Masih belum begitu mengerti.
Dalam proses menjadi dewasa
apa yang kulewatkan,
apa yang kuharapkan.
Di bawah langit fajar, sambil menghirup udara dingin,
aku mengira bahwa aku bermimpi,
mengira bahwa aku memimpikan menjadi dewasa.
Bintang-bintang bersinar begitu terang
seterang saat aku mengira bahwa aku sedang bermimpi,
namun berbeda dengan cahaya itu
di dalam diriku tak ada mimpi, tak ada romansa.
Itu hal-hal yang sudah lama kubuang.
Sebelum menjadi dewasa
aku terlalu banyak memikirkan banyak hal.
Mungkin karena itu?
Jantungku berdetak terlalu cepat, sampai terasa mengganggu,
dan pikiranku di kepala saling kusut, menyakitkan.
Apakah ini proses menjadi dewasa,
atau proses aku menyiksa diriku sendiri.
Aku sama sekali tidak bisa membedakannya.
Sebenarnya, apa rasa sakit ini.
Karena aku tak tahu jawaban atas pertanyaan ini
apa yang kulewatkan juga,
begitu pula apa yang kuharapkan
aku tak bisa tahu.
Mungkin ini setelah rasa sakit saat itu.
Saat orang yang kucintai membelakangi aku,
saat aku tahu pengkhianatan sahabat dekatku.
Perasaan jantung perlahan membeku.
Perasaan itu menakutkan, mengerikan,
jadi akhirnya aku hanya kelelahan semuanya.
Rasa sakit ini, yang timbul dari kusutnya pikiran saat ini
mirip dengan yang saat itu.
Tidak, mungkin sama persis.
Karena aku belum bisa menerima rasa sakit seperti ini
aku masih orang yang kurang,
masih orang yang banyak terluka,
dan orang yang sudah sangat kusut.
Masih belum tahu.
Apakah aku ingin menjadi orang sempurna,
atau ingin menjadi dewasa,
atau merindukan hal-hal yang sudah lama kubuang,
atau ingin mengakhiri rasa sakit ini.
Dan, mungkin, sedikit
kalau terus banyak berpikir sampai sakit dan merindukan
menjadi diriku yang sekarang pun mungkin tidak apa-apa.
Sebelum menjadi dewasa,
sebentar saja. Hanya sebentar.
Momen ini, saat aku bisa memandang diriku apa adanya.
Mungkin ini saat di mana meski menghabiskan waktu sambil terus banyak berpikir
tidak apa-apa.
Sebelum jantung membeku sepenuhnya,
bahwa membiarkan hati yang masih sedikit hangat ini
apa adanya itu tidak apa-apa,
bahwa masih boleh merasa sakit
aku berpikir begitu.
Kalau aku memikirkan hal-hal ini karena aku orang yang kurang,
itu pasti sangat khas diriku.
Persis seperti diriku sebagai remaja 10-an yang penuh luka.
