"Park Chanyeol!"
“Ya, bagaimana, ya?” Aku tidak melihat sedikit pun rasa menyesal terpancar dalam wajahnya, malahan wajah itu kentara sekali tengah mencari pembelaan. “Ah, kau tahu kan Jongdae kalau kita masih kuliah, sebentar lagi ulangan semester dan kita harus mulai serius belajar. Aku hanya tak ingin masa depanmu hancur karena mengurus makhluk didalam tubuhmu itu,” ucapnya dengan ringan, seakan apa yang kita lakukan itu untuk masa depan, seperti halnya belajar! Pembohong! Aku bahkan jarang sekali melihatnya membaca buku!
Aku menatap cuku Chanyeol lama, telingaku rasanya panas dan berdengung. Jiwaku seakan tak lagi berada ditempatnya—reaksi tubuhku adalah terkejut ketika tanpa aba-aba dia menyentuh wajahku. “Dengar, aku begitu mencintaimu, Dae. Mungkin ini akan terdengar kejam, tapi aku melakukan ini semua demi kamu. Demi, Tuhan. Semua yang aku lakukan adalah untuk kebaikanmu.”
Chanyeol mendekatkan wajahnya padaku, ia memejamkan matanya; ingin menciumku. Namun sekali tidak, ini sudah cukup, aku bukan orang bodoh yang akan dengan senang hati dikelabui untuk yang kesekian kalinya. Tubuh kamu masih sama-sama telanjang ketika dengan tenaga penuh aku mendorong dadanya menjauh. “Kamu tidak mencintaiku, Chan!” Aku menatap wajah Chanyeol datar. Iris itu terbuka menyelidik. “Benci sekali mengatakan ini, tapi aku akhirnya sadar kamu hanya mempermainkanku, kamu itu sosiopat! Kamu bukan manusia!” Pada saat itu, aku benar-benar mencurahkan kekesalanku, aku terus memukuli dadanya brutal, benar-benar muak dengan diriku sendiri sampai rasanya mau mati. “Kamu tidak memiliki hati!”
“Kenapa kamu bisa mengatakan hal kejam seperti itu, Dae?” ucap Chanyeol tak percaya. Ia menjauhkan wajahnya. “Aku mencintaim—”
“Kalau kamu mencintaiku kamu tidak akan merusakku sejak awal!” Aku berteriak. Dadaku naik turun akibat amarah, aku benci mengatakan ini.
Senyum itu kembali terbit diwajah tampan tanpa celanya, senyum yang biasanya selalu kupuja juga kutakuti, senyum yang benar-benar mempesona. “Bukankah kamu juga suka aku rusak, ya?” simpulnya enteng. “Kamu tidak pernah benar-benar menolak semua perlakuan yang aku lakukan, kamu juga menikmatinya.”
Sekarang aku menyalahkan diriku yang lemah ini.
Semua, apa yang Chanyeol katakan tak sepenuhnya benar, namun hati kecilku pun tak membantah perkataan itu. Apa orang jahat di cerita ini adalah aku? Jadi aku yang pantas dibenci oleh semua orang?
“Kim Jongdae,” panggil Chanyeol seduktif, “kenapa sekarang kamu berani membantahku? Kenapa sekarang kau melimpahkan kesalahan hanya padaku? Apa itu karena kamu tak lagi cinta, ya?”
Benar, aku juga bersalah di sini.
“Apa karena sepupumu itu?” Wajah Chanyeol mengeras. “Jawab aku! Kenapa kamu jadi bisu ketika tadi kamu berani meneriakiku?” Chanyeol, wajah lelaki itu sekarang benar-benar sangat dekat dengan tengkukku hingga rasanya aku dapat merasakan embusan napas hangatnya. Rasanya seluruh tubuhku membeku ketakutan, ancaman, seekor harimau tengah tepat berada didepan wajahku saat ini. “Takut?”
Aku menggeleng. Lidahku rasanya kelu, leher bagian belakangku seperti dipukuli palu dengan keras, dan perasaanku teraduk tak karuan. Aku benci perasaan ini! Situasi ini! Park Chanyeol, benci-benci-benci!
“Silakan!"
Aku refleks melindungi wajahku dengan lengan ketika tiba-tiba Chanyeol mengangkat tangannya tinggi; untuk menamparku. Tubuhku bergetar hebat, aku tahu malam ini Chanyeol benar-benar murka atas pemberontakan yang aku layangkan. Meski tak kurasakan tamparan itu pada wajah atau bagian tubuh lain. Sekujur tubuhku tetap saja bergetar takut tak karuan.
