Jatuh Cinta dengan Sunghoon

Petunjuk Gagal Ditemukan

Seperti yang Shine duga, perpustakaan sangat ramai oleh siswi yang terobsesi dengan Sunghoon.

Shine kemari hanya untuk meminjam buku lagi. Hanya sebentar. Karena dia tak betah akan suasana yang ramai ini.

Kim Riri

"Loh, katanya lo ga mau ke sini?"

Shine menoleh ke arah sumber suara itu.

Choi Shine

"Aku meminjam buku sebentar. Terlalu ramai," kataku.

Kim Riri

"Kurasa kau tergila-gila pada gadis itu."

Shine tak memberi respon.

Choi Shine

"Y-baiklah. Aku akan kembali dulu."

Shine melangkah cepat kembali ke kelas.

Berbeda dengan suasana di perpustakaan, suasana di lapangan cenderung tenang.

Langkahnya mulai pelan karena sepi.

Tiba-tiba, Tae menghampirinya.

Choi Shine

"Mengapa?"

Shine mendongak untuk melihat wajah Tae.

Tae menggeleng pelan.

Choi Shine

"Apakah kamu masih punya daya?"

Kim Tae

"Sungai Nemen."

Shine kebingungan.

Choi Shine

"Nemenin? Kenapa?"

Tae menunjuk seseorang dengan dagunya.

Shine menoleh untuk menunjukkan dagu Tae sebelumnya.

Ternyata ada Sunghoon yang berdiri di seberang lapangan. Sunghoon menatap ke arah mereka berdua.

Choi Shine

"Dia dari tadi di situ?"

Shine masih menatap ke arah Sunghoon.

Kim Tae

"Menurut lo?"

Shine diam sejenak.

Choi Shine

"Tapi kan lagi pada rame gara-gara dia? Kenapa dia santai begitu?"

Kim Tae

"Mana gue tau. Lo tanya dia lah.

Shine berdecak pelan.

Choi Shine

"Gue mau balik kelas. Kelas lo kan di sana."

Kim Tae

"Aku akan pergi ke kelasmu."

Choi Shine

"Ga usah. Bentar lagi juga masuk."

Kim Tae

"Bentar lagi apaan, bego. Masih setengah jam."

Dia adalah seorang bajingan.

Choi Shine

"Udah sana lo balik. Atau makan siang dulu. Belum makan kan lo?"

Tae tersentak.

Kim Tae

"Lo mau nitip?"

Choi Shine

"Tidak. Saya sudah makan kemarin."

Tae berdiam sebentar di depan Shine. Hingga akhirnya Tae pergi menuju kantin.

Shine melangkah pelan masuk ke kelasnya. Di kelas sangat sepi.

Hanya ada dua teman lelaki di kelasnya yang sedang mengobrol santai.

Cowok 1

"Lo nggak ikut ke perpustakaan?"

Shine berbalik perlahan lalu menggelengkan kepalanya.

Cowok 1

"Lo emang yang paling langka."

Shine tersenyum canggung. Dia bergegas duduk di bangkunya.

Dua murid itu masih mengobrol. Terdengar sedikit bising di telinga Shine. Tetapi, Shine berusaha tidak peduli dan mulai membaca bukunya.

Beberapa menit berlalu. Kedua murid itu tiba-tiba hening.

Shine enggan mengecek apa yang terjadi. Dia malah bersyukur karena kelas kembali tenang.

Tiba-tiba ada suara yang terdengar di samping Shine.

Sunghoon

"Udah makan?"

Shine kenal suara itu. Dia berusaha untuk tidak menoleh karena takut ada yang melihat.

Apalagi ada dua teman lelaki di kelasnya.

Shine diam dengan tangannya yang gemetar saat membalik bukunya.

Sunghoon

"Lo udah makan?"

Sunghoon bertanya lagi.

Shine semakin terdesak. Tanpa sadar, dia menggeleng pelan.

Padahal dia sudah makan tadi.

Sunghoon meletakkan sebotol susu stroberi di atas meja Shine.

Shine tetap diam. Dia masih tidak menatap Sunghoon.

Choi Shine

"M-makasih," ucap Shine sangat pelan.

Sunghoon tersenyum miring.

Sunghoon

"Apakah kamu benar-benar takut padaku?"

Shine menelan ludahnya. Apa yang harus dia katakan?

Dia tidak takut pada Sunghoon. Dia hanya takut kalau nantinya akan banyak orang yang menghujatnya karena dekat dengan Sunghoon.

Kim Tae

"Shine!" Tae berteriak dari pintu kelas.

Shine segera mendongak. Kelas masih hening. Kedua pria itu tidak berada di kelasnya.

Kim Tae

"Ikut gue." Tanpa ijin dan kata, Tae menarik tangan Shine.

Mengajaknya keluar kelas.

Sunghoon semakin kesal dibuatnya. Lagi dan lagi, Tae selalu datang.

Sunghoon berdiri, mencari kertas dan bolpoin. Dia menuliskan sesuatu di sana lalu menaruhnya di bawah susu strawberry.

Dengan pelan, Sunghoon melangkah keluar dari kelas Shine. Untung saja, lorong sedang sepi.

Kim Tae

"Kak Sunghoon, apakah kamu baik-baik saja?"

Choi Shine

"Bagaimana menurutmu? Kamu sendiri yang melihatnya, kan? Aku terkejut."

Tae diam. Dia mengamati wajah Shine yang sedikit panik.

Kim Tae

"Tenang dulu. Nanti aku akan mengantarmu kembali ke kelas."

Choi Shine

"Ga usah. Balik sekarang aja."

Tae sedikit tidak yakin. Namun akhirnya mereka berdua berjalan kembali ke kelas Shine.

Ketika mereka berada di lapangan, tiba-tiba banyak murid perempuan yang mengarah ke kantin.

Shine sedikit ketakutan karena dia mengira kalau para murid itu sudah tau tentang cewek yang dekat dengan Sunghoon.

Namun itu salah. Para murid perempuan itu berjalan melalui mereka berdua.

Tae memegang tangan Shine agar Shine tidak bertabrakan dan terdorong.

Tae mengarahkan tubuh kecil Shine di belakang tubuhnya.

Kim Riri

"Bersinar!"

Riri berteriak memanggil Shine yang sebetulnya sudah berada di depannya.

Kim Tae

"Pelankan suaramu, dasar bodoh. Kau seperti toa, kau tahu?"

Shine menggeser tubuhnya agar dapat jelas melihat sahabatnya itu.

Kim Tae

"Gimana? Nemu ceweknya?"

Riri yang tadinya riang, menjadi kesal dan lesu.

Kim Riri

"Nggak ada petunjuk. Kak Sunghoonnya juga nggak ada di perpus."

Kim Tae

"Murid sebanyak itu nggak nemuin petunjuk satu pun?"

Tae berdecak mengejek.

Kim Riri

"Diem lo! Udahlah. Balik yuk Shine. Tinggalin aja badut sirkus ini."

Shine terkekeh geli. Sedangkan Tae mengerutkan dahinya.

Riri menarik tangan Shine dengan semangat untuk menuju ke kelas.

Shine kembali teringat akan susu strawberry dari Sunghoon yang dia tinggalkan di kelas.

Bagaimana kalau Riri melihatnya? Apa yang harus dia katakan?