Ciuman Elektrik

Vampir Berubah Menjadi Manusia

Malam itu bulan purnama bersinar lebih terang dari biasanya kala semua vampir dalam kelompok Chen berkumpul di dalam aula besar yang biasanya sang pemimpin pergunakan untuk membahas hal-hal penting, ketika para makhluk abadi yang jantungnya sudah tak lagi berdetak itu mencapai pintu masuk, seluruh indera buas mereka bereaksi terhadap aroma tubuh sang mangsa; manusia. Mata mereka yang berwarna kemerahan kian menyala terang sementara sepasang taring yang semula bersembunyi seketika mencuat keluar dengan air liur yang menetes-netes.

“Kalau kalian memang mau cari mati, coba saja serang manusia itu.” Lay yang sejak tadi sudah berada di dalam aula duduk menyilangkan kakinya sambil membaca buku kamus bahasa Indonesia ketika vampir-vampir itu membuka pintu dengan serampangan dengan tatapan lapar mereka. Vampir yang memiliki 2 lesung pipi sebagai ciri khasnya itu menoleh pada Chen yang duduk dikursi kebesarannya seperti biasa. “Jangan tanya kenapa sama gue karena gue pun juga bingung, terima kasih," kesal Lay ketika lagi-lagi Hanbyul memberikan tatapan tajam padanya.

Chen yang duduk dikursi kebesarannya dengan tatapan yang tak bisa diartikan, tubuh yang kembali memiliki detak jantung dan paru-paru yang kembali bekerja itu diam bagai patung meski melihat kegaduhan yang para vampir itu lakukan didepan matanya, pada kiri dan kanannya terdapat vampir-vampir yang dianggap memiliki kedudukan setara dengan sang pemimpin karena kemampuan mereka yang telah diakui secara langsung oleh Chen seperti Hanbyul, Sehun, Chanyeol, Ailee, Krystal, dan Lay.

“Pemimpin kita, Chen. Tiba-tiba tubuhnya kembali menjadi manusia biasa,” ujar Hanbyul yang membuat para vampir itu seketika berubah kian gaduh. “Belum diketahui secara pasti apa yang sebenarnya telah terjadi, dugaan sementara ini adalah karena efek samping dari ramuan pengubah dari vampir menjadi manusia yang baru-baru ini diciptakan oleh Lay.” Atas perintah yang disampaikan langsung oleh Chen, Hanbyul langsung melaksanakan tugasnya dengan memanggil seluruh vampir yang berada dibawah kekuasaan mereka berkumpul di aula utama.

“Ck, kenapa gue jadi terdengar seperti pemeran antagonisnya begini, sih?” gerutu Lay tak terima ketika tatapan-tatapan tajam itu ditunjukkan langsung untuknya, dengan situasi Indonesia saat ini yang tengah dalam masa krisis karena beberapa vampir liar berbuat ulah, ditambah status Lay yang termasuk vampir muda dan temuan-temuan anehnya yang tak biasa, Krystal pikir Lay memang pantas untuk dicurigai sepenuhnya. “Padahal ramuan itu juga bisa membuat manusia menyamar menjadi vampir,” sambungnya.

“Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan?” bisik Chanyeol pada Lay. “Apa kau tidak tahu bahwa tanpa Chen kita bukanlah apa-apa?” bisikan itu terdengar seperti geraman kekesalan ditelinga Ailee yang berdiri diantara Lay dan Sehun.

Lay menoleh pada Chanyeol, vampir muda itu tersinggung akan tuduhan yang lagi-lagi diarahkan padanya. “Apa lo berpikir bahwa gue penyusup?” tajamnya.

“Lalu julukan apa lagi yang pantas kau terima setelah melihat apa yang terjadi?” Chanyeol yang jauh lebih tinggi dan kuat dari Lay mengintimidasi vampir muda tersebut.