Aku takut. Benar-benar takut.
Takut pada seseorang yang aku cintai.
Meski sudah terbiasa, tetapi aku tidak pernah siap. Tidak akan pernah.
Aku memberanikan diri mengintip ketika mendengar suara tawanya meledak. Tawa yang begitu kusuka hingga membuatku mengoleksinya. Tawa yang hangat dan renyah, itu yang orang-orang tahu, kecuali apa yang aku ketahui.
Dengan sadar aku meraba kasur disekitarku; mencari ponsel. Namun, kedua tanganku harus kembali dengan kosong. “Chan, aku—” Aku hampir berteriak ketika tiba-tiba Chanyeol memelukku dan mencium keningku lama dan dalam. Hingga rasanya dahiku batas oleh kecupannya.
Setelah itu, ia memungut pakaiannya dan meninggalkanku sendiri dikamar ini.
🥀🥀
A
ku masih ingat ketika tak lama setelah Chanyeol meninggalkanku di kamar, dia kembali dengan nampan makanan. Mengatakan memberikanku sedikit waktu berpikir untuk mengugurkan janin ini sebelum besok pagi dia membuka pintu kamar ini dan menagih jawabanku.
Awalnya aku adalah sosok yang seperti itu, polos—meski sekarang lebih sering dibodoh-bodohi oleh pacarku sendiri—pemberani, hangat, dan seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Sampai pada suatu ketika aku merasakan yang namanya jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Cinta yang berhasil aku genggam hingga saat ini.
Aku tidak tahu ini jam berapa ketika sejak semalam aku hanya berdiam diri didepan jendela—memandang keluar—dengan pikiran kosong. Ada banyak hal yang aku pikirkan, ayah, ibu, keluarga besar, teman-teman, cita-citaku, dan makhluk mungil tak bernama didalam perutku ini. Rasanya aneh sekali ketika setiap pagi aku mengisi perut dengan roti atau nasi ketika cacing-cacing didalam sana meronta kelaparan, lalu membuangnya lewat dubur, tapi sekarang, tiba-tiba saja ada sesuatu di dalam sini, sesuatu yang hidup dan bergerak, setiap menitnya berkembang menjadi besar, membuat perutku yang tak pernah buncit meski memakan 10 piring ramyeon sendirian itu kini membesar.
Kemarin, dengan sabar aku meyakinkan diriku bahwa ini hanya mimpi buruk, mimpi buruk yang akan segera sirna begitu aku terbangun. Jadi didalam mimpi itu aku mencari semua benda, melakukan semua hal yang membuatku dapat terbangun dengan cara apa pun meskipun itu akan menyakiti diriku sendiri. Namun begitu aku tertidur dan terbangun didalam sesuatu yang kukira mimpi itu, seketika aku sadar. Bahwa mimpi buruk yang kukira mimpi itu adalah kenyataan, sementara mimpi indah yang kukira kenyataan itu adalah mimpi sebenarnya.
Dilema menyerbuku dalam berbagai arah dalam satu waktu. Disatu sisi, aku tak ingin mengecewakan Chanyeol, aku mencintainya, begitu bodoh meski aku tahu seberapa beracunnya dia dikehidupanku. Namun, disisi lain aku juga ingin mempertahankan janin ini. Dia tak salah apa-apa, kami sebagai calon orang tuanya lah yang bersalah, meski aku tak merencanakan kehadirannya, bukan berarti dia anak tak diinginkan. Dia yang belum terbentuk dengan sempurna ini juga pantas hidup dan bahagia sepertiku, dia pantas mendapatkan kasih sayang.
Aku menghela napas lelah, mengelus perut yang masih datar ini. “Aku harus memilih siapa diantara kalian?” Usianya baru satu setengah bulan. Tidak ada yang tahu keberadaannya kecuali aku, Chanyeol, dan Tuhan—
Tuhan ...?
Tengkukku tiba-tiba merinding, perasaanku tak enak. “Apa Tuhan marah padaku?” Sekarang aku kian binggung. “Kalau aku memilih Chanyeol, artinya aku pembunuh, 'kan?” Aku tidak ingin menjadi pembunuh! Aku bukan pembunuh keji seperti itu, aku tidak dibesarkan dengan cara seperti itu!
