Belahan Jiwa Terikat

Milik Y/n~~

Y/n~

Aku membuka mata dengan susah payah dan duduk dengan mengantuk saat sinar matahari menerpaku. Huh... Aku akan berusia 18 tahun dalam 3 hari lagi. Aku menghela napas sambil melihat kalender di meja.

Y/n~

Aku berharap... aku berharap aku bisa-

*ketuk ketuk*

Sune~

Y/n! Bangunlah dari tempat tidurmu yang malas itu! Kita akan terlambat!

Y/n~

Aku melirik jam. Sial! Aku mengumpat pelan dan bergegas ke kamar mandi, cepat-cepat bersiap-siap.

Y/n~

Aku bersiap-siap hanya dalam 10 menit! Entah bagaimana caranya, tapi... WOW!

Y/n~

Aku di siniiii~ Aku berlari ke bawah hanya untuk disambut tatapan tajam sahabat-sahabatku.

Sune~

Astaga! Perempuan sialan ini bakal bikin kita terlambat lagi... Aku menutup mata karena frustrasi. Lalu menggeram padanya.

Sune~

Dasar jalang....

Y/n~

Aku tersenyum licik. Eh.... maaf...

Sune~

Dia berbisik meminta maaf lalu menggaruk tengkuknya. Sumpah, kalau dia tidak secantik ini, aku pasti sudah melemparnya keluar jendela sekarang juga.

Sune~

Sialan kau! Ayo kita pergi sekarang! bentakku.

Y/n~

Kami sudah terlambat karena aku, jadi aku tidak bisa sarapan. Ah... aku lapar... tapi sialnya aku.

Y/n~

Aku menghela napas. Su mengemudi sambil melirikku.

Sune~

Yah pabo.. makan ini. Kataku sambil menunjuk bungkusnya saat mengemudi. Gadis ini~~

Y/n~

Aku langsung membuka bungkusnya. Isinya kue madu. Aku menjerit kegirangan.

Y/n~

Terima kasih, sayang! Kupikir aku akan mati kelaparan. Aku bercanda sambil menikmati suapan itu.

Sune~

Sarkasme dalam suaranya membuatku memutar bola mata. Sampai-sampai aku merasa bisa melihat bagian belakang kepalaku!

Sune~

Astaga! Dasar kau sarkastik... Y/n terkekeh, membuatku ikut tersenyum.

Sune~

Tapi sayang? Kenapa kamu tidak tidur nyenyak akhir-akhir ini? Kamu baik-baik saja?

Y/n~

Aku tersedak saat dia menanyakan itu padaku. Dia mengkhawatirkanku. Tapi ini adalah hal terakhir yang ingin kubicarakan.

Y/n~

Aku menghela napas... "Hari ulang tahunku......" Ucapku terhenti.

Sune~

Apa-apaan ini?

Y/n~

Dia menatapku seolah melihat hantu.

Sune~

Dasar jalang! Jangan sekali-kali bilang kau tidak bisa tidur karena terus memikirkan belahan jiwamu!

Y/n~

Aku hanya mengamatinya dengan geli, heran bagaimana dia bisa memahami diriku dengan begitu baik.

Y/n~

Saya hendak menjawab, tetapi dia menghentikan mobil dan saya melihat kami sudah sampai.

Y/n~

Tanpa melirikku sekalipun, dia keluar dari mobil dan membanting pintu mobil.

Sune~

DASAR JALANG! KITA SEBAIKNYA BICARA BAIK-BAIK TENTANG INI!

Y/n~

Dia berbalik dan meninggalkanku sendirian. Aku terkekeh.

Dia selalu menjadi satu-satunya. Keluargaku, sahabatku, ibuku, saudara perempuanku, segalanya. Dia adalah segalanya yang pernah kuharapkan.

Kami saling mengutuk. Itu cara kami menunjukkan kasih sayang satu sama lain. Lucu, kan? Tapi begitulah kami. Dia selalu bersamaku.

Jujur saja... aku memang takut padanya saat dia sedang dalam suasana hati "seperti ini". Aku menghela napas sambil berbicara sendiri.

Y/n~

Astaga Y/n..! Sebaiknya kau cari penjelasan yang masuk akal untuk Su tentang semua ini. Ahh.. soal belahan jiwa ini benar-benar menyebalkan.

Y/n~

Aku memasuki ruang kelasku sambil menghela napas. Ya Tuhan! Kenapa orang-orang begitu antusias dengan ini!?

Y/n~

Ya Tuhan! Semoga aku TIDAK PERNAH bertemu belahan jiwaku! Kataku sambil menutup mata.

Y/n~

Aduh!!! Apa yang tadi aku tabrak!?