Awalnya, saya merasa tenang karena berada dalam pelukan anak itu, tetapi setelah beberapa saat, saya mulai merasa pusing...
“Eh... aku harus pulang...”
“Ah... Aku akan mengantarmu ke sana.”
“Tidak..! Tidak apa-apa! Aku bisa pergi sendiri...”
"Tidak. Ikutlah denganku..."
Anak itu memiliki wajah yang lembut, seolah-olah dia tidak pernah marah. Aku tak kuasa menahan senyum karena dia terlihat sangat imut.
"Memilih,"
“..? Apa-apaan ini... Aku serius..,”
"Ah... haha oke ayo kita pergi bersama"
"Aku merasa... aku dimanfaatkan..."
"Hahaha tidak~~"
"...haha oke"
Anak itu menatapku dan tersenyum.
Aku merasa kesal, tapi aku juga merasa bersemangat.
~~Dalam perjalanan pulang...~~
“Ah...ini dia! Terima kasih sudah membawanya ke sini haha”
"Oke, masuklah dengan hati-hati."
"Ya...! Sampai jumpa besok!"
“Ah… aku dan…”
Anak itu mengulurkan ponselnya.
“Bolehkah saya meminta nomor telepon Anda?”
"Ah...ya"
Saya segera memberikan nomor telepon saya kepadanya.
Dari luar, ekspresinya tampak datar, tetapi di dalam hatinya, ia sangat bahagia.
"Hei, telepon aku saat kamu sudah sampai."
Anak itu melambaikan tangan kepadaku.
“Ya..! Terima kasih untuk hari ini.”
Aku merasa dekat dengan anak itu.

.
.
.
.
.
.
.
.
Halo..! Saya seorang penulis. Selalu ada orang yang membaca karya saya, tetapi tidak banyak yang berlangganan...
Terima kasih banyak telah menonton dan berlangganan🙇♂️