Aku berjengkit kaget ketika pintu kamar tiba-tiba dibuka. Menampakkan sosok menjulang Chanyeol yang masuk dengan pakaian rapi dan nampan makanan. Senyum itu jelas dipaksakan, mencubit sisi lain hatiku yang terluka karenanya, memaksaku keluar dari harapan kekenyataan yang menyakitkan.
“Selamat pagi,“Dae,” teriak Chanyeol.
Aku tak menjawab, seluruh tubuhku kaku. Aku belum membuat keput—
“Bagaimana kabar sesuatu yang ada di dalam perutmu itu?”
Seluruh persendianku menegang, rasanya seperti ada jutaan milyar wolt listrik mengaliri darah.
Chanyeol duduk di sebelahku. Secara refleks aku mundur, mataku tak pernah lepas dari gerak-geriknya, yang setiap inci darinya tampak seperti ancaman bagiku.
“Hei, kenapa diam saja?” Tangan Chanyeol terulur pada wajahku. Tanpa sadar, aku menampik tangan itu kasar. Membuat keterkejutan begitu jelas pada wajahnya.
“A-aku ....” Sorot mataku tak bisa lepas dari iris Chanyeol. “A-dia baik-baik saja.”
Mataku melebar ketika Chanyeol menyentuh perutku. Aku menelan ludah kasar, tiba-tiba perutku terasa diaduk dan kepalaku pusing. Pandangan Chanyeol tak berkedip melihat perutku yang terbungkus kardigan semalam. “Dia belum tumbuh dengan besar, ya?” gumam Chanyeol.
Aku tersenyum dalam hati. Apakah ini arti keajaiban?
“Kalau dibunuh dia tak akan terlalu banyak menyusahkanmu, 'kan?” lanjutnya yang langsung membuat jantungku seakan berhenti berdetak. “Aku tadi malam mencari"Dan aku baru saja mengetahui bahwa menggugurkan kehamilan merupakan risiko besar bagi keselamatan ibu. Untungnya, janin di dalam perutmu belum terlalu besar, jadi meskipun dikeluarkan, itu tidak akan menjadi masalah besar bagimu."
Air mataku sudah mengenang tak karuan. Seharusnya aku tak boleh terlalu banyak berharap pada sosiopat sepertinya!
“Apa keputusan yang kamu ambil, Kim Jongdae?” tanya Chanyeol. Menyedot seluruh kesadaranku. “Aku tahu kamu tak akan mengecewakanku.” Chanyeol lagi-lagi tersenyum. Entah kenapa aku kini mulai membenci senyum itu, rasanya ingin sekali mencincangnya saat ini juga dengan seluruh kekuatanku.
Tangan Chanyeol terulur mengelus rambutku. Senyum itu masih betah diwajahnya. Aku menarik napas. “Iya.” Aku memberi jeda. “Kali ini aku tak akan mengecewakan diriku lagi!”
Entah keberanian itu datang dari mana, aku mendorong nampan makanan yang Chanyeol bawa hingga berhamburan dilantai. Sepasang iris itu tampak syok melihat apa yang aku lakukan, berkali-kali ia menatap makanan itu dan aku.
Aku berdiri, beranjak dari ranjang, berjalan melewati pecahan piring tanpa mempedulikan kakiku yang akan terluka. Aku meringis ketika kakiku tak sengaja menginjak beling. Namun, apa peduliku! Ada hal yang lebih penting saat ini; pergi sejauh mungkin dari Park Chanyeol.
Pintu seakan lari menjauh ketika pergelangan tanganku Chanyeol cengkeram. “Aku pikir kamu mencintaiku.”
Aku masih bisa mendengar kata-kata lirih Chanyeol. Aku tertawa lepas, sekuat tenaga menyentak tangannya. Tanganku terlepas ketika aku balik menatap manik itu. “Aku juga berpikir kamu mencintaiku!” teriakku membalikkan kata-katanya. “Kamu sakit!”
Kepalaku seperti terpelanting ketika Chanyeol kembali menamparku, hehehe telapak tangannya bahkan lebih besar daripada wajahku, rasanya seperti dihantam dengan karung berisi pasir. Aku meringis, air mata itu kembali jatuh. Meski berulang kali menguatkan dalam hati bahwa aku pemuda kuat. Tetapi, itu seperti tak ada gunanya, pada akhirnya semesta memang menciptakanku lemah. Beginilah nasibku.
