Ciuman Elektrik

Koloni Vampir Liar

"Sialan!"

Laki-laki seputih porselen dengan tulang pipi tinggi itu mendesis kesal. Sepasang kakinya yang gesit langsung melesat bagai angin mengejar sosok perempuan yang berada jauh dihadapannya.

Kedua laki-laki lain yang sejak tadi disampingnya pun ikut melesat menyusul. Meninggalkan seorang laki-laki yang tergeletak tak berdaya bersama seorang pemuda yang tengah berjongkok disampingnya.

Kota Jakarta masih begitu hidup meski saat ini sudah hampir pukul 3 pagi. Udara dingin di bulan Februari dengan rintik hujan yang membasahi tanah Betawi tak menyurutkan warganya untuk terus beraktivitas dimalam hari.

Tiga pasang sepatu resmi itu menginjakkan kaki mereka pada tanah becek penuh sampah rumah tangga disebuah gang sempit. Sepasang mata beriris merah itu menelusuri tiap sudut gang-di gang itu banyak terdapat tenda kecil terbuat dari plastik yang dijadikan tempat tidur.

"Aku sudah tidak bisa mencium bau Vampir lagi."

Chen dan Hanbyul kompak menatap Lay. Mengumpat kesal dalam hati karena apa yang Vampir termuda diantara mereka ucapkan itu juga mereka rasakan.

Tanpa aba-aba. Chen melesat pergi dari gang kumuh itu meninggalkan kedua temannya menuju Vampir lain dan seorang mayat manusia.

Kehadiran mereka bertiga hanya tampak seperti angin kecil diantara rintik hujan yang semakin deras. Pijakan kaki mereka di tanah becek itu menyiprat pada beberapa gelandangan yang tengah terlelap.

Hanya butuh lima detik bagi Chen dan kedua temannya untuk sampai ditempat semula dalam jarak 20 meter.

Chen memelankan langkahnya ketika sepasang iris merah itu sudah menangkap sosok tak berdaya yang membuat aliran darah hitamnya mendidih. Rambutnya yang hitam jatuh terkena air hujan, kulit wajahnya yang putih bersih tampak begitu bercahaya diantara warna bajunya yang serba hitam. Wajahnya yang datar tak memperlihatkan emosi apa pun cukup membuat laki-laki lain yang tengah berjongkok disamping si mayit menggeram.

"Dia lolos?" Sehun terkekeh pelan. Sepasang tangannya mengepal hingga memperlihatkan guratan otot diantara kulit seputih kapasnya. Lagi-lagi mereka kehilangan jejak!

Sehun bangkit ketika Chen mengatakan perintah yang membuat sepasang iris merahnya menajam.

"Ubahlah orang itu."

***


KEKURANGAN!

Chanyeol menatap Vampir tertinggi dihadapannya itu tajam. Pundaknya yang tegap membuatnya seolah tak memiliki rasa takut meski pada kenyatannya rasa takut itu tengah balik menatapnya menusuk.

"Mereka tengah berusaha membentuk koloni Vampir baru di Indonesia dan menjadikannya markas Vampir terbesar se-Asia tenggara," tuntas Chanyeol selesai menyampaikan informasi yang didapatnya dari hasil pengamatannya.

Ruangan luas tanpa penerangan selain dari sinar rembulan lewat celah kaca yang malam itu tengah tertutup awan tersebut diselimuti hawa tak enak yang sang pemimpi tularkan. Seakan mereka dapat melihat ditengah kegelapan lewat iris merah itu.

Samar-samar azan Subuh terdengar bersahutan berkilo-kilo meter dari tempat persembunyian makhluk-makhluk terkutuk yang tengah membicarakan hal serius itu.

"Belum ada satu pun informasi yang aku dapat mengenai siapa dalang dibalik kekacauan ini," ujar Hanbyul memutus keheningan panjang yang tercipta atas keterdiaman sang pemimpin.

