Maaf, tapi tidak menyesal.

Bab 9 🥀

🥀🥀🥀


Sudut pandang 1 Oh Sehun


photo


photo


🥀🥀🥀🥀🥀

"Jongdae"Hyung!

"Kim Jongdae!"

Kaki kiriku seakan mati rasa ketika aku sadar bahwa kepala yang aku tendang dengan sekuat tenaga itu adalah kepala Jongdae Hyung yang tengah memeluk kepala si brandal Park Chanyeol. Ketika Chanyeol melepaskan cengkeramannya pada kakiku dan langsung beralih memeluk Jongdae Hyung, aku langsung mengambil alih tubuh JongdaeHyung yang pingsan darinya dan membaringkannya di atas ranjang rumah sakit.

Darah segar keluar dari kuping kanan JongdaeHyung ketika aku membenarkan kepalanya dengan perlahan, darah itu menetes dan mengotori seprai putih rumah sakit. Kulihat Chanyeol sudah kembali duduk dikursi rodanya, ia tengah menekan bel rumah sakit yang berada di dekat nakas.

Jantungku berdebar menggila sementara tanganku gemeteran ketakutan kalau-kalau terjadi sesuatu pada Jongdae Hyung, ketika aku berjongkok disamping ranjangnya aku dapat melihat wajah berantakan si berandalan itu yang sedikit lebam akibat ulahku.

“Jika Jongdae kenapa-kenapa, itu semua salahmu.”

Aku menoleh tak terima pada ucapan Chanyeol yang menyalahkanku seakan semua ini hanyalah salahku. “Jika aku harus dihajar demi membayar kesalahanku yang telah tak sengaja memukul Jongdae Hyung, atau harus mendekam di penjara sekali pun, aku akan menerimanya dengan lapang dada.” Aku tak akan kalah dari laki-laki brandalan ini, sekali pun itu hanya adu mulut. Aku akan memenangkan Jongdae Kakak.

Aku mengerutkan dahi bingung ketika Chanyeol justru tertawa mengejek. “Perbaiki dulu cara bicara sok desawamu itu, Bocah.” Dia mendekati ranjang JongdaeHyung dan menggenggam jarinya erat. “Apa yang kau rasakan pada Jongdae itu hanyalah cinta monyet.”

“Bukan cinta monyet!” Aku berdiri, dengan mengepalkan kedua tanganku menahan kesal.

Tak berselang lama, dokter dan 2 orang suster datang dan memberiksa keadaan JongdaeHyung. Chanyeol membawa kursi rodanya menyingkir, dia keluar dari ruangan JongdaeHyung setelah dokter mengatakan bahwa pasien tak baik-baik saja dan mengalami cidera ringan pada pendengaran bagian dalamnya yang membuat telinganya mungkin akan merasakan dengungan yang menyakitkan.

Aku masih berdiam diri di samping ranjang JongdaeHyung sambil terus menganggam jari-jarinya erat, hingga paman dan bibi Kim datang aku menjelaskan apa yang baru saja terjadi.

“Ketika aku datang, aku sudah melihat JongdaeHyung menangis tertekan, aku pikir Chanyeol memeluknya dengan paksa. Aku ingin melepaskan JongdaeHyung dari cengkeramannya, tetapi Chanyeol malah menjadikan JongdaeHyung sebagai tamengnya hingga pukulanku tak sengaja mengenai kepala JongdaeHyung,” ceritaku pada mereka, yang aku ambil hanya dari sudut pandangku tanpa sedikit pun menceritakan kejadian tersebut dari sudut pandang ketiga belah pihak. Lagi pula itu tak perlu, kesaksianku saja sudah lebih dari cukup.

Ayah Jongdae Hyung tak berkomentar, sedari tadi ia hanya sibuk memandangi wajah anaknya saja tanpa sekali pun melirikku. Sementara bibi Oh, adik ayahku, beliau sedari tadi terus menyendiri, duduh sejauh mungkin dari sang suami.