"Kita sudah sangat terlambat," kata Chanyeol pelan, sambil melirik arlojinya dengan cemas.
Aku menggeleng untuk menetralkan rasa pusingku. Disaat yang bersamaan Chanyeol mengendongku dan berjalan dengan cepat menuju pintu utama. Berulang kali ia mengumamkan kata cinta—yang terdengar palsu ditelingaku.
Chanyeol mendudukkanku di motornya, memakaikanku helm, menuntun tanganku untuk memeluk punggung tegapnya. “Peluk aku, aku tak ingin kamu jatuh dan terluka.” Chanyeol memakai helmnya sendiri dan bersiap menghidupkan mesin.
Udara yang masih amat dingin dengan embun yang menetes didedaunan membuatku berpikir bahwa saat ini mungkin masih pukul 6 pagi. “Kita mau ke mana?” binggungku.
“Ke suatu tempat yang akan menyelesaikan masalah kita.”
“Di mana itu?” Hati kecilku mengatakan yang sebaliknya dengan apa yang Chanyeol ucapkan.
Alih-alih menjawab, Chanyeol justru turun dari motornya. Ia berjongkok di bawahku; memandangi kaki tanpa alas yang sedikit mengeluarkan darah.
“Kakimu tak apa?” Chanyeol mengeluarkan sapu tangan dari balik saku celananya. Mengelap darah itu perlahan. Aku meringis ketika Chanyeol tak sengaja menyentuh kulitku yang robek. Ia membebat luka itu dengan sapu tangannya. “Di sana pasti ada perban dan antiseptik.” Chanyeol mengelus rambutku. Ia tersenyum tipis. “Bersabarlah, aku akan segera mengobatimu.”
Setelah Chanyeol memakaikan sepatuku. Kami benar-benar keluar dari kompleks perumahan itu. Sepanjang perjalanan pikiranku hanya dipenuhi tentang ke mana Chanyeol akan membawaku pergi. Aku meneliti setiap bangunan yang ada, mengira-ngira apakah aku pernah melewati jalanan itu, sementara mulutku terkunci rapat meskipun itu untuk menanyakan tujuan kami karena aku khawatir jawaban yang kudapat nanti tak sesuai ekspektasiku yang sudah membumbung tinggi ini. Kakiku terluka dan Chanyeol mengkhawatirkannya, ada perban dan antiseptik di sana, jadi bukankah sudah sangat jelas bahwa tujuan kita adalah rumah sakit. Rasanya dadaku kembali dipenuhi harapan. Tapi kembali lagi kekenyataan, di dunia ini ada banyak sekali jenis rumah sakit.
Punggung yang biasanya menjadi tempat ternyamanku untuk tertidur kini seakan berubah keras layaknya batu kerang yang dingin. Aku memandang punggung itu sendu, tidak tahu keputusan apa yang akan aku ambil. Semuanya sangat membingungkan, bahkan meski waktu yang kumiliki adalah 100 tahun, aku tetap tak yakin bahwa keputusan itu akan keluar dengan mudah.
Mengalihkan wajah dari punggung Chanyeol yang jauh lebih tinggi dari wajahku. Aku membuka kaca helmku. Merasakan semilir angin pagi menerpa wajah mengantukku. Kembali mengamati bangunan serta kendaraan lain yang—
Toko bubble tea milik Jungyeol?
Kilas balik.
“Kau tahu, Dae?”
“Tidak tahu, tuh.”
“Ck, dengarkan aku dulu.”
“1 gelas bubble tea untuk mendengarkan gosipmu.”
"Dingin!"
“Jadi?”
“Beberapa blok dari sini, ada klinik aborsi yang telah legal. Mereka mengumumkan itu setelah pemerintah melegalkan aborsi di negara kita.”
“Uh, kenapa kamu memberitahuku hal seperti ini? Tidak berguna sekali.”
“Bergosip saja, kebijakan baru ini tengah ramai diperbincangkan dalam situs Pann tahu!”
Akhir kilas balik.
Perutku rasanya teraduk, lalu mual itu datang tak lama ketika ingat apa yang Jungyeol katakan 3 bulan yang lalu. Takut-takut aku melirik wajah Chanyeol. Dia tak akan melakukan itu padaku, 'kan?