"Xiumin hanyalah sedikit manusia yang berhasil kita selamatkan." Sehun bergabung dalam pembicaraan. Kerah kemeja biru laut yang sedikit terciprat noda darah adalah bukti bahwa ia melakukan perintah Chen dengan baik.

"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Chen, setelah kebisuan pada mulutnya yang cukup lama. Sepasang iris merahnya menatap seluruh Vampir yang tengah berdiri dihadapannya.

Chen bangkit dari singgasananya menuju kaca besar yang langsung menghadap ke laut.

"Belum cukup baik untuk kita mengorek informasi darinya," jawab Sehun, "tapi aku akan pastikan dia siap dalam waktu dekat."

"Bunuh saja dia jika pada akhirnya tidak ada gunanya," setiap kata-katanya mutlak. Dan Chen tahu persis langkah apa yang sedang dia ambil.

Udara kosong memenuhi ruangan itu dalam waktu lama. Sahut-sahutan azan subuh berangsur-angsur menghilang, tergantikan mentari yang terbit dari timur.

Satu per satu kehadiran Vampir dalam kelompok Chen itu mulai terlihat akibat sinar mentari. Chen mengangkat tangan kanannya- mengisyaratkan mereka untuk meninggalkan ruangannya.

Chen menoleh kebelakang ketika satu Vampir masih berdiri tegap ditempatnya. Chen mengangkat sebelah alisnya; bertanya.

Hanbyul berjalan mendekati Chen. "Aku tahu ada yang tengah kau rencanakan," ucapnya dengan senyum tipis. "Aku sarankan kau tidak melakukan apa pun ide gila yang tengah menghantui pikiranmu."

Chen semakin mengangkat alisnya tinggi. "Sekarang kau sudah berani memerintahku?" tanyanya dalam. "Beraninya."

Hanbyul memutar bola matanya malas. "Ayolah, Chen."

Kemudian kedua Vampir itu tertawa cukup keras selama beberapa saat hingga Vampir lain membuka pintu. Tawa itu terhenti digantikan sepasang langkah yang gemanya memenuhi ruangan.

Hanbyul memicingkan matanya melihat cangkir yang Lay bawa. Hal itu mengingatkan dirinya bahwa Vampir muda itu tidak ada ketika mereka tengah mendengar penjelasan Chanyeol mengenai koloni Vampir baru.

Lay berdiri sembilan langkah dari tempat kedua Vampir itu berdiri. Dengan tenang Chen berjalan menghampiri Lay. "Bagaimana aku bisa yakin bahwa ramuan itu tidak akan membunuhku?" Chen menyentuh ujung bibir cangkir itu perlahan. Matanya fokus menatap pantulan wajahnya lewat cairan kekuningan itu.

Iris merah Lay menatap wajah Chen yang berada tepat dihadapannya. Tanpa ragu, Vampir yang baru berusia 10 tahun itu mengangkat cangkir yang dipegangnya menuju mulut. Menyesap cairan itu beberapa sendok teh.

Chen sempat terperangah sebelum akhirnya melemparkan tatapan tidak sukanya akan aksi Vampir muda dihadapannya itu lakukan.

"Kau ... berharap aku akan menyukai tindakan Super hero- mu itu?" tanya Chen seduktif.

Lay menggeleng. "Anggap aja gue haus."

Chen terkekeh mengejek. Matahari sudah sepenuhnya naik diatas permukaan laut hingga dapat membuat wajah Vampir itu terpampang jelas.

Chen dan Hanbyul kompak mundur beberapa langkah ketika iris merah Lay perlahan berubah menjadi keemasan dan berakhir dengan cokelat terang.

"Warna mata manusia," gumam Hanbyul tersirat rasa takut.

Chen memejamkan matanya, menghirup aroma khas yang tubuh Lay uarkan sedalam-dalamnya. Rahang Vampir tertua itu mengeras, giginya bergemeletuk dengan otot kuku yang membiru. Ketika mata itu terbuka, iris merah gelapnya telah berganti dengan iris merah menyala. Sepasang kaki itu secepat kilat melangkah mendekati bau yang mengaduk pikiran juga perutnya. Tenggorokan Chen tercekat kala hidungnya mengendus ceruk leher Lay.

