Jatuh Cinta dengan Sunghoon

Kebetulan(?)

10:55 AM

Tak terasa, Shine telah menghabiskan seluruh waktu istirahatnya di perpustakaan.

Lehernya sakit karena terus menunduk saat membaca buku. Dia mendongakkan dan meregangkan otot lehernya.

Bunyi tulang terdengar nyaring di perpustakaan. Itu membuat Shine sedikit malu karena menjadi pusat perhatian.

Dia menoleh, telinganya sedikit risih mendengar bisikan-bisikan yang begitu ramai.

Karena serius membaca buku, Shine tak sadar kalau di sampingnya ada Park Sunghoon, si kapten basket idaman sekolah.

Saat dia melihat Sunghoon, Sunghoon balas melihat Shine. Mata mereka saling memandang. Itu membuat pipi Shine memerah.

Shine salah tingkah. Dia tersenyum canggung ke arah Sunghoon yang masih saja menatapnya.

Pipinya semakin memerah. Dia tak mau pipinya berubah menjadi kepiting. Dengan cepat, dia melangkah pergi dari perpustakaan itu menuju kelas.

12:00 AM

Kim Riri

"Lo pulang naik apaan nanti?"

Choi Shine

"Sekolah selesai aja belum lo udah mikir pulang. Yang bener aja."

Kim Riri

"Ya, mari kita bersiap-siap. Siapa tahu, mungkin tidak ada yang akan menjemputmu. Kamu bisa ikut denganku nanti."

Choi Shine

"Tidak. Katakan saja kamu ingin diantar ke mal. Aku tidak mau."

Choi Shine

"Aku masih punya buku yang harus kuselesaikan hari ini. Jadi aku ingin membacanya di perpustakaan dulu."

Kim Riri

"Bisakah kau melepaskan pikiranmu dari buku itu? Kau yang membaca, aku yang bosan."

Choi Shine

"Lo juga minta contekan buat apa? Udahlah ga usah protes."

Kim Riri

"Dih ya udah."

Guru masuk ke kelas dengan tenang. Kali ini ada Pak Jino yang akan mengisi kelas.

Pak Jino

"Hari ini di jadwal bebas, akan saya isi dengan olahraga. Silahkan ganti dengan pakaian olahraga. Bawa semua kan?"

Para Murid

"Bawa, Pak!"

Pak Jino

"Bagus. Silahkan ganti."

Kim Riri

"Yuk!" ajak Riri.

Shine nampak kebingungan. Dia lupa bahwa seragam olahraganya dia bawa pulang untuk dicuci.

Kim Riri

"Kenapa, Shine?"

Choi Shine

"Seragam olahraga saya, saya bawa pulang," kata Shine menyerah.

Kim Riri

"Terus gimana? Lo mau pinjem dulu ke kelas lain?"

Choi Shine

"Tidak. Aku akan pergi ke perpustakaan. Aku akan meminta izin kepada Pak Jino nanti."

Kim Riri

"Perpus mulu. Masa iya lo lewatin kesempatan emas buat liat Kak Sunghoon lagi?"

Kim Riri

"Hari ini kelasnya juga jam olahraga lhoh."

Choi Shine

"Baiklah. Sudah kubilang aku tidak tertarik bertemu Kak Sunghoon. Kalian cepat ganti baju. Aku akan menunggu. Kita akan turun bersama."

Kim Riri

"Baiklah. Tunggu aku."

Riri berjalan menuju ruang ganti meninggalkan Shine yang sendirian di dalam kelas.

Shine membaca buku pelajaran yang tergeletak di mejanya.

5 menit berlalu dengan hening. Hanya bunyi jam yang memenuhi ruangan.

Shine mulai tak nyaman ketika dia merasa ada seseorang yang menatapnya.

Shine menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan siapa yang sedang memperhatikannya.

Namun dia tak menemukan siapa pun di dalam kelas.

Saat dia menoleh ke jendela, dia menemukan Sunghoon yang kebetulan lewat.

Sunghoon pun menoleh. Dan tanpa diduga, dia tersenyum.