“Sehun,” panggil paman Kim.

Kepalaku yang semula menunduk langsung mendongak begitu pria paruh baya itu memanggil namaku. “Iya, Paman?”

“Bisakah kau pulang dari rumah sakit malam ini, Sehun?” mintanya yang membuatku bingung, karena sejak JongdaeHyung masuk rumah sakit, aku sudah selalu menemaninya dan menginap di sini dan mereka tak sekali pun mempermasalahkannya. Jadi, kenapa baru sekarang? “Kau masih sekolah, aku tak ingin membuat orang tuamu memarahimu karena nilaimu jelek.”

Tutur kata itu terdengar lembut, namun entah mengapa aku justru merasa tersinggung karenanya.

Dengan tenang, aku menggeleng; menolak perintahnya. “Tidak, Paman. Aku sudah dewasa dan aku ingin sekali melindungi JongdaeHyung,” jawabku yakin, “lagi pula aku ini salah satu murid tercerdas, aku bisa dengan mudah mempelajari pelajaran yang ada. Jadi, Paman Kim tak usah mengkhawatirkan nilaiku.”

Paman Kim membalik tubuhnya menghadap ke arahku, mimik wajahnya terlihat serius. “Bisakah kita bicara di luar sebentar, Sehun?”

Aku mengangguk mengiyakan meski dalam hati terasa begitu ganjal, aura yang Paman Kim keluarkan sangat mengintimidasi, firasatku seakan mengatakan bahwa sebentar lagi aku akan memiliki saat-saat yang sulit.

Kami berdua berakhir di taman rumah sakit, Paman Kim duduk disebelah kiri kursi taman berwarna putih panjang itu ketika aku sendiri memutuskan untuk tetap berdiri menghadap ke arahnya. Malam ini langit agak mendung, bintang-bintang dan rembulan yang biasanya bersinar terang pun sinarnya terhalang awan kelabu. Angin malam sepoi-sepoi menerpa wajahku, aku sedikit memejamkan mata untuk lebih menikmati kesejukannya.

“Jam berapa sekarang?"

Aku refleks membuka ponsel dan memeriksa jam. “00.09 AM KST, Paman,” sebagai calon menantu idaman, aku menjawabnya dengan cepat dan tepat. “Memangnya ada apa? Paman tak akan menyuruhku tidur sekarang, 'kan?”

“Lalu, berapa usiamu sekarang?” tanya Paman Kim lagi tanpa menghiraukan pertanyaanku. Kali ini, aku benar-benar mengerutkan dahi bingung akan pertanyaan yang beliau utarakan.

Dengan ragu-ragu, aku menjawab, “19 tahun. Ulang tahunku setiap tanggal 12 April.”

Wajah Paman Kim menoleh kepadaku. “Aku sudah bertanya sendiri pada Jongdae,” Paman Kim tersenyum lembut padaku ketika mengatakannya.

Aku menahan napas, apa Jongdae Hyung sudah berkata jujur? Lalu, aku harus bagaimana nanti?

Aku mengangguk sebagai jawaban bahwa aku menunggu kata-kata Paman selanjutnya, tetapi yang aku dapatkan justru Paman Kim yang berdiri dan berjalan ke arahku kemudian memelukku erat. Tangan kanannya menepuk-nepuk punggungku seakan aku adalah putra kebanggaannya.

“Aku tahu kau anak baik-baik,” bisik Paman, “kau bukan seperti si berandalan Chanyeol itu, Sehun. Kau adalah keponakan kesayanganku.”

Aku mengeraskan wajahku, sama sekali tak menyukai perkataan pria berkepala 5 ini.

