Apakah dia ingin aku berubah?
Baiklah, aku berubah untuk selamanya.

Haruto tertawa saat melihat sahabat perempuan satu-satunya itu merengut kesal. "Udah sih tha, lo di-gimana-in aja juga cantik kok. Lagian rambut pendek juga cocok buat lo. Jadi sekarang gak usah marah-marah lagi oke?"
"Kamu bodoh sekali, aku masih kesal padamu!"
"Sumpah, kalau kamu marah seperti ini, kamu malah jadi lebih imut, lho?"
"A-apasih!" Elak gadis itu.
"Mengapa pipimu merah, apakah kamu sakit?"
"Ih, Haruto!"
Lalu haruto tertawa dengan puas, senang menjahili sahabatnya ini. "Becanda sayang"
Kan, kan. Yaelah to, gimana anak orang gak baper coba.
Sekarang atha dan haruto berada di dalam mobil menuju arah pulang setelah dari salon untuk memotong rambut atha. Jadi, dua hari yang lalu mereka taruhan tebak umur pak rt yang ada diperumahan haruto, yang kalah harus nurutin apa kata yang menang. Tentu saja haruto yang menang. Haruto meminta gadis itu memotong rambutnya sebahu, karena menurutnya gadis itu kadang terlalu ribet dengan urusan rambut.
"Oh iya, kemarin dia bilang Bang Jihoon, Bang Junkyu, dan Jeongwoo datang ke rumahmu? Apa? Tiba-tiba, tidak mengundangku lagi." tanya Haruto yang masih fokus mengemudi.
"Ya ngapain lagi selain numpang makan wkwk. Temen lo tuh ada-ada aja deh to" jawab atha sambil tertawa.
"Kamu tampak sangat senang saat membicarakan temanku"
"Ya gimana gak senang, temen lo tuh lucu-lucu banget hehe"
"Jangan terlalu dekat sama mereka" haruto mengeratkan genggaman pada setirnya. "Apalagi sampai suka"
Atha menaikkan sebelah alisnya bingung. "Kenapa? Gue buat salah? Apa gue terlalu jelek buat—"
"T-tidak!! Bukan itu maksudku. Yah, karena kau cantik, makanya aku–" Haruto terdiam sejenak. "Ck, kenapa aku!"
Gadis itu menahan tawanya. "To, sumpah, jangan bilang lo cemburu?! Hahaha!"
"H-hah? Y-ya, aku cemburu. Aku temanmu, tapi aku tidak ingin kamu salah pilih orang hehe"
Gadis itu mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti, lalu menghela napas lelah. Ah kata itu lagi. Sampai kapan mereka harus berlindung dibalik kata sahabat. "Iya to, makasih. Gue ngerti"
"Eh, eh itu cimoy bukan sih?" Tanya haruto saat melihat seorang perempuan berambut merah dipinggir jalan.
"Hah? Di mana?"
"Eh ya, memang benar. Tha, aku mengundang Cimoy ya, aku tidak tega melihatnya, apalagi dia sendirian seperti itu."
"T-tapi ke"
Tanpa mendengarkan perkataan gadis disebelahnya, haruto pun menepikan mobilnya.

Haruto terus tersenyum bahkan sesekali tertawa saat gadis berambut merah disebelahnya melontarkan candaan yang bahkan menurut atha tidak lucu sama sekali. Haruto merasa sangat bahagia sekali hari ini.
Berbeda dengan laki-laki itu. Atha mendengus sebal saat melihat dua manusia di depannya kini sedang bersenda gurau, seolah mereka melupakan eksistensinya dibelakang sini. Ya, posisi atha yang awalnya di samping haruto kini pindah ke belakang digantikan oleh gadis merah menyebalkan itu. Tiba-tiba saja ponselnya berdering dan menampilkan nama doyoung disana.
"Iya kenapa sayang?" Ucap atha dengan suara yang sedikit dibesarkan.
"Tha? Lo.. gak lagi kesurupan kan?"
"Hahaha, ya nggak dong. Kamu nih becanda aja deh"
Lalu doyoung diseberang sana pun tertawa saat mendengar percakapan haruto dan cimoy, sekarang ia mulai menyadari situasinya. "Lo lagi jalan sama haruto, tapi haruto bawa gebetannya dia juga? Kasian banget sih tha HAHAHA"
"Kenapa kau bersikap seperti itu padaku? Aku sangat marah," kata Atha dengan suara yang dibuat-buat.
"Tolong hentikan. Aku tahu kamu kesal, tapi jika kamu terus melakukan itu, hatiku akan melemah."
"HAHAHA, bisa aja sih doy. Oh iya, kenapa telpon?"
"Tidak apa-apa, itu cuma bercanda. Tapi kamu sepertinya bosan, jadi bolehkah aku pulang malam ini? Aku juga ingin bertemu ibu mertuaku hehe"
"Hahaha ya bolehlah, tapi martabak telor dua bungkus ya"
"Siap cantik, gue tutup ya telponnya, babaayy"
Gadis itu tertawa pelan setelah panggilan telponnya terputus.
"Siapa yang telpon?" Tanya haruto melirik kaca spion.
"Oh ini, si doyoung" jawab atha sambil tersenyum.
"Terus kenapa sayang-sayangan?" Tanyanya lagi dengan tajam.
Atha menelan ludahnya, tiba-tiba saja ia merasa gugup. "Y-ya kan becanda doang itu hehe"
"Lain kali jangan gitu, gue gak suka. Katanya cuma teman, tapi sayang-sayangan. Terus kenapa pake aku kamu? Kalo gitu mulai sekarang, kita juga pake aku kamu, gak usah pake lo gue lagi" kata haruto panjang lebar.
"Iya" jawab gadis itu pasrah.