“Apa karena sudah hidup sebagai vampir selama berabad-abad membuat otakmu membusuk?” balas Lay dengan ucapan yang terpotong kala tiba-tiba saja Ailee sengaja berdeham keras, Lay melirik perempuan yang berstatus sebagai kekasih pemimpin mereka itu sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya, “Kalau memang ramuan itu bisa mengubah vampir kembali menjadi manusia sepenuhnya, udah pasti gue bakalan habisin ramuan itu sendirian.” Lay seketika mengingat kembali bagaimana dia bisa menjadi vampir seperti saat ini.

“Sudah-sudah,” Sehun melerai kedua sahabatnya, “Chanyeol kau harus tahu, Lay lah yang pertama kali meminum ramuan itu dan dia sampai saat ini baik-baik saja.”

“Dan kalian sama sekali tak menaruh curiga?” kesal Chanyeol yang masih pada pendiriannya; mencurigai Lay.

Chen memperhatikan vampir-vampir yang telah hidup bersamanya selama ribuan tahun itu dalam diam ketika melihat mereka saling bertengkar dan menyalahkan. Ekor matanya melirik kedua tangannya yang penuh gigitan dari Hanbyul, Sehun, juga Baekhyun. Mereka berusaha memasukkan kembali racun vampir yang membuat mereka bisa menjadi vampir seperti saat ini pada tubuh Chen yang berubah menjadi manusia. Pada leher dan kakinya, juga terdapat banyak sekali bekas gigitan taring.

"Di mana Baekhyun?" Krystal bertanya kepada Sehun, yang dia tahu adalah vampir terakhir yang pergi bersama Baekhyun untuk berjaga di luar, ketika dia tidak menemukan kekasihnya di aula.

Sehun mengeraskan wajahnya. “Penjara bawah tanah,” jawabnya pelan tanpa report menoleh pada perempuan disampingnya itu, “untuk sementara waktu Baekhyun akan tinggal di sana sampai dia benar-benar bisa mengendalikan insting liarnya kembali.”

Krystal melebarkan matanya. “Apa yang telah Baekhyun lakukan?!”

Satu per satu para vampir itu diperintahkan untuk mengigit Chen, menyebarkan racun vampir yang mereka miliki, dengan harapan pemimpin mereka itu akan kembali menjadi makhluk abadi, tetapi yang justru terjadi adalah, sebagian dari para vampir itu tak bisa mengendalikan insting liarnya ketika berhadapan dengan aroma darah Chen yang menggoda lezat seperti halnya yang terjadi pada Baekhyun hingga hampir mencelakai Chen yang saat ini tengah tak berdaya.

Chanyeol menarik dan melempar Winwin kala vampir itu hampir menghisap seluruh darah Chen dan langsung menyeretnya pergi ke penjara bawah tanah bersama Mark Tuan yang juga telah melumpuhkan beberapa vampir yang tak bisa mengendalikan insting alami mereka. Keduanya dengan cepat membawa para vampir yang tergeletak tak sadarkan diri itu menuju penjara bawah tanah yang terletak diperut bumi di mana di sana terdapat kerangkeng dari besi berduri dengan lahar panas yang mengelilinginya.

Ailee membantu Chen memakai jubahnya kembali ketika melihat vampir yang telah mengisi ruang hati dan pikirannya itu terlihat berdiri tertatih-tatih setelah Winwin tadi sempat membuatnya ambruk, sekujur tubuh laki-laki itu dipenuhi bekas gigitan dengan darah segar yang mengotorinya. Ailee membenarkan tali jubah tersebut agar menutupi dada bidang Chen ketika dengan mati-matian Ailee menekan insting alaminya yang memberontak ketika mencium darah segar milik Chen.

“Pergilah,” perintah Chen, “pergilah ke tempat yang aman.” Dia tahu bahwa Ailee sejak tadi menahan diri agar tak menyerangnya dan raja vampir yang kini berstatus sebagai manusia itu menyuruhnya pergi agar Ailee tak semakin tersiksa.

