親友または彼氏

07

Sebuah mobil menghampiri Aera yang sedang menunggu taxi dilobi.

Jendela mobil terbuka dan menampakkan seorang laki - laki dengan topi dan masker diwajahnya. 

"Taxinya mbak?" tawar laki - laki itu.

Aera yang memang menunggu taxi sedari tadi tanpa babibu segera masuk ke dalam mobil. Mobilnya pun segera melaju keluar dari mall.

"Jln. Cendrawasih no 59 ya mas," ujar Aera dan beralih bermain dengan ponselnya.

Supir taxi pun mengangguk dan tetap melaju, sekitar 20 menitan Aera belum juga sampai ke rumahnya. Padahal jarak dari mall ke rumah Aera tidak terlalu jauh.

Aera menyadari ada yang aneh, menghentikan kegiatannya dari membaca wattpad dan beralih melihat jalanan.

"Lho mas, ini bukan jalan ke arah rumah saya," Aera panik karena taxi ini tidak mengantar ke rumahnya, pantas saja dari tadi belum juga sampai ke rumah.

Supir itu menghiraukan perkataan Aera, tapi dapat dilihat dari kaca dalam mobil dia tersenyum.

"Mas jangan main - main sama saya ya, bapak saya tentara kalo nanti tau saya diculik sama mas bisa dijedor lho!" teriak Aera memberi supir taxi itu peringatan.

Supir itu malah tertawa dengan ucapan Aera bahkan tidak ada rasa takut sedikitpun yang tampak dari wajahnya.

"Mas saya telpon polisi ini, om saya polisi anda bisa dipenjara sama om saya!" 

"Kok ketawa sih mas?! saya gak becanda ya ini!"

"Saya lompat keluar ini kalo gak berhenti juga!"

Ancaman yang dilontarkan Aera tidak memberikan efek apapun, justru supir itu terus tertawa mendengarnya.

Aera berhenti sejenak, "Gue kayak pernah denger suara ketawa ini, kok familiar ya?" bisik Aera bertanya pada dirinya.

"Lo siapa woi?! kenapa kayak familiar?!" tanya Aera.

Supir itu akhirnya angkat bicara, "Masa gak tau saya siapa?" ujarnya.

Aera dapat mendengar jelas suara supir itu, sekalipun supir itu menggunakan masker. Aera mengingat kembali siapa orang dengan suara selembut itu? 

Aera mengacak rambutnya frustasi, dan memutuskan untuk membuka paksa masker yang digunakan supir mencurigakan itu.

"Gue buka juga ya masker lo!" tangan Aera bergerak maju dan berusaha membuka maskernya, tapi ditahan.

Tangan itu, lagi - lagi terasa familiar bagi Aera, tapi Aera juga tidak terlalu ingat siapa orang itu. 

"Iya - iya ampun, gue lepas ini maskernya," Supir itu melepaskan maskernya, dan Aera terkejut setelah melihat siapa yang dibalik penculikan abal - abalan ini.

"YEDAM?!" pekik Aera. 

Yedam tertawa melihat reaksi Aera, sedangkan Aera masih shock melihat wujud Yedam didepannya, orang yang ingin dia hindari untuk beberapa hari ini.

Aera kembali memasang wajah datarnya, "Maksud lo apa pake acara nyulik gue begini?" tanya Aera.

Yedam yang mendengar perubahan nada bicara Aera segera menjelaskan alasan dia melakukan hal ini. Yedam meminggirkan mobilnya ke jalanan dan meletakkan kepalanya disetir mobil.

"Maaf Ra, gue tau ini salah tapi gue gatau mau mikir gimana biar gue bisa ngobrol sama lo. Akhir - akhir lo keliatan ngejauh, dan tadi mendadak lo pamit pulang pasti gegara gue kan? Tadi kalo gue gak pake cara ini pasti lo juga gak bakal mau terima tebengan gue, yakan?" jelas Yedam panjang lebar dengan nada lesu.

Aera yang mendengarkan seksama penjelasan Yedam secara tidak langsung menyetujui semua ucapan Yedam. Memang benar, Aera melakukan ini untuk menghindari Yedam.

Aera memainkan jarinya, merasa bersalah setelah menjauhi Yedam tanpa alasan dan membuat Yedam ikut kebingungan dengan sikapnya.

Yedam menghela napas, kemudian beranjak dan keluar dari mobil pindah ke belakang untuk duduk disebelah Aera. 

"Aera," panggil Yedam lembut.

Aera masih menunduk tidak berani menatap Yedam karena akan merasa canggung setelah apa yang terjadi.

Yedam meraih tangan Aera, "Gue mungkin gak sadar salah gue apa, tapi lo jangan gini Ra, kalo gue ada salah kasih tau gue. Gue gak bisa kalo harus jauh - jauhan gini sama lo, sakit rasanya," 

Mata Aera berair dan terasa sembab setelah mendengar tuturan Yedam. Jujur saja Aera juga tidak tahan jika harus menjauhi Yedam dengan cara seperti ini.

