Migliore amico o fidanzato

08

Setelah kejadian malem kemarin, Yedam sama Aera udah keliatan akur lagi. Bahkan kemana - mana pun mereka berdua keliatan nempel mulu, padahal Yedam masih ada si Sooyeon pacarnya yang dia anggurin seharian.

"Kok mereka malah makin nempel sih?! gue pacarnya malah dilupain," gerutu Sooyeon yang melihat interaksi Yedam dan Aera dikantin.

Sooyeon yang tidak tahan lagi akhirnya menghampiri meja mereka berempat, dan menggebrak tanpa permisi.

"Aera! lo sadar gak sih lo siapa disini?!" bentak Sooyeon, Aera yang lagi asik makan batagor hampir tersedak mendengarnya.

"Lo apa - apaan sih Yeon?!" balas Jeongwoo, sedang Haruto cuma cengo dipojokan karena dia sendiri bingung kenapa Sooyeon tiba - tiba nyamperin mereka.

Maklum aja, Haruto ketinggalan berita gegara akhir - akhir ini sibuk diwarnet mabar bareng temen - temen smpnya.

Sooyeon menunjuk Jeongwoo, "Lo gak usah ikut campur urusan gue sama Aera!" 

"Gak, gak bisa, lo ganggu Aera sama aja lo ganggu gue," Aera memegang tangan Jeongwoo menahannya untuk tidak emosi lagi.

Yedam yang sedari tadi berusaha menahan amarahnya, akhirnya pun ikut membuka suara.

"Cukup Sooyeon. Ikut gue," Yedam menarik pergelangan tangan Sooyeon dan membawanya pergi menuju rooftop.

Karena ulah Sooyeon sekarang mereka menjadi pusat perhatian kantin dan Haruto segera membubarkannya. Ya setidaknya dia ikut andil sedikit aja, sekalipun gak paham apa yang terjadi.

"Yailah, mak lampir gue baru makan rusuh aja dah," celetuk Aera. Gadis itu memang tidak terlalu menghiraukan perkataan Sooyeon, eh malah bodyguardnya yang ikut ngomel.

"Kok lo biasa aja sih Ra? gue udah greget pengen gigit," ucap Jeongwoo gemas.

"Ya lo mending pengen gigit, lah gue paham aja kaga sama yang lagi terjadi. Lo pada kaga cerita - cerita ke gue sih,"

Aera memutar bola matanya malas, "Dih lo aja sibuk ngegame diwarnet jarang kumpul sama kita lagi,"

Haruto cengengesan, "Lagi seru nih, kemarin abis tanding terus gue menang. Lumayan dapet 100rb bro," 

Jeongwoo menepuk pundak Haruto, "Nah mending sekarang lo traktir kita," diikuti anggukan dari Aera. Haruto pasrah aja dipalakin sama mereka.

Dilain tempat, Yedam sedang duduk berdua dengan Sooyeon, mereka berdua tidak ada yang membuka pembicaraan.

"Yedam,"

"Sooyeon,"

"Lo dulu," ujar Yedam.

Sooyeon menggeleng, "Lo dulu aja,"

Yedam mengangguk dan memulai pembicaraan, "Gue minta kita berhenti sandiwara sampai disini aja,"

"Gak, gue gak mau Dam, gue udah berusaha bantu lo lupain dia. Lo ga inget janji lo ke gue apa? lo juga bakal usaha suka sama gue kan?" ujar Sooyeon tidak terima, bahkan gadis itu mulai menitikkan air mata.

Yedam tidak bisa melihat seorang gadis menangis didepannya, selain Aera sekarang Yedam mulai sedikit sayang terhadap Sooyeon.

Yedam merengkuh tubuh Sooyeon dan memeluknya dalam diam, membiarkan Sooyeon menangis sepuasnya dipelukannya.

Yedam perlahan melepaskan pelukannya, "Maaf Yeon, gue emang mulai sayang sama lo. Tapi jujur gue gak bisa melepas Aera gitu aja, dia selalu terbayang dipikiran gue," jelas Yedam.

"Gue yakin lo bisa Dam, lo taukan apa yang terjadi kalo lo putusin gue?" 

"Cukup, lo gak usah ngancem pake embel - embel video itu lagi. Gue gak bisa Yeon, dia first love gue, gak mudah dilupain gitu aja," 

Sooyeon merasa muak mendengar semua orang membicarakan tentang Aera, bahkan Yedam orang yang dia suka sejak lama pun menyukai gadis itu.

"Terus mau lo apa? Kita putus?" 

Yedam mengangguk, "Maaf tapi gue gak bisa begini lagi Yeon, gue harap lo bisa ngerti,"

Sooyeon menahan amarahnya, dan mengiyakan apa yang Yedam katakan. 

"Oke fine, sekarang lo bisa pergi?" ujar Sooyeon dengan nada tak ramahnya.

Yedam bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan Sooyeon sendirian dirooftop. Sebenarnya Yedam merasa menjadi laki - laki jahat setelah memutuskan Sooyeon begitu saja, ya walaupun ini semua hanya sandiwara. Tapi tetap saja, baginya menyakiti wanita sama saja menyakiti ibunya.