Lay mengernyitkan dahinya jijik. Dengan kesal Vampir itu mendorong kening Chen dan Hanbyul agar menjauh dari hadapannya dengan telunjuk. "Gue jijik, jangan dekat-dekat."

***





Kamar gelap dengan sedikit penerangan yang dihasilkan dari pantulan cahaya rembulan itu menerangi sepasang sosok yang tengah bergumul diatas ranjang. Kulit yang putih bersih tanpa terhalang pakaian itu terkena pantulan cahaya rembulan membuat kedua sosok tersebut semakin terlihat bersinar.

Bunyi kulit sekeras es saling beradu memenuhi tiap sudut kamar selain desahan dan derit ranjang.

Malam panjang dan panas yang diciptakan sepasang tembok es Antartika. Berusaha meraih kepuasan seksual dengan cara mereka sendiri.

Chen memutus ciuaman panjang mereka. Membuat rengekan keluar dari bibir wanita diatasnya. Mereka masih menyatu, Chen mengerakkan pinggulnya lebih cepat, begitupun dengan wanita itu. Mereka berakhir saling melempar senyum tersiksa sebelum kenikmatan itu datang melanda selama beberapa menit.

Wanita itu melepas penyatuan mereka. Lalu menidurkan dirinya disamping Chen. Mereka masih dalam keadaan telanjang bulat ketika wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada Chen dan memeluk pinggang rampingnya.

"Aku mencintaimu."

"Aku juga." Chen mencium puncak kepala Ailee lembut. "Mencintaimu."

Setelahnya tidak ada lagi percakapan atau kegiatan lain diantara mereka. Keduanya terjaga dengan pemikiran masing-masing. Hingga Ailee yang sejak tadi diam mulai bergerak tak nyaman.

"Ada yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Ailee, tak lagi tahan dengan keterdiaman Vampir dalam dekapannya itu. "Aku menunggumu."

Malam masih panjang ketika Chen menegakkan tubuhnya dengan iris merah bergerak gelisah.

"Ini mengenai Vampir yang akhir-akhir ini berulah."

Ailee mendongak demi menatap wajah kekasihnya. Guratan lelah terpancar jelas pada kening kekasihnya.

"Apa akan terjadi perang?" gusar Ailee tampak gelisah. Namun, gelengan yang Chen berikan membuat wanita itu sedikit tenang.

"Tidak jika aku dapat menemukan dalang dibalik semua ini dengan segera." Chen mendudukkan tubuhnya-mempertontonkan dada bidangnya yang telanjang. Membuat sepasang bukit kembar Ailee kehilangan tempat bersembunyi. Wanita itu kemudian meraih selimut untuk menutupinya.

"Kau adalah pemimpin Vampir di Indonesia, aku tahu kau pasti bisa," ujar Ailee optimis.

Chen melirik Ailee yang masih berbaring ditempatnya. "Aku juga berharap demikian."

Para Vampir biasanya akan memilih tinggal ditempat bersuhu dingin seperti Eropa atau Asia Pasifik. Namun, beberapa ratus tahun terakhir ini ditemukan fakta bahwa Vampir yang hidup dibawah sinar matahari akan lebih kuat dibandingkan Vampir yang hidup dibawah hujan salju.

"Kita menyerap energi panas yang matahari hasilkan." Chen memakai celananya. Melirik sekilas keluar jendela yang tengah mempertontonkan udara bersuhu rendah di negara tropis. "Jumlah Vampir yang hidup di negara seperti Indonesia tidak boleh lebih dari 10.000, atau ...."

Chen meninggalkan kamar Ailee sebelum Vampir itu selesai berbicara.

"Negara itu akan menjadi negara mati."

***