Yedam dapat melihat bahu Aera bergetar, "Ra, gue peluk lo boleh ya?" diikuti anggukan pelan dari Aera.

Yedam mengelus pelan pucuk kepala Aera sembari berkata, "Lo boleh nangis dipundak gue, jangan lo tahan Ra," 

Tangisan Aera pun pecah dipelukan Yedam, mendengar tangisan Aera Yedam juga ikut merasakan sakit dan matanya sembab.

"Jangan gini lagi ya Ra? gue gak bisa, mau baikan gak?" tanya Yedam dan Aera mengangguk dengan pasti tapi dengan posisi masih dipelukan Yedam 

Aera melepaskan pelukannya, Yedam menangkup wajah Aera dan mengelap air mata yang membasahi wajah gadis itu dengan tangannya.

"Cup cup, gak boleh nangis lagi nanti tambah jelek," ujar Yedam mencairkan suasana haru diantara mereka dan mendapat pukulan dari Aera setelah mengejeknya.

Aera cemberut dan Yedam malah menarik bibirnya Aera, "Gak usah cemberut gitu, ntar gue cium tau rasa lo,"

Aera melotot, "YEDAM!?" pekik Aera.

Yedam tertawa melihat ekspresi kaget Aera, "Gue bercanda Raa, yakalii" 

"Besok aja kalo udah official,"—batin Yedam.


Yedam mencubit pipi Aera pelan, "Yaudah, sekarang mau gak jalan - jalan?"

Aera melihat keluar dan langit mulai terlihat gelap karena matahari mulai terbenam, "Tapi ini udah mau malem dan kita masih pake baju sekolah," 

"Iya juga sih, tapi nanti kalo bunda liat gue anter pulang anaknya matanya sembab gini bisa kena omel dong," 

Aera nampak berpikir sebentar, "Yaudah kita jalan - jalan bentar deh, cari makan sekalian gue laper nih," ujar Aera.

Aera mengeluarkan ponselnya hendak mengabari bundanya bahwa dia dan Yedam akan berkeliling sebentar sebelum pulang.

"Eh mau ngapain?"

"Ngabarin bunda, nanti bunda khawatir,"

Tangan Aera dicegah, "Gue udah ngabarin bunda daritadi dimall, kalo gue mau nyulik anaknya bentar sampe jam 8," 

Aera melirik tajam, "Gila ya lo udah terencana banget dari awal," Yedam cuma cengengesan mendengar balasan Aera.

Yedam menggandeng tangan Aera dan mengajaknya berpindah ke depan, Yedam membukakan pintu mobil untuk Aera.

"Silahkan masuk tuan putri," ujarnya.

Aera tampak tersipu setelah itu masuk ke dalam mobil, Yedam juga segera masuk ke mobil dan melajukannya menuju taman kota.

"Dam, emang pacar baru lo itu gak marah?"

Yedam sempat melupakan satu hal, Sooyeon telah memperkenalkan dirinya sebagai pacar Yedam didepan Aera.

Yedam menggaruk tengkuknya "Ah itu, engga dia mah biasa aja tau kok dia kalo lo sahabat gue," terang Yedam.

Yedam sudah tidak tau harus membalas apa dan Aera sebenarnya masih ingin bertanya banyak hal mengenai bagaimana Yedam dekat dengan gadis ular itu. Aera takut nantinya Yedam akan sakit hati setelah mengetahui sifat aslinya, karena bisa jadi Yedam memang menyukai gadis itu.

Dan setelah dipikir - pikir, Aera akan mengurungkan niatnya dulu sekarang, karena dia baru saja berbaikan dengan Yedam. Masa iya harus berantem lagi? tidak mungkin.

Mobil Yedam pun berhenti dan terparkir rapi diparkiran taman kota, mereka turun bersamaan dan berjalan menuju pedagang kaki lima disana.

"Makan dulu yuk, tadi katanya lo laper kan?" 

Aera mengangguk, Yedam berjalan lebih dulu untuk memesan pecel lele dua porsi. Aera mencari tempat duduk, seperti biasanya.

"Mang, pecel lele dua porsi kayak biasa disamain aja," ujar Yedam, penjual pecel lele itu adalah teman Ayahnya maka dari itu dia mengenalnya.

"Oke siap Dam, tumben bawa cewek nih siapa tuh?" goda Mang Oleh. 

Yedam berbisik ke telinga Mang oleh, "Calon pacar mang, doain ya," dan dari jauh Aera memperhatikan interaksi Yedam dan Mang Oleh ikut tersenyum. 

Mang Oleh mengangguk paham, "Pastilah, kabarin ya kalo udah jadian Dam," Yedam mengacungkan jempol.

"Yaudah mang, Yedam kesana dulu ya," Yedam berjalan ke arah Aera yang sibuk memainkan sedotan.

バン・イェダムのファンに人気のストーリー