“Jadi?” tanyaku dongkol. “Aku—tindakan apa yang akan Paman ambil untuk JongdaeHyung dan si Park Chanyeol bodoh itu?” Aku melepaskan tubuh dari pelukannya. “Paman tahu tidak kalau aku, Oh Sehun, laki-laki di depanmu ini ... aku, aku ini benar-benar menyukai ...,” kata-kataku seakan tersangkut di tenggorokan, rasanya seperti menelan kue beras bulat-bulat. “Aku menyukai—bukan! Bukan! Aku. Mencintai JongdaeHyung!

Kulihat wajah Paman yang nampak khawatir. “Keponakanku, Oh Sehun.” Paman Kim coba meraih tubuhku kembali ketika aku justru melangkah mundur; menghindarinya. “Dengarkan Pamanmu ini dulu—”

“Karena aku dan dia adalah sepupu?" potongku marah dengan mata memerah. “Atau karena perbedaan usia kami? Tapi pasti bukan karena kita adalah sama-sama lelaki, bukan? Karena kedua kakek buyut Kim adalah sesama pria.” Aku coba menerka-nerka di mana salahnya aku ketika mencintai sepupuku sendiri. “Atau, karena aku yang terkadang masih suka bertindak kekanak-kanakan?” Angin malam kian bertiup kencang menerpa wajahku seiring dengan gerimis yang kian lama kian deras. “Apakah Paman tahu bahwa cinta tak mengenal perbedaan apa pun itu—”

"Oh Sehun!"

Secara tak biasa, aku mengepalkan tangan ketika berhadapan dengan Paman Kim. Dan kali ini dia memanggil namaku dengan geraman dan mata sipitnya —yang sama persis seperti milik Jongdae Hyung— yang melotot kesal. Ketika beberapa orang yang juga berada di taman tengah berhamburan meneduh, kami berdua justru saling beradu argumen melalui tatapan.

“Aku tak ingin memperpanjang kebohonganmu tentang siapa yang menghamili anakku karena kau adalah anak dari adik kesayanganku,” geramnya, “aku tahu kau menyayangi Jongdae seperti kau menyayangi nyawamu sendiri dan aku menghargai perasaanmu sebagai sesama lelaki, jika ditanya, siapa yang jauh lebih baik? Kau atau Chanyeol? Maka jawabanku adalah, tidak keduanya.” Aku mendengarkan ucapannya dengan serius. “Kalau ditanya lagi, siapa yang paling bajingan? Kau atau Chanyeol? Maka jawabanku adalah....” Paman Kim menjeda ucapannya dan melirikku jenaka. “Kalian berdua itu sama saja.”

Aku mengerutkan dahi tak mengerti. Bagaimana mungkin aku dan Si Berandal Chanyeol itu sama saja? Jelas-jelas, dari segala sisi, aku lebih baik daripada dia!

Dengan tangan yang terlipat dibelakang punggung. Paman Kim tersenyum ke arahku. “Aku tadi baru saja pulang dan memeriksa CCTV di rumah,” ceritanya, “Sehun, bagaimana rasanya mengendap-endap ke rumah orang dan mencuri beberapa celana dalam milik anak pemilik rumah itu?”

Aku melebarkan mataku ketika dengan entengnya Paman Kim mengatakan hal sevulgar itu. Dengan tenang, aku menggeleng meyakinkan. “Aku tak mengerti apa maksudnya?”

“Maksudku adalah, bebedapa celana dalam Jongdae yang kau curi itu.” Paman Kim mengeluarkan ponselnya dari saku celana bahannya, entah mencari apa di saja. “Jongdae kadang mengeluh bahwa celananya suka menghilang, dan itu terjadi setiap kali kau baru saja menginap. Karena penasaran, aku diam-diam memasang kamera CCTV di tempat-tempat tersembunyi.”

Entah bagaimana tanganku tiba-tiba saja berkeringat dingin juga gemetaran. Apa yang harus aku katakan pada Jongdae Hyung kalau sampai Paman Kim menceritakan hal ini padanya? Mau ditaruh di mana wajahku!

