menguasai

14











Tanpa tahu apa-apa, aku melangkah masuk ke dalam gedung

Begitu masuk ke dalam lift, aroma Huang Hyunjin yang menyeruak begitu kuat
seketika kesadaranku jadi melayang

Lagi-lagi aku masuk ke kamar tempat ayahnya berada
Setelah menempelkan wajahku sebagai tanda, aku menuju tempat parkir

Aroma cerutu yang tak berubah dan pria-pria berjas
Saat berhadapan dengan wajah ayah Huang Hyunjin yang galak
ingatan hari itu kembali satu per satu muncul









” Katanya mau pergi makan “


Gravatar

“ Ya, aku akan pergi makan masakan Jepang ”


Aku menyisir rambutku dengan ringan ke belakang

Rambut yang agak acak-acakan berkibar tertiup angin, memancarkan aroma

Huang Hyunjin yang berjalan di depan menghentikan langkahnya sejenak lalu
menempelkan ponsel ke telinganya dan berkata


“ Halo, sayaSaya dan teman saya sedang mau pergi makan sekarang “


Suara itu bergema seperti gaung di dalam area parkir

Suara pria berpengalaman yang terdengar dari seberang telepon itu
sama sekali tak bisa kutebak sedang mengucapkan apa
tapi setiap ucapannya terasa penuh kehangatan









Tempat yang kami datangi adalah restoran omakase kelas atas

Begitu mendengar kata masakan Jepang
aku sempat mengira menunya akan biasa saja seperti ramen
tapi aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku melihat menu yang sama sekali berbeda

Toko itu sangat sunyi

Begitu membuka pintu dan masuk, aroma kayu yang lembut dan
pencahayaan yang tenang menyambutku

Huang Hyunjin memperkenalkan tempat ini sebagai restoran langganan favoritnya, tapi
suasananya jauh dari kesan restoran langganan favorit

Mengikuti Huang Hyunjin yang duduk seolah sudah akrab, aku ikut duduk di sampingnya

Jarak ke chef ternyata lebih dekat dari yang kukira, jadi aku tak tahu harus menatap ke mana
aku hanya menggerakkan bola mataku ke sana kemari

Makanan dihidangkan sebagai set menu

Sang chef berkali-kali mengucapkan kalimat yang sama sambil
memberi penjelasan singkat tentang hidangan

Sebagai hidangan pembuka, teh, appetizer, dan makanan seperti chawanmushi
muncul sampai tiga kali
dan sebagai hidangan utama, uni, abalon, tuna, dan lain-lain
makanan laut mahal terus berdatangan

Di suasana toko yang sunyi, tempat tak ada satu pun orang berbicara
rasanya makan di sana membuatku seperti akan masuk angin
Sebaliknya, Huang Hyunjin tampak sudah terbiasa dengan suasana seperti ini

ia makan dengan sangat alami
lalu menepuk-nepuk area sekitar mulut dengan serbet
Setelah keluar dari restoran dan berjalan menuju mobil

Huang Hyunjin yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara dengan tenang
“ Tadi terima kasih, dan kalau kamu mau main ke rumah kami


Gravatar

kamu boleh keluar masuk sesukamu “
“ Kenapa? ”

“ Cuma.. karena kita teman ”

Setelah makan, kami kembali lagi ke perusahaan tempat ayah Huang Hyunjin berada


aku mendaftarkan sidik jari dan pengenalan wajah

dan di pintu rumah tempat Huang Hyunjin tinggal pun
ia mendaftarkan wajah dan sidik jariku
Saat kutanya alasannya, ia hanya terus mengulang jawaban yang sama

bahwa dia melakukannya begitu saja karena kami teman
Padahal kami belum terlalu akrab, tapi

Huang Hyunjin beberapa kali menunjukkan sikap seolah-olah sangat mempercayaiku
Dalam perjalanan pulang, sepanjang hari aku terus memikirkan konsep teman

Entah jangan-jangan Huang Hyunjin menyukaiku

atau memang dia benar-benar menganggapku teman
sehingga memperlakukanku seperti ini
Dikuasai berbagai pikiran macam-macam

kepalaku malah makin kacau
dan tak ada kesimpulan lain yang kudapatkan sama sekali.
translations.length must match items length










Cerita populer di kalangan penggemar Hyunjin