara dia menatap Jungkook.
“Kau di sini.” Taehyung tersenyum. Tapi senyum itu begitu sedih sehingga Jungkook hampir tak bisa bernapas. Jungkook melangkah lebih dekat ke golok. “Aku tidak terlambat kali ini.”
Saat ia mengucapkan kata-kata itu, kenangan lama membanjiri pikiran Jungkook. Gang yang basah karena hujan, rambut Taehyung yang basah, ujung jarinya menulis nama Taehyung di pergelangan tangannya berulang kali. Dan dirinya sendiri, menangis sambil memeluk Taehyung di depan dukun. Jungkook ingat. Taehyung disebut sebagai sosok pembawa sial oleh orang-orang. Sosok yang dipanggil oleh dukun, sosok yang menanggung takdir atas nama orang lain. Taehyung selalu menanggung kemalangan orang lain, dan pada akhirnya, ia mencoba menanggung kemalangan Jungkook juga.
Saat itu, Jungkook berpegangan erat pada Taehyung. “Jangan pergi.” Gumam Jungkook saat ini. Itu adalah hal yang sama yang dikatakan dirinya di masa lalu. Mata Taehyung bergetar. “Kau ingat.” “Mengapa kau melakukan itu?” Suara Jungkook bergetar. “Mengapa kau membuatku lupa sendirian?” Taehyung tidak bisa menjawab. Kain merah perlahan meluncur turun di bawah guillotine. Suara lonceng semakin dekat. Ding. Ding. Dengan setiap dentingan, bilah di bawah kaki Taehyung bersinar samar-samar.
Taehyung menatap Jungkook dan berbicara dengan suara rendah. “Karena jika kau mengingatku, kau akan terus mencariku.” “Lalu kenapa?” “Karena kau akan terluka saat mencariku.” Jungkook tertawa hampa. Dia marah, tetapi pada saat yang sama, itu sangat menyakitkan. Taehyung selalu seperti ini. Dia menderita sendirian, ditinggalkan sendirian, dan percaya bahwa dia telah menyelamatkan Jungkook sendirian.
“Apa kau pikir itu cinta, Hyung?” Ekspresi Taehyung hancur. Jungkook mendekat. Saat berdiri di depan guillotine, tanda nama di pergelangan tangannya terasa panas. “Aku tidak hidup karena aku lupa. Aku hanya merasa hampa terus-menerus, tanpa tahu kenapa. Aku merasa aneh setiap hari, seperti seseorang yang telah kehilangan seseorang.” “Jungkook.” “Jadi, kau tidak bisa pergi sesuka hatimu kali ini.” Jungkook mengulurkan tangannya ke Taehyung yang berdiri di atas guillotine. Taehyung hanya menatap tangan itu. Tatapan itu mengatakan dia ingin memegangnya, tetapi seharusnya tidak.
“Turunlah.” “Tidak.” “Kenapa?” “Jika aku turun lagi kali ini, kau yang harus naik.” Jungkook terdiam sejenak mendengar kata-kata itu. Jungkook menginginkan salah satu dari dua hal. Sebuah mimpi yang hanya akan berakhir jika seseorang menerima takdirnya. Taehyung terus berdiri sendirian di atas pedang, meskipun dia tahu ini.
Jungkook perlahan mengatur napasnya. Lalu dia menatap lurus ke arah Taehyung. "Kalau begitu, turunlah bersama." Mata Taehyung melebar. "Tidak ada yang namanya turun bersama."
“Kau belum pernah melakukan ini sebelumnya.” “Ini berbahaya.” “Ini kurang berbahaya daripada pergi sendirian, Hyung.” Jungkook tidak ragu lagi. Dia meraih guillotine dan menggenggam pergelangan tangan Taehyung. Seketika, bilahnya melesat tajam. Nama Taehyung, terukir di pergelangan tangannya, memancarkan cahaya kemerahan, dan Taehyung mencoba menarik tangan Jungkook. “Lepaskan. Jungkook, jika kau melakukan ini, kau juga akan diseret.” “Kalau begitu aku akan membiarkan diriku diseret.” “Kumohon.” “Tidak.”
Jungkook menggertakkan giginya dan menarik Taehyung lebih dekat. Saat ujung jari mereka bersentuhan, kenangan lain kembali membanjiri pikirannya. Hari ketika Taehyung tersenyum padanya untuk pertama kalinya. Malam ketika Jungkook menggenggam tangan Taehyung dan menyarankan mereka untuk melarikan diri bersama. Momen terakhir mereka berpisah sebelum guillotine, bahkan tidak mampu mengungkapkan cinta mereka dengan benar. Dalam semua kenangan itu, Jungkook selalu menggenggam Taehyung. Dia tidak pernah melepaskannya. Justru Taehyung yang meninggalkannya sendirian.