Paman Kim menyodorkan ponselnya yang tengah menayangkan video rekaman di mana aku tengah membuka laci milik JongdaeHyung, menciumi celana-celana itu dan menyembunyikannya di dalam baju sebelum akhirnya aku bawa pergi.

“Chanyeol memang berengsek karena dia suka permain dibelakang Jongdae, dan bahkan dengan mudah melukai Jongdae. Tapi kau, Sehun.” Aku menatap Paman begitu namaku dia sebut. “Kau terlalu terobsesi pada Jongdae, bukan tidak mungkin di masa depan jika Jongdae membuat kesalahan yang membuatmu cemburu kau tak akan segan-segan untuk melukainya lebih parah daripada yang Chanyeol perbuat.”

Dengan terbata-bata, aku kembali membela diriku, “Aku akan—aku bisa memperbaiki kelakuan burukku itu.” Aku bersimpuh di bawah kakinya, memeluk kaki yang hanya memakai sandal jepit itu sambil menangis takut, takut akan kehilangan orang yang aku sayangi selama ini. “Aku sungguh minta maaf, terkadang aku tak mengerti akan apa yang aku lakukan, tapi Paman. Tolong berikan aku kesempatan sekali saja untuk—”

“Kau harus mengerti, kesempatan kedua tidak datang untuk siapa saja, Sehun.” Aku mendongak, menatapnya bingung. “Tunggu, hingga aku mati, baru kau boleh mendekati Jongdae dan menjadikannya milikmu.” Paman Kim berlalu ke dalam rumah sakit, meninggalkan aku sendiri yang masih berusaha mencerna kata-katanya barusan.

Kemudian, aku mengingat-ingat, kapan Mama terakhir kali meminta bantuanku untuk membeli hadiah ulang tahun untuk kakaknya? Kira-kira berapa lama rata-rata manusia akan hidup di dunia dan meninggal karena faktor usia? 50 tahun? 60 atau 70 tahun? Penyakit? Kecelakaan? Biasanya orang akan cepat mati karena memiliki penyakit-penyakit tertentu yang berbahaya, 'kan?

Aku tersenyum, berdiri dari posisi bersimpuh tadi dengan hati yang ringan. “Jongdae Hyung bilang Paman suka sekali makan jeroan, kalau begitu mulai besok aku akan selalu membelikannya masakan jeroan agar hati Paman selalu gembira.”

Kalau ada yang mengingatkan bahwa Paman Kim tidak boleh makan makanan jeroan karena asam urat yang dideritanya, aku tinggal bilang saja tidak tahu menahu soal itu.

Aku memikirkan untuk menguras semua tabunganku ketika tengah berjalan menyusul Paman, tetapi mungkin aku akan sedikit tidur dan kembali memikirkannya besok, lalu berterima kasih karena beliau yang sudah memberikanku solusi atas masalahku.

Setidaknya aku masih memiliki banyak waktu, dan selama itu pula aku akan membuat diriku berguna, aku akan menjadi orang yang sukses yang dapat memberikan orang yang aku cintai apa pun yang dia inginkan, termasuk kemewahan dunia. Dan aku akan menyingkirkan siapa pun yang menjadi penghalang impianku.

Tepat pada bulan Juli, makhluk sialan itu akhirnya mereka pertahankan, usianya sekarang sudah 5 bulan dan selama itu pula JongdaeHyung harus terus mendapatkan perawatan intensif mengingat kandungannya yang sangat lemah. Ketika akhirnya aku tahu bahwa Si Berandal Chanyeol itu menuruti permintaan JongdaeHyung agar mempertahankan anak mereka, tidak ada apa pun yang bisa aku lakukan, mereka kini seakan mengganggapku orang asing. Tidak ada yang mau mendengarkan pendapatku lagi, JongdaeHyung dan Paman Kim mengambil keputusan mereka sendiri padahal mereka sudah tahu apa yang akan terjadi di masa depan jika makhluk itu terus hidup.