Tanpa mengatakan apa pun sebagai balasan, Ailee langsung melesat pergi dari aula tersebut menuju ke tengah hutan untuk menenangkan pikirannya yang mulai kacau kala tadi berdekatan dengan sang kekasih.

“Ini tidak berguna sama sekali,” marah Chen, ekor matanya melirik Lay menusuk, sementara yang dilirik pun segera menyadarinya.

"Apakah kau juga mencoba menyalahkanku?" bentak Lay.

“Kenapa sejak tadi kau ini jadi sensitif sekali, ya?” tanya Chen menyelidik. “Apa ini, apa yang sekarang aku rasakan ini adalah semacam aura ketakutan?”

“Chen,” lirih Hanbyul, yang dipanggil pun seketika menoleh padanya, “siapa yang mengundang mereka datang ke sini?” tanyanya ketika laki-laki yang berasal dari suku Sunda itu merasakan aura kedatangan sekelompok vampir.

Beberapa vampir yang juga masih bertahan menemani Chen berada di dalam aula itu seperti Krystal, Lay, dan Sehun pun juga menunjukkan gelagat waspada. Sementara Chen yang saat ini tak bisa menggunakan kekuatan vampir nya tersenyum miris ketika melihat teman-temannya itu seakan tengah melindunginya sedangkan dia sendiri tidak tahu siapa yang tengah mereka bicarakan.

Pendengaran Sehun adalah yang paling sensitif diantara mereka semua, lehernya langsung menoleh secepat kilat didetik pertama ketika pintu aula itu terbuka dengan tiba-tiba dan kasar, menampilkan sekelompok vampir yang tak mereka undang.

“Kami datang berkunjung setelah puas jalan-jalan berkeliling Nusantara,” ujar Alice Cullen riang mewakili saudara-saudaranya.

Sementara Chen yang akhirnya keluar dari balik punggung teman-temannya yang berusaha melindunginya tersenyum simpul kala melihat kedatangan keluarga Cullen yang di masa lalu pernah berseberangan pendapat dengan kelompoknya itu, kini berdiri tepat dihadapannya.

***


“Jadi, perubahan itu pertama kali kau rasakan tepat setelah perempuan itu menciummu?” Alice menopang dagunya, perempuan yang memiliki potongan rambut pendek dengan bentuk wajah oval itu tampak berpikir, berkali-kali pula ia mencuri pandang terhadap Chen yang berdiri jauh di seberangnya.

“Ramuan ini terlihat ajaib,” Edward berkomentar sambil memperhatikan botol ramuan milik Lay pada genggamannya, “apa aku boleh membawanya sedikit untuk diberikan pada menantuku Jacob Black?”

Bella berdeham. “Edward.”

“Bercanda, Bella.”

“Jadi, ada 2 kemungkinan mengapa kau kembali berubah menjadi manusia, ya?” Carlisle terlihat tengah berpikir serius. “Mungkinkah keduanya secara tak langsung saling berhubungan sehingga menciptakan reaksi seperti yang tengah kau alami, Chen?”

Chen menatap sosok itu datar, setelah Hanbyul menceritakan semua yang sebelumnya dia ceritakan tentang apa yang sudah menimpanya, keluarga itu secara alami ikut berpikir keras dan coba memecahkan misteri yang tengah dirinya alami, setidaknya Chen harus bersyukur bahwa mereka tidak akan tiba-tiba menyerangnya karena aroma darah yang dikeluarkannya karena mereka adalah vampir vegetarian, mungkin, kecuali Jasper yang sejak tadi tak sekali pun menoleh dan terus mengambil jarak yang cukup jauh darinya.

“Bisakah kami membantumu?” ujar Bella tiba-tiba, namun tak ada jawaban dari Chen hingga keheningan menguasai mereka. Vampir wanita yang diketahui melahirkan seseorang anak perempuan yang ternyata adalah kematian seekor manusia serigala itu mengedikkan bahunya. “Jika kau keberatan, kau bisa menolaknya.”