Namun Shine tidak melihatnya dengan jelas. Tentu saja dia melewatkan kesempatan emas mendapat senyum dari Sunghoon.

Tak ingin lebih dalam bertatapan dengan Sunghoon, Shine kembali fokus pada bukunya.

Namun siapa yang bisa mengelak dari pesona Sunghoon?

Ketika Shine menoleh lagi, Sunghoon sudah tidak ada di sana.

Choi Shine

“Gue halu kali ya?” monolog Bersinar.

Shine menepuk pipinya pelan. Menyadarkan fokusnya yang sempat hilang karena Sunghoon yang mungkin saja hanya bayangan dari Shine.

Tak lama, Riri datang lalu mengajaknya turun.

Mereka turun ke lapangan. Di sana ada Pak Jino. Shine ijin pada Pak Jino karena dia tak membawa seragam olahraga.

Choi Shine

"Maaf, Pak. Seragam olahraga saya ada di rumah. Saya lupa membawanya. Apakah saya tidak bisa ikut olahraga?"

Pak Jino

"Ya. Tapi kamu tidak bisa pergi ke perpustakaan. Kamu di sini."

Choi Shine

"Kenapa, Pak? Saya bosan nanti gimana?"

Pak Jino

"Kamu mau membantah, Shine? Ini pelajaran yang saya isi. Kamu harus ikut apa yang saya suruh."

Choi Shine

"Baik, Pak."

Shine duduk di bangku penonton yang ada di sekitar lapangan. Dia sungguh jenuh.

Dia berharap ada seseorang yang membawakan buku dari perpustakaan.

Kim Tae

"Nih.

Shine menoleh ke arah Tae. Tae menyodorkan sebuah buku yang biasa Shine baca di perpustakaan.

Choi Shine

"Apa nih?"

Kim Tae

"Es teh."

Shine berdecak.

Kim Tae

"Apa ini keliatan kayak unta buat lo?"

Choi Shine

"Kamu bisa melakukannya. Bagaimana kamu tahu aku suka buku ini?"

Kim Tae

"Aku hanya mengambilnya."

Tae duduk di samping Shine.

Choi Shine

"Lo kok di sini? Lo kan pelajaran."

Kim Tae

"Aku sudah mendapat izin untuk pergi ke kamar mandi. Lalu aku melihatmu duduk. Jadi aku mengambil buku dari perpustakaan."

Choi Shine

"Alasanmu tidak logis. Tapi tidak apa-apa. Terima kasih atas bukunya. Kembalilah. Guru akan mencarimu nanti."

Kim Tae

"Ntar ah. Bosan di kelas. Aku sudah muak."

Shine tidak menanggapi. Dia sudah larut pada bukunya.

Kim Tae

"Shine, apakah kamu tahu ada orang yang menyukaimu?"

Shine tidak menjawab. Dia sudah terlalu larut pada bukunya.

Kim Tae

"Shine? Lo denger nggak? Budeg ya lo?"

Shine masih diam. Dia tak memberi respon apapun.

Kim Tae

"Bersinar?"

Tak juga ditanggapi, Tae mengambil buku yang dibaca Shine itu.

Choi Shine

"Lo kenapa sih, Tae? Kenapa?"

Kim Tae

"Apakah kamu mendengar apa yang kukatakan?"

Kim Tae

"Dengar. Ini jawabanku. Aku tidak peduli apakah ada yang menyukaiku atau tidak. Maksudku, kenapa kalian menyukaiku yang suka membaca buku?"

Choi Shine

"Mengapa kamu menyukaiku padahal aku hanya bekerja di perpustakaan?"

Kim Tae

"Pikiran lo cetek ya, Shine?"

Choi Shine

"Sebenarnya, kau sedang mengejekku. Ucapanmu tidak jelas. Kembali ke kelas."

Kim Tae

"Ah, jawabanmu tidak menyenangkan. Ayolah. Aku ingin masuk kelas dulu."

Kim Tae

"Peduli sama sekitar jangan lupa. Ada orang yang suka sama lo."

Choi Shine

"Dia banyak bicara. Ini bukunya."