Tetapi, bagaimana dengan apa yang dia katakan di rumah tadi! Rasa-rasanya aku akan gila, memilih melompat dari motor yang tengah melaju kencang dan berguling konyol diatas aspal lalu jika sial akan langsung terlindas mobil dan mati dengan konyol saat itu juga.
Motor Chanyeol memasuki sebuah klinik kecil dan berhenti di area parkiran. Kepalaku rasanya mau pecah ketika membayangkan yang akan menimpaku. Karena itu adalah tempat yang pernah Jungyeol katakan.
“Ini tempat apa?” Aku tak lagi dapat menyembunyikan rasa keingintahuanku. Aku ingin Chanyeol jujur!
“Lukamu harus segera diobati,” jawab Chanyeol cepat tanpa mengalihkan perhatiannya pada klinik tersebut.
Chanyeol melepas helmnya ketika dengan tertatih aku turun dari motor itu. Melepas helmku lebih dulu dan mendorong motor itu hingga menimpa tubuh Chanyeol.
"Kim Jongdae!"
Aku menutup kedua telingaku erat ketika teriakan Chanyeol memekakkan telinga hingga membuat siapa pun yang berada di sana menoleh bingung. Itu bagus karena jadi memaksa kakiku yang nyeri untuk terus berlari menjauhinya. Aku tidak tahu apakah dia mengejarku atau tidak. Tapi, aku tahu beberapa orang datang untuk membantunya berdiri.
Mataku nyalang diantara kendaraan yang berlalu-lalang. Tanganku refleks langsung menyetop taksi dan masuk ke dalam tanpa permisi. “Tolong antarkan saya ke alamat ini,” mintaku dengan suara bergetar. Aku memperlihatkan gelang dengan ukiran alamat rumahku.
Supir taksi—laki-laki— yang kira-kira memasuki usia 40 akhir itu mengangguk. Aku menyandarkan punggungku dan bernapas lega ketika taksi itu berjalan menjauhi klinik tersebut.
Aku mengusap wajah kasar, air mataku tumpah banyak sekali hanya dalam beberapa menit. Aku meraba-raba saku untuk mencari ponsel, namun ketika aku menemukan benda itu, ia sudah mati kehabisan daya.
Aku menghela napas berat. Apakah keputusan ini benar? Aku mempertahankan janin yang kemungkinan besar akan menjadi penghalang dalam hidupku seperti yang dikatakan Chanyeol? Lalu bagaimana dengan orang tuaku? Aku anak bungsu, mereka pasti kecewa, mereka selalu membanggakan aku.
Bagaimana kalau ternyata keputusan yang aku ambil ini salah?
“Maaf, Dik. Kita sudah sampai.”
Aku menggeleng kuat. Tidak! Aku tidak boleh terpengaruh dengan ucapan Chanyeol. Aku sudah memutuskan untuk tidak menjadi pembunuh darah dagingku sendiri. Dia pantas bahagia meskipun itu harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri.
“Kita sudah sampai, Dik.”
Aku menoleh pada sosok yang duduk dikursi kemudi. Memberi gesture membungkuk sebelum memberikan beberapa lembar won. “Terima kasih banyak, Pak,” ucapku ketika taksi itu sudah akan berlalu pergi.
Aku berjalan ke rumah dengan lesu. Banyak hal yang terjadi beberapa jam terakhir ini. Dan sekarang aku sudah harus memberi alasan logis pada Ayah dan Ibu mengapa semalam aku tak pulang, juga mencari waktu yang tepat untuk mengatakan posisiku sekarang yang tengah berbadan dua, dan itu tidak akan mudah mengingat aku yang masih duduk disemester 2.
Aku membuka pintu, sedikit heran ketika pagi hari yang biasanya selalu ramai dengan perdebatan kecil Ayah dan Ibu, namun kali ini bahkan lampu dan gorden dalam keadaan mati dan tertutup. Aku melepas sepatuku didepan pintu dan menggantinya dengan sandal rumah.
“Appa! Eomma!” teriakku memanggil mereka. Aku berjalan menuju kulkas, mengambil sebotol air dingin dan meneguknya hingga tinggal tersisa setengah. Bernapas lega ketika cairan bening itu dapat meredakan rasa laparku.
Aku kembali mengobrak-abrik isi kulkas; mencari apa pun yang dapatku makan dengan segera tanpa harus repot memasaknya dulu. “Roti sudah cukup,” ujarku senang ketika mendapati roti gandum dan setoples kecil slei cokelat.