Tetapi siapa peduli, aku hanya bisa tersenyum miris melihat semua itu dan terus menunggu, menunggu waktu yang tepat untuk ... bukan untuk melihat mereka tertawa bahagia seperti saat ini!

Chanyeol memanfaatkan situasi yang ada dengan sangat baik, kakinya yang patah sudah sembuh, dia kini sudah bisa berjalan lagi. Entah apa yang sebenarnya tengah dia rencanakan, prilakunya seakan terus berubah-ubah, kadang dia begitu munafik dihadapan JongdaeHyung dan terkadang pula dia menunjukkan sifat bengisnya yang sesungguhnya. Memendam semua kecurigaanku seorang diri, aku dan dirinya secara terbuka melakukan perang dengan cara berlomba-lomba mendapatkan perhatian dari Jongdae Hyung dan orang tuanya. Tetapi sepertinya aku harus bersyukur karena sepertinya Bibi juga tak begitu menyukai Chanyeol, setidaknya masih ada 1 orang yang berada dipihakku.

“Hari ini kau kalah lagi, Bocah.”

Kedua kakiku terus berjalan lurus di tengah koridor tanpa sedikit pun menoleh dan menghiraukan kata-kata busuk Chanyeol yang saat ini tengah tertawa mengejekku di ambang pintu ruang inap JongdaeHyung, itu terjadi siang tadi ketika aku yang baru pulang dari les berbicara dengan Paman Kim lagi, berusaha meyakinkan beliau bahwa bajingan yang telah menghamili anaknya itu adalah aku, aku! Oh Sehun! Tanpa menyadari bahwa di sana juga ada Chanyeol yang tengah mati-matian menahan ledakan tawanya.

Tetapi masih terlalu dini untuk menyerah, setidaknya seorang ayah, sesayang apa pun dia, pasti tidak akan membiarkan anak satu-satunya jatuh ke tangan iblis, 'kan? Maka sejak saat itu aku mulai menyelidiki semua kegiatan Chanyeol yang sangat aktif balapan liar, hal yang selalu JongdaeHyung katakan sangat membencinya itu.

Dari sini, aku mulai paham tentang dunia orang dewasa, bukan berarti aku belum dewasa, hanya saja dunia orang dewasa yang aku maksud adalah tentang keegoisan setiap individu tentang sebuah hubungan di mana mereka tak mau mengalah satu sama lain, terus mengekangnya karena apa yang pasangannya lakukan dianggap tak berguna dan cenderung berakibat negatif. Satu-satunya hal yang beberapa orang jarang mengerti dalam sebuah komitmen: komunikasi.

JongdaeHyungdan Chanyeol yang bodoh.

Begitu waktunya kurasa tepat, aku mengambil beberapa foto dan rekaman video yang berhasil aku abadikan ketika tengah membuntuti Chanyeol balapan liar, beberapa fotonya yang tengah bersama wanita-wanita seksi aku ambil dari sudut kamera yang paling pas sehingga bisa menimbulkan kesalahpahaman. Ketika aku mengajak Paman Kim untuk berbicara berdua, aku mulai menunjukkan apa yang selama ini telah berusaha aku kumpulkan hingga melewatkan beberapa mata pelajaran karena terpaksa harus membolos.

“Kau mendapatkan semua ini dari mana, Sehun?” Wajah Paman terlihat sangat merah ketika bertanya padaku dengan mata yang tak lepas menatap foto-foto itu, salah satu foto yang sudah aku edit tengah menunjukkan Chanyeol yang berciuman dengan seorang perempuan seksi, lalu pada foto lain yang sedikit lebih buram menunjukkan Chanyeol yang tengah menikmati seks oral dari seseorang. Kemudian pada sebuah video memperlihatkan Chanyeol yang tengah marah-marah sambil menendang seseorang.