"Cukup Aera, gue udah muak sama lo," ucap Sooyeon sembari berkutat dengan ponselnya dan segera mengirim sebuah pesan kepada seseorang disebrang sana.

Setelah itu Sooyeon bangkit dan meninggalkan tempat itu dengan perasaan puas karena dia akan mendapat Yedam kembali dengan cara ini.

"Hey Ra," sapa Yedam kepada Aera yang sedang sibuk membaca novel diperpus

Aera mendongak, "Eh gimana tuh urusan lo sama pacar lo itu?" 

"Udah selesai Ra,"

Aera membenarkan posisinya, "Maksut lo? Lo putus sama dia? Eh apa gimana?"

Yedam menghembuskan nafasnya perlahan, "Iya gue putus sama dia," 

"Eh pasti gara - gara gue ya? Dam seriusan ini?"

Padahal dalam hati Aera sujud syukur mendengarnya, mana rela dia Yedam jadian dengan wanita yang dia sebut mak lampir itu. Tapi ia juga ikut merasa bersalah, karena Yedam terlihat sedih setelah putus dengan mak lampir itu.

Yedam menggeleng, "Bukan, ini masalah internal gue sama dia kok. Bukan gara - gara lo," 

"Seriusan?"

"Iyaaa Aeraaa," ujar Yedam, Aera pun memberikannya pelukan semangat. 

Karena bel berbunyi, Yedam dan Aera bergegas menuju kelas untuk pelajaran selanjutnya. Dari jauh Sooyeon memperhatikan mereka dengan tatapan sengit.

%%%

"Ra balik bareng kan?" tanya Yedam, diikuti anggukan Aera.

"Yaudah yuk," 

Yedam merangkul Aera dan berjalan menuju parkiran, berpapasan dengan Jeongwoo dan Haruto yang baru saja keluar dari studio musik.

"Abis pada ngapain lo?"

"Ini tadi nemenin Jeongwoo ngembaliin gitar, tadi abis buat presentasi," 

"Wah keren nih pasti," 

"Iya dong jelas gue gitu," ucap Jeongwoo bangga. Yah kalo udah dipuji gini kepala Jeongwoo langsung mengembang besar ini mah.

Aera menonyor kepala Jeongwoo, "Dipuji dikit langsung melejit lu dasar," 

Jeongwoo cengengesan, "Eh iya ini pada mau langsung balik apa main dulu?" 

Yedam merengkuh pundak Aera, "Sorry nih, gue mau pacaran dulu sama Aera. Lo berdua aja pacaran gih sana,"

Aera melotot, "Dam apaan sih???" dan mencubit pelan perut Yedam. 

"Itu cuma nemenin Yedam belanja bulanan," 

"Gak usah pada suudzon lo pada,"

Jeongwoo dan Haruto memasang wajah curiga dan saling bertatapan.

"Yakin nih gak ada apa - apa?" tanya Haruto.

"Terus si Sooyeon lampir lo kemanain Dam?" 

"Udah putus," ujar Yedam pasrah.

"LAH UDAH PUTUS?!" teriak Jeongwoo.

"LAH KAPAN PACARAN?!" teriak Haruto.

Keduanya sama - sama shock dengan alasan berbeda, emang suka gak sinkron dua orang ini. Yedam menonyor kepala kedua orang itu.

"Gak usah teriak gitu bego," 

Haruto dan Jeongwoo meringis, "Ya maap kita kaget," kata Jeongwoo.

"Gue lebih kaget woi, gue kira lo jadian sama Aera eh malah tetiba sama Sooyeon," ujar Haruto terang - terangan. Yedam langsung memberikan death glare kepada Haruto, karena tak sengaja kelepasan.

Haruto menutup mulutnya kaget, Jeongwoo pun ikut mengalihkan pandangannya takut disantap sama Yedam hidup - hidup.

Aera yang melihat tingkah ketiga temannya menggeleng heran, tapi dalam hati Aera sedikit merasa senang setelah mendengar ucapan Haruto mengenai Yedam.

"Udah - udah, yuk Ra kita pergi dari sini aja," 

Yedam menggandeng Aera menuju parkiran, dari belakang Haruto dan Jeongwoo berseru.

"Hati - hati bawa pacarnya mas!"

"Ra tiati lo ntar dibawa ke kua sama yedam!"

"Selamat pacaran!"

Yedam menutup kedua telinga Aera, dan melamparkan tatapan tajam kepada kedua sahabatnya itu. Sedangkan Haruto dan Jeongwoo saling tertawa melihat mereka.

"Yaudah lah ya," ujar Haruto menepuk pundak Jeongwoo.

"Iya, yang sabar ya kita," balas Jeongwoo dan menepuk dengan keras pantat Haruto kemudian berlari meninggalkan Haruto yang mengumpat setelah mendapat tamparan panas dipantatnya.


🧸. hai teume! sorry for slow update, lagi sibuk ujian nih. kalian jangan lupa streaming treasure juga ya, semangat teume!

Storie popolari tra i fan di Bang Ye Dam