Aku menutup kulkas, membawa roti dan slei itu ke atas meja dan langsung memakannya dalam diam. Setiap kali aku menelan roti itu, energiku yang terisi membuat kerja otakku jauh lebih waras. Aku tersenyum, merasa tersentuh dengan rasa manis yang lidahku cecap.
Meski sempat heran mengapa Ayah dan Ibu tak kunjung turun, tapi aku cukup lega dengan suasana sunyi ini, setidaknya aku masih memiliki lebih banyak waktu mempersiapkan diri sebelum berkata jujur.
Dengan sadar, aku mengelus perut datar yang jadi tempat tinggal sementaranya ini. “Maaf, ya, Muda,” sesalku. Ketika mengingat bahwa dia mungkin akan lahir tanpa sosok seorang ayah, tidak apa, kan ada aku yang juga bisa menjadi ayahnya. Meski akan banyak kesulitan yang dia hadapi ketika lahir kelak, tapi aku akan memastikan dia tak kekurangan kasih sayang. Air mata itu kembali mengalir, kali ini lebih sesak dan perih, rasanya aku ingin mengulangi apa yang seharusnya tidak aku lakukan.
“Tidak perlu bersedih, oke?” Aku berbicara optimis pada janin itu; menyemangati diri sendiri. “Sekarang kamu aman ....” Senyum yang terpatri diwajahku itu hanya bertahan sepersekian detik sebelum akhirnya aku melihat sosok itu tengah berdiri menyandar dengan tangan bersedekap, menatap keberadaanku remeh.
Tepat ketika Chanyeol tersenyum. Aku beranjak dari tempatku dan segera lari naik ke atas kamarku.
Chanyeol mengejar. Aku mempercepat langkah dengan tangan terkepal didepan dada. Detak jantungku seakan menggila, otakku terus menerus mengirim sinyal bahaya. “Ash!” Kakiku terkilir dan membuatku jatuh terjerembab. Aku dapat merasakan Chanyeol berdiri didepanku. Dengan sedikit keberanian yang berhasil aku kais, aku menatap wajahnya. “Pergi!”
“Tidak akan sebelum makhluk itu mati,” tegasnya. Chanyeol berjongkok dan langsung menyeretku kasar.
“Eomma!” Aku berteriak memanggil Ibuku. “Ayah!” Namun, mereka tak kunjung datang. Seakan mereka memang tengah tak ada di rumah ini.
Chanyeol terkekeh, “Mereka menitipkanmu padaku.”
Aku berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman tangan Chanyeol justru semakin mengerat. “Lepas, ini sakit!”
Chanyeol mendudukkanku ditempatku tadi, dia mengambil segelas air dan membuka botol kecil yang ia keluarkan dari dalam saku jaketnya. Dadaku berdebar ketika Chanyeol mengeluarkan 3 bulir obat berwarna hijau dengan bentuk bulat itu. Aku sama sekali tak merasakan kebaikan dalam obat-obatan itu.
Chanyeol mengambil 3 bulir obat itu dalam sekali genggam, memaksaku membuka mulut demi memasukkan obat yang takku tahu apa fungsinya.
“Buka mulut kucingmu, Dae!” bentaknya.
Aku menggeleng kuat, mulutku Chanyeol paksa terbuka dan itu sakit. Aku tidak tahu apa yang akan Chanyeol lakukan ketika ia justru memasukkan obat-obat itu ke dalam mulutnya. Satu cengkeraman tangan Chanyeol pada rahangku terlepas, beralih pada tengkukku. Wajahnya mendekati wajahku, menempelkan bibirnya dan memaksaku menelan apa yang ia masukkan kedalam mulutku melalui mulutnya.
Lidahku berusaha menolak dan mendorong keluar, sedangkan lidah Chanyeol mendorong masuk. Namun, rasa pahit obat itu menyadarkanku bahwa obat itu sudah mulai mencair dan masuk kedalam tubuhku.
Lagi-lagi air mataku keluar sia-sia.
Chanyeol menjauhkan wajahnya. Mataku berkabut dan kepalaku semakin pusing. Meski samar, aku dapat melihat Chanyeol yang tersenyum dengan rasa penyesalan. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi ketika kabut hitam itu mulai merengkuh kesadaranku dengan seseorang yang memeluk tubuhku.
🥀🥀🥀