“Beberapa hari ini aku diam-diam membuntutinya,” jawabku jujur. “Maaf jika mungkin aku tak sopan, hanya saja aku penasaran orang seperti apa Chanyeol itu hingga membuat JongdaeHyung begitu tergila-gila padanya.” Aku menunjukkan wajah simpatiku. “Aku tak menyangka bahwa ternyata Chanyeol adalah orang yang seperti itu,” bohongku.

Ekor mataku melirik tangan Paman Kim yang meremas foto-foto itu. Dengan gigi bergemeletuk, Paman menatapku dan berkata, “Jaga Jongdae selama aku pergi, jangan biarkan Bibimu itu mengatakan yang tidak-tidak lagi hingga membuat Jongdae turun.” Aku mengangguk patuh ketika Paman berjalan meninggalkanku dengan langkah lebar-lebar.

“Maaf, Paman.” Aku menggeser layar ponsel dan menghubungi seseorang ketika kulihat punggung kakak laki-laki ibuku itu sudah tak terlihat lagi. “Tapi, aku penasaran dengan apa yang akan kau lakukan terhadap Si Berandal Chanyeol itu, Paman.”

🥀🥀🥀


Angin siang dengan terik matahari diawal bulan Juli menerpa sebagian wajahku yang hampir tertutup masker dan topi kep, punggungku menyentuh tembok berbahan baku batu dan semen yang dijadikan pembatas pada sebuah taman sementara di sampingku adalah pintu utama. Diam dan tak bersuara, ketika dengan sengit 2 orang pria dibalik tembok yang kira-kira hanya berjarak setengah meter dari tempatku berdiri itu tengah berdebat sengit.

“Katamu kau akan berubah demi anakku,” itu suara Paman Kim. “Tapi nyatanya aku mendengar dari seseorang bahwa kau masih balapan lagi?”

“Siapa seseorang itu?” Lalu ini adalah suara Chanyeol. “Aku tak mengatakan bahwa aku akan berhenti balapan.”

“Apa bagusnya hobi tak jelasmu itu? Lebih baik kau belajar dengan sungguh-sungguh untuk masa depanmu nanti.”

“Balapan adalah masa depanku dan Jongdae,” tegas Chanyeol. “Paman akan mengerti jika sudah saatnya nanti.”

Aku mengerutkan dahi cemas ketika selama beberapa menit mereka tak lagi bersuara, semua hanya diisi keheningan yang menyebalkan. Hingga aku mendengar helaan napas yang terdengar berat, aku mulai memfokuskan pendengaranku lagi.

“Bagaimana aku akan mengerti jika kau tak mau berterus terang?” tajam Paman, “bagaimana orang lain akan mengerti jika kau tak mengatakan apa pun dan hanya memendamnya seorang diri?”

“Karena aku takut, jika aku sudah mengatakannya, namun aku justru gagal, aku takut kalian akan kecewa,” jujur Chanyeol, dan aku mulai mengepalkan tangan kesal. Karena Chanyeol tidak boleh mengatakan yang sejujurnya, dia harus tetap dipandang buruk oleh semua orang khususnya JongdaeHyung!

Hening lagi, aku tak mendengar apa-apa selain daun-daun yang saling bergesekan satu sama lain akibat angin.

“Kau tahu kan, Chanyeol. Kesempatan kedua tidak datang untuk siapa saja.”

“Aku paham.”

“Jauhi Jongdae sebelum kau sukses—”

“Maaf,” sela Chanyeol, “tidak akan pernah.”

“Dari awal aku sudah tahu bahwa kau bukan lelaki baik-baik.” Aku mendengar Paman seperti melemparkan sesuatu pada dada Chanyeol yang aku kira itu adalah foto-foto yang kemarin aku berikan padanya. “Apa aku harus membuat daftar dosamu terhadap anakku satu per satu hingga otakmu waras?”

“Apa Paman pikir orang jahatnya di sini hanyalah aku?”

🥀🥀🥀