Chen melepaskan jubahnya yang berwarna keemasan, memperlihatkan sekujur tubuhnya yang memiliki banyak bekas gigitan bertaring. “Hanya jika kalian tidak tiba-tiba berbalik menyerangku,” jawabnya.

Bella tersenyum tipis. “Tenang saja.”

Satu per satu anggota keluarga Cullen mengigit tubuh Chen kecuali Jasper. Ketika pertama kali Chen digigit oleh seorang anak perempuan yang ternyata adalah seorang vampir di mana mereka menumpang pada kabal yang sama beribu-ribu tahun silam, reaksi yang tubuhnya dapatkan adalah sengatan panas seperti dibakar dan otaknya dicabik-cabik dari dalam selama berhari-hari, namun yang kini Chen rasakan justru hanya seperti tubuhnya tengah digigit oleh serangga raksasa.

Setelahnya, mereka menunggu reaksi yang akan tubuh Chen dapatkan, tetapi hingga pagi menjelang, tubuh Chen tetap tak menunjukkan tanda-tanda apa pun. Emmet, laki-laki dengan otot kekar itu membuat gerakan seakan-akan tengah menghela napas bosan, tangannya bersedekap kala menyenderkan kepalanya pada pundak kecil Rosalie.

“Tubuhnya seperti karet,” Rosalie berkomentar setelah memutar bola matanya. “Vampir bukan, manusia sepertinya juga bukan?”

Mata Alice yang sejak tadi terpejam kini tiba-tiba terbuka lebar, telapak tangannya dan telapak tangan Chen masih berpegangan ketika perempuan itu berucap, “Aku tak bisa melihat masa depanmu.” Dan Chen mengerutkan dahi karena itu. “Maafkan aku, tetapi sepertinya....”

Chen menarik tangannya dari tangan Alice. “Apa kalian bisa tinggal di sini sedikit lebih lama?” tanyanya memastikan.

Esme bertanya, “Apa ini ada hubungannya dengan vampir-vampir liar yang tengah membuat masalah di Indonesia?” Raut vampir wanita yang tampak keibuan itu terlihat khawatir. “Tawaran menginap yang menarik.”

Chen mengangguk membenarkan ketika Hanbyul membantunya memakai jubahnya kembali. “Bukan hal baik jika aku tak bisa berubah dalam waktu dekat sementara vampir-vampir itu masih terus berbuat ulah di luar sana.”

“Bantuan semacam apa yang ingin kau dapatkan dari kami?” Carlisle bertanya. “Mungkin kami akan sedikit memberi kalian bantuan sebagai bentuk investasi utang budi.”

Chen mengerakkan kakinya yang terasa kesemutan akibat berdiri terlalu lama, hal yang selama ini tidak pernah lagi dia rasakan. “Awasi siapa pun yang membuat kalian curiga—”

Ucapan Chen terhenti ketika dari arah jendela yang tak tertutup, ribuan laba-laba masuk dari luar jendela tersebut dan membentuk postur tubuh seorang wanita yang lama-kelamaan memiliki kulit, rambut panjang sepinggang, juga sepasang mata hitam yang terbelalak lebar. Seringaian pada bibirnya melebar kala melihat sosok vampir yang disukainya tengah menatapnya dari jarak 3 meter. Vampir yang memiliki kekuatan berubah menjadi laba-laba itu berjalan mendekati 2 kelompok vampir yang tengah menatapnya, pada tiap langkahnya dengan sengaja dia buat sensual hingga membuat bongkahan pantat dan dadanya yang besar terlihat bergoyang-goyang.



Jessi merangkul dan mengecup kedua pipi Chen bergantian hingga menimbulkan suara kecapan. “Oh, lihat apa yang calon suamiku ini lakukan? Apa kau baru saja berubah kembali menjadi manusia? Hmmm.”