Jungkook tertawa seolah menangis. “Kau salah, hyung.” Taehyung menatap Jungkook. “Aku tidak berada dalam bahaya karena kau, hyung.” Jungkook menggenggam tangan Taehyung lebih erat. “Aku berada dalam bahaya karena kau tidak ada di sini.” Begitu dia selesai berbicara, suara lonceng berhenti. Kain merah itu berhenti di udara. Taehyung memperhatikan Jungkook, tak mampu berkata apa-apa. Air mata yang telah lama ditahannya akhirnya menetes di pipinya.
Jungkook meletakkan satu kakinya di atas bilah pisau. Taehyung, terkejut, meraihnya. “Jangan lakukan itu.” “Kalau begitu turunlah.” “Jungkook.” “Bersama-sama.” Taehyung menatap Jungkook lama sekali. Kemudian, sangat perlahan, dia mengangguk. Sambil memegang tangan Jungkook yang terulur, Taehyung menurunkan satu kakinya dari bilah pisau.
Tiba-tiba, terdengar suara guillotine yang patah.
Dentang.
Ruangan merah itu bergetar. Lilin-lilin padam serentak, dan kegelapan menyelimuti seolah lantai runtuh. Jungkook menarik Taehyung ke dalam pelukannya. Kali ini, Taehyung juga tidak lari. Dia memeluk punggung Jungkook erat-erat dengan kedua tangannya. "Aku yang menemukanmu duluan kali ini," bisik Jungkook. "Ya." Suara Taehyung terpendam di bahu Jungkook. "Kau tidak terlambat kali ini."
Saat membuka matanya, Jungkook mendapati dirinya duduk di lantai ruang latihan. Bukan fajar, melainkan siang yang cerah. Musik dimatikan, dan sinar matahari masuk melalui jendela. Dan berdiri di depan Jungkook adalah Taehyung. Taehyung tertidur, memegang tangan Jungkook. Tidak, matanya terpejam seolah-olah sedang tidur. Jungkook menahan napas dan memanggil nama Taehyung.
"saudara laki-laki."
Kelopak mata Taehyung perlahan terbuka. Melihat Jungkook, Taehyung terdiam lama. Kemudian, dia tersenyum hati-hati. "Kau memanggilku begitu lagi." Alih-alih menjawab, Jungkook memeluk Taehyung. Tubuh Taehyung membeku sesaat, lalu dia membalas pelukan Jungkook. Ini bukan mimpi. Tidak ada ruangan merah, tidak ada guillotine. Taehyung berada dalam pelukan Jungkook.
Jungkook membenamkan wajahnya di bahu Taehyung dan berbicara lembut. "Jangan pernah pergi sendirian lagi." "Baik." "Jangan biarkan aku melupakanmu juga." "Baik." "Dan jangan simpan perasaanmu padaku untuk dirimu sendiri." Taehyung tersenyum pelan. Napasnya yang basah menyentuh tengkuk Jungkook.
“Aku mencintaimu, Jungkook.” Jungkook memeluk Taehyung lebih erat lagi. Rasanya seperti tempat yang telah lama kosong akhirnya terisi. “Aku juga.” Garis merah di pergelangan tangannya telah menghilang. Sebagai gantinya, hanya nama yang sangat samar yang tersisa. Taehyung. Jungkook melihat tanda itu, lalu menggenggam tangan Taehyung.
Kali ini, tanda yang sama juga ada di pergelangan tangan Taehyung. Jungkook.
Taehyung tersenyum tipis mendengar itu. “Sekarang kita tidak akan bisa saling melupakan.” Jungkook perlahan menyelipkan tangannya di antara jari-jari Taehyung. “Aku tidak akan melupakanmu.” Taehyung menatap Jungkook. Itu bukan lagi tatapan seseorang yang telah lama menunggu. Itu adalah wajah seseorang yang berdiri di hadapan orang yang akhirnya kembali.
Jungkook berkata sambil menggenggam tangan Taehyung, "Mari kita lalui hidup ini bersama." Alih-alih menjawab, Taehyung menggenggam tangan Jungkook erat-erat. Suara lonceng pun lenyap. Guillotine dan ruangan merah itu telah menghilang.
Yang tersisa hanyalah pergelangan tangan yang diukir dengan nama masing-masing dan janji untuk tidak pernah melepaskan lagi.
-
Selesai