Chen menyingkirkan tangan Jessi dari wajahnya, tak seperti biasanya di mana tiap kali mereka bertemu dan Jessi selalu menempelkan buah dadanya pada Chen yang ditanggapinya dengan ekspresi datar, kini wajah laki-laki iti  secara perlahan berubah memerah dengan detak jantung menggila dan sesuatu dibawahnya selangkangannya yang mengeras; terangsang. “Singkirkan,” perintahnya ketika dengan pelan Chen menyingkirkan tangan Jessi dari pinggangnya. “Aku memintamu ke sini untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.”

“Ouch, suaramu seksi sekali~♡,” Jessi berkata dengan agak mendesah, “aku membawa 3 kabar, buruk dan baik, Sayang~♡.”

Bella dan Sehun kompak mengerutkan dahinya penasaran.

“Cium aku dulu♡,” ujar Jessi dengan raut wajah mesumnya dengan memajukan bibir tebalnya. Dan Chen dengan kilat langsung menarik tengkuk Jessi dan menyesap bibir itu dalam waktu 3 detik sebelum akhirnya melepaskannya. Kedua bola mata Jessi terasa berkunang-kunang sementara bibirnya melengkungkan senyum puas. “Ya Tuhan~♡, rasanya aku ingin memintanya lagi.”

“Cepat katakan,” desak Chen, “karena aku ingin segera mengusirmu dari sini.”

“Ah, manis sekali mulut calon suamiku ini~ ♡, pantas saja perempuan jalang itu menciummu.” Jessi merapikan bajunya yang pada bagian dada tampak sangat kekecilan.

“Jessi,” geram Chen tak sabaran.

“Ahh~, nama kejadian langka ini adalah ciuman listrik,” ujar Jessi, “di mana vampir yang berciuman dengan manusia yang 21 hari lagi akan meninggal berubah kembali menjadi manusia seutuhnya.” Semua vampir mendengarkan penuturan Jessi dengan serius.

"Jadi gadis itu akan meninggal dalam 21 hari?" tanya Chen untuk memastikan.

“Siapa nama gadis yang berani mencium calon suamiku itu?”

“Asha?” jawab Chen mengingat-ingat nama gadis tersebut.

“Asha?” tanya Sehun.

Chen mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Hmm, Asha.” Chen kembali beralih pada Jessie. “Jadi apa yang tadi kau maksud dengan 3 kabar baik dan kabar buruk?”

Jessi mengambil tempat duduk dan menyilangkan kakinya, sedikit menyingkap rok bawahnya hingga memperlihatkan paha mulusnya. “Kabar baiknya kau bisa kembali menjadi vampir dengan syarat kau harus bisa menemukan cinta sejati gadis itu sebelum hari kematiannya tiba,” ujarnya, “tetapi kabar buruknya adalah, tidak pasti apakah cinta sejatinya masih hidup atau bahkan belum lahir ke dunia, kemungkinan kau bisa menemukan cinta sejatinya di dunia yang luas ini dalam waktu sesingkat itu sangat kecil.”

Chen hampir membenturkan dahinya ke dinding di belakangnya.

“Dan kabar ke-3?” tanya Mr. Ksbsjdb.

Tiba-tiba saja wajah Jessi berubah cerah. “Yang ini adalah kabar ♡! Kemarin aku pergi ke Amerika dan menemukan dokter vampir yang dapat memasang implan silikon pada bohong dan payudaraku agar lebih indah.” Jessi berdiri dan langsung menggoyangkan tubuhnya semangat. “Aku tanya berapa bayarannya dan dokter vampir tampan itu mengatakan harganya gratis, karena aku adalah vampir tercantik yang pernah ditemuinya selama berabad-abad~♡.”

Vampir-vampir itu membiarkan Jessi bahagia dengan ocehannya sementara mereka masing-masing pergi meninggalkan aula tersebut.

Chen memutuskan pergi meninggalkan tempat persembunyian untuk mencari cinta sejati gadis yang telah membuatnya berubah menjadi manusia, sementara kepemimpinan kelompoknya untuk sementara waktu dia titipkan pada Sehun dan Hanbyul.

***